Jumat, 13 Mei 2011

Asal usul dan sejarah Pariaman


Pariaman di zaman lampau merupakan daerah yang cukup dikenal oleh pedagang bangsa asing semenjak tahun 1500an. Catatan tertua tentang Pariaman ditemukan oleh Tomec Pires (1446-1524), seorang pelaut Portugis yang bekerja untuk kerajaan Portugis di Asia. Ia mencatat telah ada lalu lintas perdagangan antara India dengan Pariaman, Tiku dan Barus.

Dua tiga kapal Gujarat mengunjungi Pariaman setiap tahunnya membawa kain untuk penduduk asli dibarter dengan emas, gaharu, kapur barus, lilin dan madu. Pires juga menyebutkan bahwa Pariaman telah mengadakan perdagangan kuda yang dibawa dari Batak ke Tanah Sunda.

Kemudian, datang bangsa Perancis sekitar tahun 1527 dibawah komando seorang politikus dan pengusaha yakni Jean Ango. Ia mengirim 2 kapal dagang yang dipimpin oleh dua bersaudara yakni Jean dan Raoul Parmentier. Kedua kapal ini sempat memasuki lepas pantai Pariaman dan singgah di Tiku dan Indrapura. Tapi anak buahnya merana terserang penyakit, sehingga catatan dua bersaudara ini tidak banyak ditemukan.

Tanggal 21 November 1600 untuk pertama kali bangsa Belanda singgah di Tiku dan Pariaman, yaitu 2 kapal di bawah pimpinan Paulus van Cardeen yang berlayar dari utara (Aceh dan Pasaman) dan kemudian disusul oleh kapal Belanda lainnya. Cornelis de Houtman yang sampai di Sunda Kelapa tahun 1596 juga melewati perairan Pariaman.

Tahun 1686, orang Pariaman (Pryaman seperti yang tertulis dalam catatan W. Marsden) mulai berhubungan dengan Inggris.

Sebagai daerah yang terletak di pinggir pantai, Pariaman sudah menjadi tujuan perdagangan dan rebutan bangsa asing yang melakukan pelayaran kapal laut beberapa abad silam. Pelabuhan entreport Pariaman saat itu sangat maju. Namun seiring dengan perjalanan masa pelabuhan ini semakin sepi karena salah satu penyebabnya adalah dimulainya pembangunan jalan kereta api dari Padang ke Pariaman pada tahun 1908.

Luhak Tanah Datar, Sejarah dan Penamaan

Luhak Tanah Datar

Luhak Tanah datar di sebut juga Luhak nan Tuo karena Luhak ini adalah Luhak yang mula-mula ada di Minangkabau. Ungkapan untuk Luhak ini “buminyo Lembang, aienyo tawa, ikannyo banyak”, ini menggambarkan masyarakat yang ramai, statusnya tidak merata.

Asal usul Luhak tanah Datar:

Dahulu kala, ketika nenek moyang orang Minangkabau masih tinggal di puncak gunung Merapi, ada tiga sumur (Luhak). Salah satu dari ketiga sumur itu ada terletak di tanah yang datar. Orang yang biasa minum dari sumur tersebut pindah ke suatu tempat, yang kemudian dinamakan Luhak Tanah Datar, sesuai dengan sumur mereka.

Nenek moyang orang Minangkabau pertama-tama membuat nagari di Pariangan Padang Panjang. Lama kelamaan Nagari itu tersa sempit karena pendudukbertambah, dan akhirnya mereka mencari daerah baru. Salah satu daerah itu adalah daerah yang tidak datar. Tanahnya berbukit-bukit dan berlembah-lembah. Nama tempat itu mereka tetapkan sesuai dengan kondisi daerahnya, Yakni Luhak Tanah Datar. Luhak disini mengadung makna menjadi daerah yang tanahnya kurang datar.

