Jumat, 13 Mei 2011

Asal usul Kota Padang


Kota padang dahulunya diperkirakan sebagai dataran atau padang yang luas dan mungkin dari sanalah asal usul nama padang tersebut. Di daerah ini telah bermukim banyak penduduk dengan pusat perkotaan
pada saat itu berada di sekitar sungai batang harau. Awalnya wilayah ini merupakan salah satu territory Kerajaan Pagaruyung namun semenjak kedatangan VOC pada abad 17 maka kawasan tersebut tersebut berpindah tangan. Hal ini ditandai dengan dibangunnya loji pada tahun 1667 di sekitar kawasan yang sangat strategis untuk dijadikan pelabuhan kapal.
Dengan keberadaan loji serta aktivitas VOC membuat ruang lingkup penduduk asli mulai terdesak dan praktek penjajahan bangsa baratpun mulai dirasakan oleh masyarakat setempat. Maka pada tanggal 7 Agustus 1669 masyarakat pauah serta koto tangah sepakat untuk menyerang loji – loji Belanda tersebut.
Dengan semangat perjuangan dan persatuan yang tinggi maka daerah tersebut dapat dikuasai dan peristiwa ini diabadikan sebagai hari jadinya kota Padang

Cikal bakal kota Bukittinggi


Cikal bakal kota Bukittinggi dimulai dari sebuah pasar, yang didirikan dan dikelola oleh para penghulu Nagari Kurai. Pada awalnya Pasar itu diadakan setiap hari Sabtu, kemudian setelah semakin ramai diadakan pula setiap hari Rabu. Oleh karena pasar itu terletak di salah satu "bukik nan tatinggi" (bukit yang tertinggi), maka lama kelamaan berubah menjadi Bukittinggi. Akhirnya nama Bukittinggi itu pun digunakan untuk menyebut pasar, sekaligus masyarakat dan Nagari Kurai. Sebelum kedatangan Belanda di daerah Dataran Tinggi Agam (1823), pasar Bukittinggi telah ramai didatangi oleh pedagang dan penduduk sekitarnya.Pada tahun 1926 Kapten Bauer, Kepala Opsir Militer Belanda untuk Dataran Tinggi Agam, mendirikan benteng Fort de Kock, di Bukit Jirek yang terletak sekitar 300 m di sebelah Utara pasar Bukittinggi. Kawasan bukit itu diberikan oleh para penghulu Nagari Kurai kepada Kapten Bauer dengan perjanjian akan saling membantu dalam mengahadap Kaum Paderi. Sejak berdirinya Fort de Kock dan Belanda berhasil mengalahkan Kaum Paderi serta menguasai Minangkabau, maka perkembangan Bukittinggi pada tahap selanjutnya lebih ditentukan oleh kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Secara perlahan pemerintah kolonial memperluas "wilayahnya" dengan meminjam atau membeli tanah kepada para penghulu Nagari Kurai. Bahkan, pada kasus-kasus tertentu, "kepemilikan" tanahnya itu ditentukan secara sepihak oleh Belanda. Pada tahun 1856 Belanda meminjam tanah perbukitan yang terletak disekitar pasar Bukittinggi dan jika nanti tidak diperlukan lagi, maka Belanda akan mengembalikannya kepada para penghulu Nagari Kurai. Tanah itu meliputi 7 (tujuh) bukit yang bertautan satu sama lainnya dan mempunyai lembah-lembah yang sempit. Ketujuh bukit itu adalah Bukit Jirek, Bukit Sarang Gagak, Bukit Tambun Tulang, Bukit Cubadak Bungkuak, Bukit Bulek, Bukit Malambuang, dan Bukit Parak Kopi. Di atas ketujuh bukit itulah, secara bertahap Belanda membangun berbagai infrastruktur untuk kepentingan kolonialnya, seperti kantor dan perumahan, gudang-gudang kopi, los-los pasar, perkampungan Cina, dan India. Akan tetapi, daerah itu tidak memiliki dataran yang luas untuk dijadikan berbagai keperluan militer. Oleh karena itu pada tahun 1861 Belanda membeli tanah dataran di bagian Selatan Bukittinggi dengan harga f.46 .090,-. Daerah itu dibangun untuk perkantoran militer, lapangan, perumahan perwira, asrama, tangsi, rumah sakit, gedung sekolah, dan sebagainya.

