Sabtu, 14 Mei 2011

Asal Usul Kota Solok


Semuanya berawal ketika dahulunya nenek moyang kita yang berasal dari kaki Gunung Merapi tepatnya daerah Pariangan (daerah tertua di Minangkabau) yang terletak di daerah Batusangkar, sedang melakukan perjalanan untuk menambah daerah kekuasaan atau pergi “merantau”. Karena sudah menjadi adat atau kebiasaan yang turun temurun bagi orang Minangkabau asli, khususnya bagi kaum laki-laki. Bagi mereka merantau menjadi suatu kebanggaan tersendiri karena apabila nantinya mereka berhasil/sukses di rantau tersebut, bisa mengangkat derajat keluarga yang di tinggalkan, termasuk daerah asalnya.
Selama perjalanan inilah mereka menemukan sebuah daerah yang di kelilingi oleh lembah dan memiliki pemandangan yang indah, daerah yang subur dan banyak di tumbuhi oleh berbagai pepohonan, sehingga terlontar kata-kata “nagari nan elok” oleh para perantau tersebut. Dari situlah daerah ini di kenal dengan nama “Solok”. Namun secara harfiah, Solok sebenarnya diartikan sebagai daerah lembah yang di kelilingi oleh bukit.
Karena merasa sudah mendapatkan daerah baru, maka mulailah banyak berdatangan perantau-perantau lainnya ke daerah tersebut, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka daerah ini berkembang pesat, hal ini di dukung dengan tanah yang subur dan cocok untuk menanam padi. Sehingga daerah ini juga terkenal dengan “Beras Solok”nya yang bisa membangkitkan selera makan.
Karena pertumbuhan penduduknya yang semakin pesat, warga Solok sendiri juga banyak yang merantau lagi ke daerah lain. Dan sekarang Solok termasuk salah satu kota di Provinsi Sumatera Barat

Jumat, 13 Mei 2011

Sejarah Painan


Painan memang hanya sebuah lekuk. Sekitar tahun 1700-an pelaut-pelaut Bugis banyak berdatangan ke sini. Bermukim, menciptakan hidup. Ada beberapa yang kimpoi dengan penduduk asli. Di Painan akan kita temukan beberapa orang peranakannya.

Mungkin saja. Karena Painan-dan beberapa kota kecil lain di Pesisir itu seperti Salido dan Indrapura yang terletak lebih ke selatan memang terkenal sebagai Bandar-bandar transit sejak dahulu. Di lepas
pantai Samudra Hindia, di pulau cingkuk misalnya ada berdiri sebuah benteng Belanda.

Pelaut-pelaut Bugis yang datang ke situ punya kapal-kapal besar, bagan dan pukat yang lebih mutakhir. Nelayan-nelayan pribumi kalah saing. Dan di sekitar tahun 70-an itu pelaut-peluat Bugis yang terkenal handal itu mulai menyusut kehadirannya di kota kecil itu.
Dan bahkan mulai terkikis habis. Entah peristiwa apa yang menyertainya. Beberapa orang mencatat, ada bentrok terjadi. Kapal-kapal Bugis dibakar penduduk asli di lepas pantai.

Walaupun begitu, Painan tetap menawan dengan alamnya yang elok. Tapi Painan, kota kecil yang menawan itu, acap tak banyak memberi peruntungan. Seperti daerah lain di ranah ini banyak orang yang bertolak. Meninggalkan keindahan dan keelokan itu. Seperti sajak Takdir, "aku tinggalkan tasik yang tenang tiada beriak".

Painan memang kota yang tenang. Ombak pantainya lembut tak berdebur
seperti ombak Pantai Purus. Mungkin lebih tepatnya kota ini lamban.
Ia mendekati kota mati. Di hari sabtu, kota ini akan tambah sepi.
Anak-anak sekolah biasanya telah pulang ke daerah-daerah pinggiran
painan. ke Bayang, Tarusan, Batangkapeh, Kambang, Belaisalasa, ...

Sejarah Kabupaten 50 Kota Kabanyo


Sejarah Kabupaten 50 Kota Kabanyo

MENURUT tukang kaba, sebutan dalam bahasa Minangkabau bagi penutur cerita, dalam salah satu
tambo-cerita historis tentang asal-usul dan silsilah nenek moyang orang Minangkabau di Sumatera
Barat terdapat sebuah kerajaan Pariangan yang dipimpin oleh Datuak Bandaro Kayo. Ia memiliki
saudara seayah bernama Datuak Ketumanggungan dan Datuak Perpatih Nan Sabatang. Suatu hari, kedua saudara ini bertemu Datuak Bandaryo Kayo guna membicarakan masalah kepadatan penduduk di kerajaantersebut. Dalam pertemuan itu disepakati untuk memindahkan sebagian penduduk kerajaan ke daerahpermukiman baru.