Nagari-nagari yang termasuk Luhak Tanah Datar:

1. Tampuak Tangkai Pariangan Salapan Koto (Pariangan, Padang Panjang, Guguak, Sikaladi, Koto Tuo, Tanjuang Limau, Sialahan, Batu Baso)

2. Tujuah Langgam di Hilie (Turawan, Padang Lua, Padang Magek, Sawah Kareh, Kinawai, Balimbiang, Bukik Tamusu)

3. Limo Kaum Duo Baleh Koto (Dusun Tuo, Balah Labuah, Balai Batu, Kubu Rajo, Piliang, Ngungun, Silabuek Ampalu, Parambahan, Cubadak, Supanjang, Sawah Jauah, Rambatan, Tabek Sawah Tangah)

4. Sambilan Koto di dalam (Tabek Boto, Salagondo, Koto, Baranjak, Latai Batu, Bukik Gombak, Sungai Ameh, Ambacang Baririk, Rajo Dani)

5. Tanjuang nan Tigo, Lubuek nan Tigo (Tanjuang Alam, Tanjuang Sungayang, Tanjuang Barulak, Lubuek Sikarah, Lubuek Simauang, Lubuek Sipurai)

6. Sungai Tarab Tujuah Batu (Limo Batu, Tigo Batu, Ikua Kapalo Kapak, Randai Gombak Katitiran, Koto Tuo Pasia Laweh, Koto Baru, Rao-rao, Salo Patie Sumaniak, Supayang, Situmbuak, Gurun Ampalu, Sijangek Koto Badampiang)

7. Langgam nan Tujuah (Labutan, Sungai Jambu, Batipuah Nagari Gadang, Tanjuang Baliak, Sulik Aie, Singkarak, Saniang Baka, Silungkang, Padang Sibusuak, Sumani, Saruaso)

8. Batipuah Sapuluah Koto (Batipuah, Koto Baru Aie Angek, Koto Laweh, Pandai Sikek, Panyalaian, Bukik Saruangan, Gunuang, Paninjauan, Jaho Tambangan, Pitalah, Bungo Tanjuang, Sumpua, Malalo, Singgalang)

9. Lintau Buo sambilan Koto (Batu Bulek, Balai Tangah, Tanjuang Bonai, Tapi Selo, Lubuek Jantan, Buo, Pangian, Taluek Tigo Jangko)



Kamis, 12 Mei 2011

Sate Padang Mak Syukur di Padang Panjang (Sum-Bar)

Kalau anda kebetulan berada di Padang, ke manakah mencari sate padang yang paling oke? Nah, jawabannya adalah, anda harus pergi menuju kota Padang Panjang, sekitar 40 menit naik mobil ke arah Bukittinggi dari Kota Padang.

Menjelang Kota Padang Panjang, anda akan ketemu warung sate "Mak Syukur" yang sangat terkenal di ranah Minang. Saking terkenalnya, Presiden SBY pun perlu membuat agenda makan siang di Sate "Mak Syukur" sewaktu kunjungan ke Padang dan Bukittinggi.

Apa ciri khas sate Mak Syukur? Dagingnya yang empuk, potongan daging yang agak besar, serta bumbu yang tidak terlalu pedas dan juga tidak menyengat. Ini menyebabkan sate Mak Syukur relatif bisa diterima oleh banyak kalangan, termasuk orang luar Sumatera Barat.

So, kalau ke Padang, jangan lewatkan sate Mak Syukur ya ...

Oh ya, sate Mak Syukur juga punya cabang di Jakarta ... katanya ada beberapa sih ... tetapi yang sering saya kunjungi adalah yang di Mal Kelapa Gading ...












Es Durian 'Ganti Nan Lamo' Warisan Incek Sinyo-- Kota Padang

Durian? Hmm... aromanya yang wangi menusuk bikin ngiler buat penggemarnya. Apalagi di saat udara panas, semangkuk es durian bakal jadi pelepas dahaga yang ampuh. Es durian yang ini sudah diracik dengan resep warisan 50 tahun. Lembut, manis, harum dan dingin! Slruup... onde taraso lamaknyo!