Mengikuti perkembangan pembangunan berbagai infrastruktur itu, maka kota Bukittinggi juga semakin berkembang dan maju. Oleh karena itu pada tahun 1888 pemerintah menetapkan sebagai sebuah "kota" dengan batas-batas sebagai berikut :

a. Sebelah Timur Laut dan sebelah Utara yaitu dari sebelah barat Bandar Malang melalui pancang (tiang) yang bertanda A pada jalan dekat Kuburan Cina lama dengan pancang bertanda I terletak di jalan ke Kampung Palupuh. Dan dari sini satu garis lurus lagi ke pancang (tiang) yang bertanda B yang terdapat pada jalan kecil kuburan Belanda baru.

b. Sebelah Barat Laut, sebelah Barat dan Tenggara ialah jalan kecil (kuburan Belanda baru) tersebut di atas sampai ke kuburan Belanda baru. Dari sini batas sebelah Barat Daya dari kuburan Belanda tersebut sampai ke pancang bertanda D berhubungan dengan sebuah pancang berhuruf E. Berikutnya lebih kurang 240 m jauhnya di sebelah Barat jalan ke arah Padangpanjang.

c. Sebelah Selatan, dari pancang F ditarik satu garis lurus ke arah timur sampai denga titik temunya jalan arah ke Padangpanjang.

d. Sebelah Timur, dari titik temu tersebut di atas mengaliri Bandar Malang yang terbagi dua: pada Bandar yang sebelah Barat sampai ke tempat pertemuan Bandar ini dengan jalan Payakumbuh. Pada tahun 1918 kota Bukittinggi ditetapkan statusnya sebagai sebuah Gemeente, Pada tahun 1930 wilayah Gemeente Bukittinggi diperluas lagi sehingga menjadi 5 , 2Km2.

Asal usul dan sejarah Pariaman


Pariaman di zaman lampau merupakan daerah yang cukup dikenal oleh pedagang bangsa asing semenjak tahun 1500an. Catatan tertua tentang Pariaman ditemukan oleh Tomec Pires (1446-1524), seorang pelaut Portugis yang bekerja untuk kerajaan Portugis di Asia. Ia mencatat telah ada lalu lintas perdagangan antara India dengan Pariaman, Tiku dan Barus.

Dua tiga kapal Gujarat mengunjungi Pariaman setiap tahunnya membawa kain untuk penduduk asli dibarter dengan emas, gaharu, kapur barus, lilin dan madu. Pires juga menyebutkan bahwa Pariaman telah mengadakan perdagangan kuda yang dibawa dari Batak ke Tanah Sunda.

Kemudian, datang bangsa Perancis sekitar tahun 1527 dibawah komando seorang politikus dan pengusaha yakni Jean Ango. Ia mengirim 2 kapal dagang yang dipimpin oleh dua bersaudara yakni Jean dan Raoul Parmentier. Kedua kapal ini sempat memasuki lepas pantai Pariaman dan singgah di Tiku dan Indrapura. Tapi anak buahnya merana terserang penyakit, sehingga catatan dua bersaudara ini tidak banyak ditemukan.

Tanggal 21 November 1600 untuk pertama kali bangsa Belanda singgah di Tiku dan Pariaman, yaitu 2 kapal di bawah pimpinan Paulus van Cardeen yang berlayar dari utara (Aceh dan Pasaman) dan kemudian disusul oleh kapal Belanda lainnya. Cornelis de Houtman yang sampai di Sunda Kelapa tahun 1596 juga melewati perairan Pariaman.

Tahun 1686, orang Pariaman (Pryaman seperti yang tertulis dalam catatan W. Marsden) mulai berhubungan dengan Inggris.

Sebagai daerah yang terletak di pinggir pantai, Pariaman sudah menjadi tujuan perdagangan dan rebutan bangsa asing yang melakukan pelayaran kapal laut beberapa abad silam. Pelabuhan entreport Pariaman saat itu sangat maju. Namun seiring dengan perjalanan masa pelabuhan ini semakin sepi karena salah satu penyebabnya adalah dimulainya pembangunan jalan kereta api dari Padang ke Pariaman pada tahun 1908.

Luhak Tanah Datar, Sejarah dan Penamaan

Luhak Tanah Datar

Luhak Tanah datar di sebut juga Luhak nan Tuo karena Luhak ini adalah Luhak yang mula-mula ada di Minangkabau. Ungkapan untuk Luhak ini “buminyo Lembang, aienyo tawa, ikannyo banyak”, ini menggambarkan masyarakat yang ramai, statusnya tidak merata.