Setelah mengetahui daerah-daerah yang akan dijadikan permukiman baru, mulailah pemindahan sebagian penduduk ke tiga arah yakni Utara, Barat, dan Timur. Daerah permukiman baru di sebelah Barat kemudian diberi nama Luhak (daerah) Agam. Daerah sebelah Timur dinamakan Luhak Tanah Datar.
Sementara itu, Datuak Sri Maharajo Nan Banego memimpin 50 orang menuju ke arah utara, daerah
Payakumbuh. Tempat ini kemudian dikenal dengan nama Luhak 50 koto

Asal usul Muaro Labuah (Alam Surambi Sungai Pagu)


Setelah diadakan penelitian langsung maupun tidak langsung ke beberapa daerah di Minangkabau, antara lain Luhak Nan Tiga dan Rantau dapat dikatakan, bahwa terjadinya alam Minangkabau pada mulanya, ialah sebagai berikut:

1. Datangnya sekelompok manusia yang mengembara untuk Mencari tempat
untuk berdiam dan kebutuhan hidup
2. Mulai menetap dan mendirikan teratak
3. Dan teratak berkembanga menjadi dusun
4. Selanjutnya dan dusun terbentuk koto
5. Akhirnya dan koto terjadilah nagari. Dalam perkembangan selanjutnya timbullah kesatuan-kesatuan geografis, sosial ekonomis, politis dan kulturil yang disebut Darek dan Rantau. Yang termasuk daerah-daerah itu, ialah daerah Luhak Nan Tigo, yaitu Luhak Tanah Datar, Luhak Agam dan Luhak Lima Puluh Kota.

Luhak Nan Tigo merupakan inti alam Minangkabau.

Setelah masyarakat di daerah Luhak Nan Tigo makin berkembang juga, sebahagian mereka berpindah-pindah kedaerah lain menecari tanah baru, yang memungkinkan mereka mencari penghidupan baru. Daerah yang baru mi disebut Rantau. Selain dan daerah Luhak Nan Tigo itu disebut Rantau Minangkabau.

Dari keterangan di atas, jelas bagi kita bahwa yang dikatakan alam Minangkabau itu tendiri dan Luhak dan Rantau.

Daerah sungai. Pagu terletak dalam Kabupaten Solok bagian Selatan (sekarang merupakan kabupaten solok selatan), dengan demikian alam Surambi Sungai Pagu termasuk daerah Rantau. Ini berarti alam Surambi Sungai Pagu termasuk dalam daerah alam Minangkabau.

Darwis Thaib Dt. Bandaro, mengemukakan, bahwa:
“Sungai Pagu Surambi alam Minangkabau”

Selanjutnya pendapat dan ahli-ahli. adat di Sungai Pagu sendiri yang mengatakan, bahwa alam Surambi Sungai Pagu mempunyai keturunan ke Pesisir, yaitu daerah Bandar X.
Pengertian Surambi di sini, ialah Sungai Pagu yang mempunyai Surambi; surambinya daerah Pesisir itu sendiri.

Untuk jelasnya mana yang betul dan kedua pendapat ini, baiklah ditiajau terlebih dahulu bagaimana asal mulanya dan perkembangan daerah Sungai Pagu.

Asal-usul / Perkembangan penduduk
Dalam pemerintahan Kabupaten Solok, Propinsi Sumatra Barat terdapat suatu daerah dengan nama Kecamatan Sungai Pagu dengan ibu kota kecamatannya Muara Labuh.
Kecamatan ini terdiri dan dua nagari, yaitu:

a. Nagari Pasir Talang
b. Nagari Kota Baru

Menurut letak geografisnya daerah ini berbatas:
· sebelah Timur dengan Kecamatan Sangir/Lubuk Gadang
· sebelah Selatan dengan gunung Kerinci
· sebelah Barat dengan Bukit Barisan
· sebelah Utara dengan kecarnatan Pantai Cermin/Surian

Dan Tenggara (dekat guriung Kerinci) mengalir Batang Bangko dan dan Barat Laut, perbatasan kecamatan Sungai Pagu dengan kecamatan Pantai Cermin, mengalir Batang Suliti; keduanya bertemu dekat nagari Muara Labuh (ibu kecamatan) dan terus mengalir ke Timur, yang akhirnya bertemu dengan Batang Hari dan Batang Gumanti.
Pada umumya kehidupan dan penghidupan terutama dan hasil pertanian, seperti padi, kopi, getah, hasil hutan dan hasil lainnya. Karena kesuburan tanahnya daerah mi terkenal di Sumatera Barat sebagai daerah surplus beras. Buktinya dapat dilihat dengan jelas dan perimbangan banyaknya penduduk, produksi dan kebutuhan dalam setahun.