Saat melintasi kawasan Padang Panjang, mulai tampak beberapa penjaja durian di sepanjang jalan. Di bulan Okober sampai Februari biasanya merupakan musim durian. Durian yang dipetik dari kebun petani ini umumnya masak pohon. Bentuknya tak terlalu besar tetapi aromanya tajam.

Kulit durian Sumatra berwarna kuning hingga kecokelatan. Durinya rapat, runcing dan agak halus. Sedangkan dagingnya cukup tebal dengan warna putih agak sedikit kecokelatan. Rasanya manis legit yang kuat dengan rasa sedikit pahit di ujung lidah. Aroma wanginya yang kuat menjadi ciri khas yang unik.

Singgah di kota Padang, selain nasi kapau yang wajib dicoba adalah es durian. Tapi jangan salah mampir karena saat berkeliling kota Padang. Yang legendaris adalah es durian 'Ganti Nan Lamo'. Durian lokal dari Sijunjung dan Tanah Datar yang populer enaknya juga sering diolah menjadi es durian ini.

Es durian 'Ganti Nan Lamo' merupakan es durian legendaris yang ada di kota Padang. Es ini, seperti yang tertulis di lembaran menu, merupakan warisan Incek Sinyo. Mulai berjualan pada tahun 1960 hingga sekarang dilanjutkan secara turun temurun oleh keluarganya hingga generasi ketiga.

Tawaran menikmati es durian tersedia dalam beberapa pilihan; es durian, es durian tok, es krim durian, es durian float. Kalau ingin camilan ada sate padang, gado-gado atau mpek-mpek Palembang (lenjer dan kapal selam). Terlihat di beberapa meja yang paling banyak dipesan selain es durian, adalah mpek-mpek.

Karena ingin mencari pencuci mulut yang dingin-dingin manis maka es druian tok dan es durianpun kami pesan. Tak sampai 5 menit semangkuk es durianpun tersaji. Durian yang kuning halus memenuhi mangkuk dengan kucuran susu kental manis. Hmm... aromanya wangi menusuk hidung!

Sebelum dicicip, durian perlu diaduk sebentar. Karena di bawah lumeran durian halus terdapat es serut dengan isian serutan kecil kelapa muda, cincau dan sedikit sagu mutiara. Isian yang serba sedikit ini tak merusak rasa durian yang manis legit. Demikian juga dengan sedikit sirop merah yang ditambahkan.

Karena tak mau kehilangan rasa asli durian, durian halus di bagian ataspun saya sendoki langsung tanpa es serut. Rasa legit durian halus ini sepertinya karena daging durian yang dihaluskan dicampur dengan gula dan susu kental manis putih. Meskipun begitu rasa duriannya masih terasa kuat. 

Sedangkan yang disebut es durian tok, ya durian halus plus es serut dan sedikit sirop merah. Tanpa isian apapun. Yang ini cocok buat penggemar durian yang tak ingin diganggu dengan aneka isian lainnya. Slruup... manis-manis dingin wangi!

Es durian ini diracik dengan cara mangkuk diberi isian atau langsung diberi es serut dan sedikit sirop merah. Es kemudian diratakan hingga permukaannya datar. Barulah disiram durian halus dan dikucuri susu kental manis cokelat. Kalau dilihat selintas penampilannya sama. Setelah diaduk barulah terasa beda isinya.

Es durian ini memang seperti kata almarhum Incek Sinyo, 'ondeh taraso lamaknyo'. O,ya semangkuk es durian dihargai Rp. 14.000,00. Sebaiknya teliti membaca papan nama saat mencari warung es durian ini karena banyak tempat lain yang memakai nama mirip seperti 'Iko Gantinyo'. Yang racikan warisan Incek Sinyo 'Ganti Nan Lamo' alias 'pengganti yang lama'!