Asal usul Luhak tanah Datar:

Dahulu kala, ketika nenek moyang orang Minangkabau masih tinggal di puncak gunung Merapi, ada tiga sumur (Luhak). Salah satu dari ketiga sumur itu ada terletak di tanah yang datar. Orang yang biasa minum dari sumur tersebut pindah ke suatu tempat, yang kemudian dinamakan Luhak Tanah Datar, sesuai dengan sumur mereka.

Nenek moyang orang Minangkabau pertama-tama membuat nagari di Pariangan Padang Panjang. Lama kelamaan Nagari itu tersa sempit karena pendudukbertambah, dan akhirnya mereka mencari daerah baru. Salah satu daerah itu adalah daerah yang tidak datar. Tanahnya berbukit-bukit dan berlembah-lembah. Nama tempat itu mereka tetapkan sesuai dengan kondisi daerahnya, Yakni Luhak Tanah Datar. Luhak disini mengadung makna menjadi daerah yang tanahnya kurang datar.

Nagari-nagari yang termasuk Luhak Tanah Datar:

1. Tampuak Tangkai Pariangan Salapan Koto (Pariangan, Padang Panjang, Guguak, Sikaladi, Koto Tuo, Tanjuang Limau, Sialahan, Batu Baso)

2. Tujuah Langgam di Hilie (Turawan, Padang Lua, Padang Magek, Sawah Kareh, Kinawai, Balimbiang, Bukik Tamusu)

3. Limo Kaum Duo Baleh Koto (Dusun Tuo, Balah Labuah, Balai Batu, Kubu Rajo, Piliang, Ngungun, Silabuek Ampalu, Parambahan, Cubadak, Supanjang, Sawah Jauah, Rambatan, Tabek Sawah Tangah)

4. Sambilan Koto di dalam (Tabek Boto, Salagondo, Koto, Baranjak, Latai Batu, Bukik Gombak, Sungai Ameh, Ambacang Baririk, Rajo Dani)

5. Tanjuang nan Tigo, Lubuek nan Tigo (Tanjuang Alam, Tanjuang Sungayang, Tanjuang Barulak, Lubuek Sikarah, Lubuek Simauang, Lubuek Sipurai)

6. Sungai Tarab Tujuah Batu (Limo Batu, Tigo Batu, Ikua Kapalo Kapak, Randai Gombak Katitiran, Koto Tuo Pasia Laweh, Koto Baru, Rao-rao, Salo Patie Sumaniak, Supayang, Situmbuak, Gurun Ampalu, Sijangek Koto Badampiang)

7. Langgam nan Tujuah (Labutan, Sungai Jambu, Batipuah Nagari Gadang, Tanjuang Baliak, Sulik Aie, Singkarak, Saniang Baka, Silungkang, Padang Sibusuak, Sumani, Saruaso)

8. Batipuah Sapuluah Koto (Batipuah, Koto Baru Aie Angek, Koto Laweh, Pandai Sikek, Panyalaian, Bukik Saruangan, Gunuang, Paninjauan, Jaho Tambangan, Pitalah, Bungo Tanjuang, Sumpua, Malalo, Singgalang)

9. Lintau Buo sambilan Koto (Batu Bulek, Balai Tangah, Tanjuang Bonai, Tapi Selo, Lubuek Jantan, Buo, Pangian, Taluek Tigo Jangko)



Kamis, 12 Mei 2011

Sate Padang Mak Syukur di Padang Panjang (Sum-Bar)

Kalau anda kebetulan berada di Padang, ke manakah mencari sate padang yang paling oke? Nah, jawabannya adalah, anda harus pergi menuju kota Padang Panjang, sekitar 40 menit naik mobil ke arah Bukittinggi dari Kota Padang.

Menjelang Kota Padang Panjang, anda akan ketemu warung sate "Mak Syukur" yang sangat terkenal di ranah Minang. Saking terkenalnya, Presiden SBY pun perlu membuat agenda makan siang di Sate "Mak Syukur" sewaktu kunjungan ke Padang dan Bukittinggi.

Apa ciri khas sate Mak Syukur? Dagingnya yang empuk, potongan daging yang agak besar, serta bumbu yang tidak terlalu pedas dan juga tidak menyengat. Ini menyebabkan sate Mak Syukur relatif bisa diterima oleh banyak kalangan, termasuk orang luar Sumatera Barat.

So, kalau ke Padang, jangan lewatkan sate Mak Syukur ya ...