Di samping itu dapat pula ditunjukkan, bahwa adanya bangsa-bangsa asing pada zaman penjajahan Belanda yang mendirikan onderneming-onderneming yang terdapat di. beberapa tempat, seperti:

1) Kebun teh di Pekonina, Huberta dan Bukit Melintang
2) Kebun Kina di Bangko kecil, Bangko Besar dan Sumangun
3) Getah di Sungai Lambai
4) Kopi di Pinang Awan

Disebabkan politik bumi hangus pada waktu zaman perang kemerdekaan pada tahun 1948, semua bangunan di perkebunan tersebut, kecuali perkebunan getah di Sungai Lambai, dibumi-hanguskan………………

Diambil dari :
Skripsi Bpk. Napilus Oedin yang berjudul PERANAN KERAWITAN DALAM PENGANGKATAN RAJA ALAM SURAMBI SUNGAI PAGU pada ASKI Padang Panjang, 1975

Sejarah Pasaman


Di akhir abad ke 19 seorang pejabat bangsa Belanda pernah menuliskan laporan perjalanannya ke salah satu daerah Pasaman yakni Mapat Tunggul. Dengan gaya bahasanya yang khas ala Belanda dia memulai tulisan laporan
tersebut dengan menyuguhkan keadaan alamnya, Pada awalnya daerah
tersebut terdiri dari bebukitan yang terbesar tidak ditumbuhi oleh
apapun selain ilalang, perbukitan lainnya ditumbuhi hutan.

Orang dapat menjumpai pohon-pohon yang berat yang tumbuh pada dasar
kemerah-merahan, akar-akarnya yang lembab menjalar menghunjam dalam ke
jantung bumi, dan memanjat batu-batu kapur serta melekat ke bebatuan
yang entah dari jenis apa ; belantara yang tidak dapat ditembus, siapa
yang hidup disana, jadi tidak ada tangan manusia yang merintangi
pekerjaan alam selama berabad-abad. Lereng-lereng bukit yang
bersemak-belukar, yang menunjukkan bahwa orang -orang disana masih belum
jauh-jauh mencari makanan mereka, begitulah laporan yang ditulis oleh
J.B.Neeumann, setelah ia menjelajahi daerah tersebut.

Mungkin sebagian kita tidak pernah mengira bahwa Pasaman khususnya Rao
pernah jadi tambang emas terbesar di daerah Sumatra Westkus pada zaman
Belanda. Dobbin menceritakan dalam karyanya Kebangkitan Islam dalam
Ekonomi Petani Yang Sedang Berubah, Sumatera Tengah 1784-1847.
Keuntungan yang menumpuk pada tua tambang dilukiskan pada tahun 1838
dalam hubungan dengan penggalian kecil dalam tanah luapan banjir di
dekat Rao di sebelah utara rantau Minangkabau. Ditempat ini keadaan para
pekerjanya jauh lebih baik dari pada pekerja tambang.

Orang-orang yang mencari emas atau pekerja tambang juga dianggap
memiliki kekuatan istimewa. Roh-roh yang mendiami tambang emas harus
diperlakukan dengan hati hati sekali, dan para pencari emas membentuk
suatu perserikatan dan hanya anggota perserikatan yang mengetahui
tanda-tanda rahasia emas dan bisa mengucapkan jampi-jampi yang
diperlukan untuk berhasilnya upaya penambangan.

Bendera Inggris dinaikkan di Natal pada tahun 1751 oleh para pegawai
East India Campany yang berkedudukan di Bengkulen. Dalam usaha untuk
mengalahkan pemukiman Belanda di Padang, perdagangan dinyatakan bebas
sama sekali dan perdagangan di Natal mendapat dukungan resmi dari
Madras. Pada kahir tahun 1750-an perdagangan berkembang seperti belum
pernah terjadi sebelumnya ; orang-orang Inggris bersedia membayar lebih
tinggi untuk emas Rao daripada Belanda di Padang.