Es Durian Ganti Nan Lamo
Jl. Pulau Karam 103B
Padang
Telpon: 0751-26203






Lokasi Kuliner Unik di Sumatera Barat (Pical Si Kai dan Nasi Kapau di Bukittinggi)

Pical Sikai di Bukittinggi

Saat ke Sumatera Barat jika ingin menyantap makanan selain masakan Padang, silahkan anda mencoba Pical Sikai. Pical merupakan sebutan untuk pecel buat masyarakat Sumatera Barat.

Jadi jika anda seorang vegetarian tidak perlu pusing mencari makanan vegetarian khas ala Minang

Pical yang cukup terkenal di kota Bukittinggi sebagai kota kedua terbesar di Sumatera Barat dapat ditemukan di warung Pical Sikai.

Warung ini letaknya tersembunyi di dalam gang Almanzari persis depan Masjid Al-Ikhwan, jalan Panorama, Kota Bukittinggi. Meskipun demikian warung ini sangat terkenal sehingga jika ada orang yang hendak mengirim paket atau surat tak perlu menulis alamat lengkap cukup ditulis Pical Sikai, semua orang Bukittinggi sudah tahu dimana letaknya.

Prinsip dasar pical ala Minang tidak berbeda dengan pecel Jawa, yaitu campuran beberapa macam sayuran yang kemudian di siram dengan sambal bumbu kacang. Pical bisa disantap dengan pilihan nasi, ketupat atau lontong.

Perbedaan Pical, makanan vegetarian khas ala Minang ini dengan pecel Jawa terletak pada adanya irisan rebung dan jantung pisang. “Jantung pisang, rebung dan daun singkong di rebus dahulu sedangkan kol nya tetap mentah segar,” kata Nelly yang menjaga warung Pical Sikai.

Racikan sayuran tersebut disajikan dengan potongan potongan ketupat empuk yang disebut lontong pical. Lalu setelah disiram dengan bumbu kacang khas pecel, Pical ditaburi kerupuk merah dan keripik singkong tipis.

Rasa bumbu kacang nya pun berbeda dengan pecel Jawa. Di pical Sikai bumbu kacangnya lebih encer dan tidak terlalu manis. Bumbunya adalah campuran dari kacang tanah yang ditumbuk lalu ditambah cabai dan gula merah.

Menurut Uni Iren- panggilan akrab Reni – saudara Nelly yang ikut mengelola warung tersebut, warung Pical Sikai sudah berusia lebih dari 60 tahun. Warung tersebut didirikan oleh bibinya Kairiyah pada tahun 1948. “Karena bibi saya sering dipanggil Si Kai, makanya diberi nama Sikai” ungkapnya.

Warung Pical Sikai sudah sangat akrab dengan masyarakat Bukittinggi. Warung buka mulai pukul 08.00 sampai 18.00. Harga sepiring Pical Sikai Rp. 8000,- . Dalam sehari bisa habis paling tidak 100 porsi. Banyak orang terkenal yang berkunjung ke warung Pical Sikai mulai dari mantan menteri Azwar Anas sampai penyair Taufik Ismail pernah mencicipi makanan vegetarian khas ala Minang ini..






Nasi Kapau di Bukitttinggi

Nasi Kapau ialah nasi ramas khas nagari Kapau, Sumatra Barat, terdiri dari nasi, sambal, dan lauk pauk khas Kapau, gulai sayur nangka (cubadak), gulai tunjang (urat kaki kerbau atau sapi), gulai cangcang (tulang dan daging kerbau), gulai babek (paruik kabau).Nasi kapau standar selalu dilengkapi gulai nangka ciri khas nasi kapau.

Gulai nangka tidak menggunakan banyak santan dan tidak terlalu kental. Gulai dicampur kacang panjang, kol, rebung, pakis, dan jengkol. Di samping gulai nangka, hampir seluruh lauk nasi kapau terdiri dari masakan daging-daging. Gulai usus (gulai tambunsu) campuran telur ayam dan tahu yang dimasukkan ke usus sapi (karena usus kerbau lebih keras), gulai ikan, gulai tunjang, ayam panggang, teri balado, tongkol balado, dendeng balado, goreng belut, dan sambal lado hijau. Lauk nasi Kapau lainnya berupa ayam goreng, ayam goreng hijau gulai ayam, rendang ayam, rendang daging. Beras nasi kapau harus bermutu tinggi, umumnya dikirim dari Bukittinggi dan Agam.