Oh ya, sate Mak Syukur juga punya cabang di Jakarta ... katanya ada beberapa sih ... tetapi yang sering saya kunjungi adalah yang di Mal Kelapa Gading ...












Es Durian 'Ganti Nan Lamo' Warisan Incek Sinyo-- Kota Padang

Durian? Hmm... aromanya yang wangi menusuk bikin ngiler buat penggemarnya. Apalagi di saat udara panas, semangkuk es durian bakal jadi pelepas dahaga yang ampuh. Es durian yang ini sudah diracik dengan resep warisan 50 tahun. Lembut, manis, harum dan dingin! Slruup... onde taraso lamaknyo!

Saat melintasi kawasan Padang Panjang, mulai tampak beberapa penjaja durian di sepanjang jalan. Di bulan Okober sampai Februari biasanya merupakan musim durian. Durian yang dipetik dari kebun petani ini umumnya masak pohon. Bentuknya tak terlalu besar tetapi aromanya tajam.

Kulit durian Sumatra berwarna kuning hingga kecokelatan. Durinya rapat, runcing dan agak halus. Sedangkan dagingnya cukup tebal dengan warna putih agak sedikit kecokelatan. Rasanya manis legit yang kuat dengan rasa sedikit pahit di ujung lidah. Aroma wanginya yang kuat menjadi ciri khas yang unik.

Singgah di kota Padang, selain nasi kapau yang wajib dicoba adalah es durian. Tapi jangan salah mampir karena saat berkeliling kota Padang. Yang legendaris adalah es durian 'Ganti Nan Lamo'. Durian lokal dari Sijunjung dan Tanah Datar yang populer enaknya juga sering diolah menjadi es durian ini.

Es durian 'Ganti Nan Lamo' merupakan es durian legendaris yang ada di kota Padang. Es ini, seperti yang tertulis di lembaran menu, merupakan warisan Incek Sinyo. Mulai berjualan pada tahun 1960 hingga sekarang dilanjutkan secara turun temurun oleh keluarganya hingga generasi ketiga.

Tawaran menikmati es durian tersedia dalam beberapa pilihan; es durian, es durian tok, es krim durian, es durian float. Kalau ingin camilan ada sate padang, gado-gado atau mpek-mpek Palembang (lenjer dan kapal selam). Terlihat di beberapa meja yang paling banyak dipesan selain es durian, adalah mpek-mpek.

Karena ingin mencari pencuci mulut yang dingin-dingin manis maka es druian tok dan es durianpun kami pesan. Tak sampai 5 menit semangkuk es durianpun tersaji. Durian yang kuning halus memenuhi mangkuk dengan kucuran susu kental manis. Hmm... aromanya wangi menusuk hidung!

Sebelum dicicip, durian perlu diaduk sebentar. Karena di bawah lumeran durian halus terdapat es serut dengan isian serutan kecil kelapa muda, cincau dan sedikit sagu mutiara. Isian yang serba sedikit ini tak merusak rasa durian yang manis legit. Demikian juga dengan sedikit sirop merah yang ditambahkan.

Karena tak mau kehilangan rasa asli durian, durian halus di bagian ataspun saya sendoki langsung tanpa es serut. Rasa legit durian halus ini sepertinya karena daging durian yang dihaluskan dicampur dengan gula dan susu kental manis putih. Meskipun begitu rasa duriannya masih terasa kuat. 

Sedangkan yang disebut es durian tok, ya durian halus plus es serut dan sedikit sirop merah. Tanpa isian apapun. Yang ini cocok buat penggemar durian yang tak ingin diganggu dengan aneka isian lainnya. Slruup... manis-manis dingin wangi!

Es durian ini diracik dengan cara mangkuk diberi isian atau langsung diberi es serut dan sedikit sirop merah. Es kemudian diratakan hingga permukaannya datar. Barulah disiram durian halus dan dikucuri susu kental manis cokelat. Kalau dilihat selintas penampilannya sama. Setelah diaduk barulah terasa beda isinya.

Es durian ini memang seperti kata almarhum Incek Sinyo, 'ondeh taraso lamaknyo'. O,ya semangkuk es durian dihargai Rp. 14.000,00. Sebaiknya teliti membaca papan nama saat mencari warung es durian ini karena banyak tempat lain yang memakai nama mirip seperti 'Iko Gantinyo'. Yang racikan warisan Incek Sinyo 'Ganti Nan Lamo' alias 'pengganti yang lama'!