Mereka juga menjual tekstilnya dengan harga lebih murah, mereka tidak
cerewet mengenai mutu kamper dan kemenyan yang mereka beli, dan mereka
menyediakan garam, mata dagangan yang sangat penting dilembah-lembah
dipedalaman tanah Batak dengan harga yang lebih murah daripada harga
Batak.

Ujung tombak serangan Minangkabau atas orang-orang Batak adalah Lembah
Rao, yang mengikuti Alahan Panjang menerima asas-asas Paderi. Rao
memiliki tradisi hubungan yang lama dengan dunia Minangkabau lainnya,
dan hasil alamnya membuat sejarah lembah itu berkembang mengikuti alur
yang serupa dengan perkembangan daerah-daerah lain di Minangkabau.

Dengan mengabaikan lembah-lembah tertentu lebih selatan, Rao merupakan
daerah pertambangan emas yang paling penting di Minangkabau sesudah
Alahan Panjang. Perdagangan emas Rao sudah dikenal oleh
pedangan-pedagang India sejak awala abad kedua sesudah Masehi. Dan
kira-kira tahun 800 sesudah masehi orang-orang India mendirikan
pemukiman, baik dilembah maupun di bagian atas sungai Kampar yang
kemudian berkembang menjadi pangkalan hulu sungai yang khas untuk
perdagangan emas dari Rao.

Pada abad ke 18 amas Rao belum habis dan tetap melancarkan jalannya
pergadangan di Selat Malaka, karena perdagangan melalui Patapahan di
Siak. Para pengamat Inggris di selat memperkirakan bahwa yang dieksport
berjumlah besar, pada tahun 1826 Singapore Choronicle menetapkan nilai
emas Rao antara 13.000 dan 14.000 dollar Spanyol per tahun, tetapi ini
pasti berlebihan. Pedagang emas Rao juga berdagang dipantai barat,
dengan membawa emasnya ke Natal, Air Bangis, Pasaman, bahkan sampai
jauh ke selatan ke Padang.

Tidak mengherankan, setelah Imam Bonjol menetapkan kekuasaannya di
Lembah Alahan Panjang, dia memalingkan matanya ke utara kea rah
tetangganya yang kaya. Lembah yang panjang dan sempit disebelah lembah
menampakkan kemakmuran yang cukup besar. Pada tahun 1830-an Lembah Rao
diperkirakan berpenduduk sekitar 25.000 orang, terbagi dalam dua puluh
desa besar dengan dukuhdukuh satelitnya, semua terawat apik dan
dikelilingi oleh sawah-sawah luas. Kopi juga ditanam disitu .

Sistem politiknya serupa dengan daerah pingiran Minangkabau lainnya,
tiap desa dihuni oleh sejumlah suku masing-masing dengan penghulunya,
tetapi berlawanan dengan di pedalaman Minangkabau sebuah desa induk
dengan anak huniannya juga membentuk semacam federasi dibawah seorang
Raja. Dibagian utara lembah, tempat-tempat tambang emas utama di
dekat-dekat Rao dan Padang Mantinggi adalah yang paling padat
penduduknya, dan disini desa-desa mengakui salah satu rajanya sebagai Yang Dipertuan

Asal usul Kota Padang


Kota padang dahulunya diperkirakan sebagai dataran atau padang yang luas dan mungkin dari sanalah asal usul nama padang tersebut. Di daerah ini telah bermukim banyak penduduk dengan pusat perkotaan
pada saat itu berada di sekitar sungai batang harau. Awalnya wilayah ini merupakan salah satu territory Kerajaan Pagaruyung namun semenjak kedatangan VOC pada abad 17 maka kawasan tersebut tersebut berpindah tangan. Hal ini ditandai dengan dibangunnya loji pada tahun 1667 di sekitar kawasan yang sangat strategis untuk dijadikan pelabuhan kapal.
Dengan keberadaan loji serta aktivitas VOC membuat ruang lingkup penduduk asli mulai terdesak dan praktek penjajahan bangsa baratpun mulai dirasakan oleh masyarakat setempat. Maka pada tanggal 7 Agustus 1669 masyarakat pauah serta koto tangah sepakat untuk menyerang loji – loji Belanda tersebut.
Dengan semangat perjuangan dan persatuan yang tinggi maka daerah tersebut dapat dikuasai dan peristiwa ini diabadikan sebagai hari jadinya kota Padang