Sumber: Kompas 13 Juni 2010







Selasa, 10 Mei 2011

Wisata Alam Tantangan Baru Pendaki Gunung Marapi 2891mdpl

Sudah pernah naik Gunung? Kalau belum, jangan sampai lupa memasukkan Gunung Marapi sebagai salah satu target pendakian. Gunung yang memiliki ketinggian 2891 mdpl (meter diatas permukaan laut) ini selalu menjadi tujuan bagi pendaki yang berasal dari dalam maupun dari luar Sumatera Barat. Karenanya, Gunung ini jadi terkenal setelah Gunung Kerinci yang merupakan Gunung tertinggi di Pulau Sumatera.

Gunung Marapi menjadi target pendakian pendaki gunung Indonesia karena terletak berdampingan dengan Gunung Singgalang dan Tandikek serta merupakan salah satu gunung yang masih aktif di Indonesia. Selain itu akses menuju kaki gunung tersebut mudah dicapai. Jika anda kebetulan berasal dari Bukittinggi atau sering melewati Kota Bukittinggi, tentu sudah tidak asing lagi dengan kemegahan Gunung ini. Titik start pendakian berada di jalan raya Padang Panjang – Bukittinggi tepatnya di Kotobaru. Dari Kota Padang, hanya memerlukan waktu 1,5 jam menuju Kotobaru dengan ongkos Rp 10.000,- selanjutnya berjalan menuju Pesanggerahan selama ±30 menit.
Pesanggerahan adalah suatu daerah datar (Camping Ground) yang merupakan Pintu Rimba sebelum mulai mendaki ke Puncak Gunung Marapi. Karena daerahnya yang datar dan lumayan luas tadi, banyak juga loh yang pergi camping cuma sampai ke Pesanggerahan ini. Terutama di hari-hari libur atau diakhir minggu (Jumat – Minggu). Sehingga suasana seperti pasar malam sudah tidak asing lagi ditemui di kawasan ini. Ditambah lagi dengan kehadiran penduduk sekitar kaki Gunung Marapi yang memanfaatkan keramaian tersebut untuk mencari rezeki dengan menjual berbagai macam makanan dan minuman bagi para pendaki.

Setelah Pesanggerahan, pendakian menuju Puncak Gunung Marapi baru dimulai dengan jalan setapak yang terus mendaki dan lumayan menguras tenaga. Waktu normal untuk mencapai puncak ialah 6 jam. Kalau anda takut tersesat, jangan khawatir, jalur Kotobaru ini sangat jelas, yang pasti kalau ada percabangan jalan, terus saja ke atas karena kalau ke bawah kemungkinan besar itu adalah jalan menuju sumber air atau lembah. Supaya lebih aman, sebaiknya ajak teman yang sudah pernah naik Gunung Marapi sehingga kemungkinan tersesat bisa semakin diperkecil.

Setelah perjalanan penuh tanjakan dan lumayan menguras tenaga tadi, kita akan memasuki kawasan Cadas Marapi. Yaitu kawasan bebatuan yang merupakan wilayah puncak gunung merapi. Disini vegetasinya sudah berubah, pohon-pohon besar yang berada dijalur sebelumnya, berganti dengan semak belukar dan beberapa tumbuhan khas puncak gunung. Tapi kalau anda ingin mencari edelweis, sangat disayangkan di sekitar jalur pendakian ini vegetasinya sudah sangat sedikit. Kalaupun ada itu cuma pohon-pohon tanpa bunga. Ini diakibatkan ulah tangan-tangan jahil yang merusak dan mengambil bunga-bunga edelweis dengan alasan untuk kenang-kenangan. Padahal, tentu akan lebih indah dipandang mata apabila bunga-bunga abadi tersebut tetap berada di tempatnya. Cukuplah dengan mengambil foto untuk dijadikan kenang-kenangan tanpa harus merusak. Setuju bro!