Es Durian Ganti Nan Lamo
Jl. Pulau Karam 103B
Padang
Telpon: 0751-26203






Lokasi Kuliner Unik di Sumatera Barat (Pical Si Kai dan Nasi Kapau di Bukittinggi)

Pical Sikai di Bukittinggi

Saat ke Sumatera Barat jika ingin menyantap makanan selain masakan Padang, silahkan anda mencoba Pical Sikai. Pical merupakan sebutan untuk pecel buat masyarakat Sumatera Barat.

Jadi jika anda seorang vegetarian tidak perlu pusing mencari makanan vegetarian khas ala Minang

Pical yang cukup terkenal di kota Bukittinggi sebagai kota kedua terbesar di Sumatera Barat dapat ditemukan di warung Pical Sikai.

Warung ini letaknya tersembunyi di dalam gang Almanzari persis depan Masjid Al-Ikhwan, jalan Panorama, Kota Bukittinggi. Meskipun demikian warung ini sangat terkenal sehingga jika ada orang yang hendak mengirim paket atau surat tak perlu menulis alamat lengkap cukup ditulis Pical Sikai, semua orang Bukittinggi sudah tahu dimana letaknya.

Prinsip dasar pical ala Minang tidak berbeda dengan pecel Jawa, yaitu campuran beberapa macam sayuran yang kemudian di siram dengan sambal bumbu kacang. Pical bisa disantap dengan pilihan nasi, ketupat atau lontong.

Perbedaan Pical, makanan vegetarian khas ala Minang ini dengan pecel Jawa terletak pada adanya irisan rebung dan jantung pisang. “Jantung pisang, rebung dan daun singkong di rebus dahulu sedangkan kol nya tetap mentah segar,” kata Nelly yang menjaga warung Pical Sikai.

Racikan sayuran tersebut disajikan dengan potongan potongan ketupat empuk yang disebut lontong pical. Lalu setelah disiram dengan bumbu kacang khas pecel, Pical ditaburi kerupuk merah dan keripik singkong tipis.

Rasa bumbu kacang nya pun berbeda dengan pecel Jawa. Di pical Sikai bumbu kacangnya lebih encer dan tidak terlalu manis. Bumbunya adalah campuran dari kacang tanah yang ditumbuk lalu ditambah cabai dan gula merah.

Menurut Uni Iren- panggilan akrab Reni – saudara Nelly yang ikut mengelola warung tersebut, warung Pical Sikai sudah berusia lebih dari 60 tahun. Warung tersebut didirikan oleh bibinya Kairiyah pada tahun 1948. “Karena bibi saya sering dipanggil Si Kai, makanya diberi nama Sikai” ungkapnya.

Warung Pical Sikai sudah sangat akrab dengan masyarakat Bukittinggi. Warung buka mulai pukul 08.00 sampai 18.00. Harga sepiring Pical Sikai Rp. 8000,- . Dalam sehari bisa habis paling tidak 100 porsi. Banyak orang terkenal yang berkunjung ke warung Pical Sikai mulai dari mantan menteri Azwar Anas sampai penyair Taufik Ismail pernah mencicipi makanan vegetarian khas ala Minang ini..






Nasi Kapau di Bukitttinggi

Nasi Kapau ialah nasi ramas khas nagari Kapau, Sumatra Barat, terdiri dari nasi, sambal, dan lauk pauk khas Kapau, gulai sayur nangka (cubadak), gulai tunjang (urat kaki kerbau atau sapi), gulai cangcang (tulang dan daging kerbau), gulai babek (paruik kabau).Nasi kapau standar selalu dilengkapi gulai nangka ciri khas nasi kapau.

Gulai nangka tidak menggunakan banyak santan dan tidak terlalu kental. Gulai dicampur kacang panjang, kol, rebung, pakis, dan jengkol. Di samping gulai nangka, hampir seluruh lauk nasi kapau terdiri dari masakan daging-daging. Gulai usus (gulai tambunsu) campuran telur ayam dan tahu yang dimasukkan ke usus sapi (karena usus kerbau lebih keras), gulai ikan, gulai tunjang, ayam panggang, teri balado, tongkol balado, dendeng balado, goreng belut, dan sambal lado hijau. Lauk nasi Kapau lainnya berupa ayam goreng, ayam goreng hijau gulai ayam, rendang ayam, rendang daging. Beras nasi kapau harus bermutu tinggi, umumnya dikirim dari Bukittinggi dan Agam.

Sumber: Kompas 13 Juni 2010