Cikal bakal kota Bukittinggi


Cikal bakal kota Bukittinggi dimulai dari sebuah pasar, yang didirikan dan dikelola oleh para penghulu Nagari Kurai. Pada awalnya Pasar itu diadakan setiap hari Sabtu, kemudian setelah semakin ramai diadakan pula setiap hari Rabu. Oleh karena pasar itu terletak di salah satu "bukik nan tatinggi" (bukit yang tertinggi), maka lama kelamaan berubah menjadi Bukittinggi. Akhirnya nama Bukittinggi itu pun digunakan untuk menyebut pasar, sekaligus masyarakat dan Nagari Kurai. Sebelum kedatangan Belanda di daerah Dataran Tinggi Agam (1823), pasar Bukittinggi telah ramai didatangi oleh pedagang dan penduduk sekitarnya.Pada tahun 1926 Kapten Bauer, Kepala Opsir Militer Belanda untuk Dataran Tinggi Agam, mendirikan benteng Fort de Kock, di Bukit Jirek yang terletak sekitar 300 m di sebelah Utara pasar Bukittinggi. Kawasan bukit itu diberikan oleh para penghulu Nagari Kurai kepada Kapten Bauer dengan perjanjian akan saling membantu dalam mengahadap Kaum Paderi. Sejak berdirinya Fort de Kock dan Belanda berhasil mengalahkan Kaum Paderi serta menguasai Minangkabau, maka perkembangan Bukittinggi pada tahap selanjutnya lebih ditentukan oleh kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Secara perlahan pemerintah kolonial memperluas "wilayahnya" dengan meminjam atau membeli tanah kepada para penghulu Nagari Kurai. Bahkan, pada kasus-kasus tertentu, "kepemilikan" tanahnya itu ditentukan secara sepihak oleh Belanda. Pada tahun 1856 Belanda meminjam tanah perbukitan yang terletak disekitar pasar Bukittinggi dan jika nanti tidak diperlukan lagi, maka Belanda akan mengembalikannya kepada para penghulu Nagari Kurai. Tanah itu meliputi 7 (tujuh) bukit yang bertautan satu sama lainnya dan mempunyai lembah-lembah yang sempit. Ketujuh bukit itu adalah Bukit Jirek, Bukit Sarang Gagak, Bukit Tambun Tulang, Bukit Cubadak Bungkuak, Bukit Bulek, Bukit Malambuang, dan Bukit Parak Kopi. Di atas ketujuh bukit itulah, secara bertahap Belanda membangun berbagai infrastruktur untuk kepentingan kolonialnya, seperti kantor dan perumahan, gudang-gudang kopi, los-los pasar, perkampungan Cina, dan India. Akan tetapi, daerah itu tidak memiliki dataran yang luas untuk dijadikan berbagai keperluan militer. Oleh karena itu pada tahun 1861 Belanda membeli tanah dataran di bagian Selatan Bukittinggi dengan harga f.46 .090,-. Daerah itu dibangun untuk perkantoran militer, lapangan, perumahan perwira, asrama, tangsi, rumah sakit, gedung sekolah, dan sebagainya.

Mengikuti perkembangan pembangunan berbagai infrastruktur itu, maka kota Bukittinggi juga semakin berkembang dan maju. Oleh karena itu pada tahun 1888 pemerintah menetapkan sebagai sebuah "kota" dengan batas-batas sebagai berikut :

a. Sebelah Timur Laut dan sebelah Utara yaitu dari sebelah barat Bandar Malang melalui pancang (tiang) yang bertanda A pada jalan dekat Kuburan Cina lama dengan pancang bertanda I terletak di jalan ke Kampung Palupuh. Dan dari sini satu garis lurus lagi ke pancang (tiang) yang bertanda B yang terdapat pada jalan kecil kuburan Belanda baru.

b. Sebelah Barat Laut, sebelah Barat dan Tenggara ialah jalan kecil (kuburan Belanda baru) tersebut di atas sampai ke kuburan Belanda baru. Dari sini batas sebelah Barat Daya dari kuburan Belanda tersebut sampai ke pancang bertanda D berhubungan dengan sebuah pancang berhuruf E. Berikutnya lebih kurang 240 m jauhnya di sebelah Barat jalan ke arah Padangpanjang.

c. Sebelah Selatan, dari pancang F ditarik satu garis lurus ke arah timur sampai denga titik temunya jalan arah ke Padangpanjang.

d. Sebelah Timur, dari titik temu tersebut di atas mengaliri Bandar Malang yang terbagi dua: pada Bandar yang sebelah Barat sampai ke tempat pertemuan Bandar ini dengan jalan Payakumbuh. Pada tahun 1918 kota Bukittinggi ditetapkan statusnya sebagai sebuah Gemeente, Pada tahun 1930 wilayah Gemeente Bukittinggi diperluas lagi sehingga menjadi 5 , 2Km2.