Letihnya badan karena mendaki beberapa jam tadi, akan segera terobati dengan keindahan alam yang dihadirkan Sang Pencipta di Puncak gunung ini. Kawasan luas dan datar seluas lapangan bola akan ditemui di dekat dua kawah Merapi. Jadi kalau anda mau main bola di atas gunung, disinilah tempatnya. Tapi yang harus diwaspadai apabila kawah tersebut menyemburkan asap belerang (batuk) sebaiknya jangan mendekat karena sangat beresiko keracunan apabila terhirup. Bila mau terus mendaki dan berjalan di tepi kawah, kita akan sampai di Puncak Merpati. Dari sini pemandangan sekitar kaki Marapi, Gunung Singgalang, Tandikek sampai Kota Bukittinggi akan terlihat jelas. Pokoknya indah dipandang deh…

Satu hal yang sangat disesalkan dari keadaan sekitar jalur Kotobaru ini adalah banyaknya sampah (bungkus mie, kaleng sarden, kotak rokok dan sebagainya) yang ditinggalkan para pendaki dan benar-benar merusak alam. Ini tentu dikarenakan kurangnya kesadaran dari masyarakat dan pendaki untuk ikut menjaga kelestarian alam dengan minimal, tidak membuang sampah sembarangan. Kalau ada sampah, ya dibawa turun dong, dibuang ke tempat yang seharusnya, bukan ditinggalkan di Gunung. Kesadaran ini harus kita tanamkan ke diri pribadi masing-masing agar kelestarian alam yang merupakan titipan anak cucu kita dapat terjaga.







Kacawali, Jalur Ekstrim untuk Petualangan.

Untuk anda yang merasa memiliki jiwa petualangan dan menginginkan tantangan lebih di Gunung Marapi, ada satu jalur alternatif yang benar-benar menantang dan masih terjaga keasriannya. Jalur ini menyuguhkan trek-trek ekstrim namun diimbangi panorama alam yang jauh lebih indah dan menarik.

Untuk menempuh jalur ini, dari Kota Padang kita bisa naik bis jurusan Padang – Payakumbuh dan turun di Simpang Candung. Selanjutnya dengan menggunakan angkutan desa selama ± 30 menit kita akan sampai di Desa Kacawali. Desa Kacawali yang terletak di sisi Utara Gunung ini merupakan titik start pendakian yang akan langsung membawa kita ke Puncak Triangulasi (tertinggi) gunung Marapi. Jalur yang dibuka oleh Anggota Muda MAPALA UNAND pada tahun 2003 ini memang belum terlalu dipublikasikan. Saat ini hanyalah kalangan pecinta alam yang ingin merasakan petualangan lebih saja yang memakai jalur ini. Bagi yang mau mencoba jalur ini, dapat memperoleh info jalur secara lengkap dan guide dengan menghubungi Kantor MAPALA UNAND di PKM Universitas Andalas Limau Manis Padang.

Waktu tempuh untuk mencapai Puncak Marapi juga lebih lama dibandingkan melewati jalur Kotobaru, mencapai 10 jam dengan perjalanan konstan dan tidak berhenti. Track pendakiannya pun lebih ekstrim dengan kemiringan mencapai 80 derajat menyebabkan tidak semua orang sanggup melewati jalur ini. Banyaknya pohon-pohon besar yang rebah di jalur dan jurang sedalam ±500 meter di sebelah kiri jalur menyebabkan adrenalin makin terpacu untuk mencapai puncak tertinggi Marapi ini.

Kelebihan dari jalur ini adalah keadaan alamnya yang benar-benar masih alami dan bebas dari sampah serta terdapatnya 3 buah air terjun di tengah-tengah jalur yang memiliki ketinggian ±300 meter. Jadi kita bisa beristirahat sambil menikmati pemandangan air terjun di tengah-tengah perjalanan. Sumber air di jalur ini baru akan ditemui pada ketinggian 2000 mdpl, jadi untuk berjaga-jaga sebaiknya membawa persediaan air yang cukup banyak. Selain itu terdapat juga hewan-hewan liar khas pegunungan seperti Harimau, Babi Hutan, Rusa, Siamang dsb.

Selanjutnya pada saat mencapai puncak, keindahan alam yang disuguhkan Sang Pencipta semakin menakjubkan dan mempesona mata. Jauh lebih indah dan menarik bila dibandingkan dengan mendaki dari jalur Kotobaru yang memang sudah tidak terjaga lagi keasriannya.

Dari puncak tertinggi gunung Marapi ini (2891 Mdpl), pemandangan keseluruhan Puncak Merapi akan terlihat jelas. Kawah Marapi, Puncak Merpati, Telaga Dewa, Lembah Hantu, Gunung Singgalang dan Tandikek, bahkan Danau Singkarak akan telihat jelas dari sini. Vegetasi edelweis sang bunga abadi juga masih terjaga dan menghiasi sepanjang kawasan triangulasi dengan warna putihnya. Pokoknya benar-benar indah deh!

Untuk menambah tantangan, Kita bisa melanjutkan perjalanan menuju lapangan bola dari titik triangulasi ini. Jalurnya lebih ekstrim lagi, jalan setapak yang berada diantara lembah pada kiri dan kanan jalur membuat kita harus melangkah ekstra hati-hati atau bisa terperosok. Setelah ± 2 jam perjalanan, kita akan sampai di lapangan bola dan bisa memilih untuk turun dari jalur Kotobaru (jalur normal) atau dari jalur Simabur. Tentunya petulangan dan pengalaman yang didapatkan akan sangat mengesankan. Dalam satu kali pendakian Gunung Marapi, Kita bisa menempuh dua jalur yang berbeda sekaligus. Tertarik? Ayo coba dan rasakan adventurenya!.

* Tulisan ini pernah dimuat di Harian PADANG EKSPRES tanggal 30 Mei 2007










Senin, 09 Mei 2011

Wisata Alam Pendakian Gunung Singgalang 2877 m

Gunung Singgalang yang berdampingan dengan dua gunung, yakni gunung Tandikek dan gunung Marapi berdiri gagah di wilayah Bukittinggi Sumatera Barat, dan istimewanya dengan Telaga Dewi nya di berada di ketinggian 2.762 mdpl, dengan air yang jernih dan biasanya bisa di jadikan tempat para pendaki membuka tenda pendakian.

Gunung Singgalang dapat ditempuh dari beberapa jalur. Namun, jalur yang terkenal adalah melewati desa Koto Baru dan Pandai Sikek. Dari desa Koto Baru kita akan menempuh rute ke Desa Pandai Sikek. Dari desa inilah titik tolak menuju Tower ( Pemancar RCTI dan TVRI yang terletak di pinggang gunung Singgalang ). Menuju Tower pemancar ini kita akan melewati jalan beraspal yang menanjak, makin dekat ke tower jalan nya semakin tidak baik dan penuh oleh kerikil - kerikil dan di samping kiri dan kanan nya terdapat ladang pertanian penduduk. Desa Pandai Sikat juga terkenal dengan ladang tebu dan tempat pembuatan saka ( gula merah ).

Setelah sampai di Tower pemancar kita bisa menjadikan daerah ini sebagai tempat peristirahatan ( shelter ) sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak. Dari tower, kita akan melewati hutan pimpiang sekitar 1 jam. Hutan ini terdiri dari tumbuhan pimpiang yang tinggi dan merunduk, sehingga mengharuskan pendaki untuk berjalan merunduk, dan bahkan sampai duduk dan merangkak. Akan tetapi saat sekarang, melewati hutan ini semakin mudah, karena bagian atas tumbuhan sudah dipotong jadi kita tidak perlu merunduk lagi melewatinya. Setelah melewati pimpiang kita akan menemukan tempat yang dinamakan “Mata Air I”, di tempat ini menurun ke bawah kita akan menemukan sungai yang di ambil airnya untuk perbekalan.

Dari mata air I kita akan menempuh rute yang menanjak sampai di cadas, dengan kemiringan rata - rata sekitar 45 derajat. Makin ke puncak kita akan menemukan banyak pohon pakis yang cantik dan melewati trek yang agak lembab dan hutan yang masih lebat. Di kiri atau kanan trek kita menemukan tiang listrik dan kabel - kabel yang bisa dijadikan panduan untuk sampai ke puncak. Namun bagi beberapa orang, hal ini sangat mengganggu.

Perjalanan menempuh rute sebelum cadas memakan waktu normal sekitar 5 jam tergantung cepat atau lambatnya pergerakan perjalanan kita. Dari cadas menuju puncak memakan waktu sekitar 1 jam. Cadas terdiri dari bebatuan padat berwarna kuning, yang ditumbuhi pepohonan berjenggot dan Rhododendron gunung, dan sesekali kita akan menjumpai bunga edelweis walaupun sangat jarang sekali ditemui dan memerlukan mata yang jeli untuk menemukannya. Di perjalanan nantinya kita juga akan menjumpai sebuah tugu yang dinamakan tuguGalapagos. Tugu ini di buat sebagai monumen akan hilangnya salah satu Siswa Pencinta Alam ( Sispala ) Galapagos SMA 1 Padang sekitar tahun 90 - an. “ Terbanglah kau wahai sang elang, ……” begitu bunyi awal kalimatnya.

Dari cadas ini kita bisa melihat pemandangan lepas ke arah Gunung Marapi yang terletak tepat di depan. Jika beruntung, kita bisa melihat kota Padang Panjang, Bukittinggi, dan danau Singkarak dari cadas. Namun, pada siang hari, gunung Singgalang sering diselimuti kabut. Jika ingin mendapatkan pemandangan eksotis lebih baik mendirikan tenda di cadas dan menyaksikan sunrise dan pemandangan eksotis lain di pagi hari. Setelah lewat dari cadas, kita akan memasuki kembali kawasan hutan yang lebih lembab dan pohon-pohon yang di selimuti lumut tebal. Tidak lama setelah itu kita sampai di Telaga Dewi. Telaga Dewi . Telaga Dewi sering di selimuti kabut. Mengelilingi telaga Dewi ini tidak memakan waktu yang cukup lama, namun pesona yang benar - benar alami dan eksotis akan membuat kita betah untuk berlama - lama di dalam hutannya yang lembab dan basah. Di sekitar telaga ini kita menemui hutan lumut yang sangat lebat dan ada beberapa tumbuhan kantong semar.

Banyak yang sampai di Singgalang hanya sampai di telaga Dewi saja. Namun masih ada lagi puncak Singgalang mencapai sekitar setengah sampai 1 jam lagi menunju puncak. Di puncak nya ini kita akan menemukan tower pemancar yang merupakan muara dari tiang - tiang listrik yang ditemui di sepanjang jalan.

TIPS

Bila tidak ingin melakukan pendakian malam hari, sebaiknya pendakian dilakukan paling lambat pada jam 13.00, dimana dengan perjalanan santai memakan waktu sekitar 3 jam menuju ke bivak I. Sebelum menuju ke bivak I ( sekitar 15 m sebelum bivak I, kita akan memotong aliran sungai ( pindah punggungan ), yang merupakan sumber air pada saat kita menginap di area ini. Namun jika berniat naik pagi ( sekitar jam 09.00 ), kita bisa mencapai bivak II ( sekitar jam 16.00 ). Pada area ini, kalau kita mau, banyak tumbuhan hutan yang bisa makan, seperti pakis gajah, begonia, arbei, dan beberapa tumbuhan lainnya yang lainnya.

Dari bivak II, apabila berangkat sekitar jam 09.00, dengan jalan santai kita akan sampai diCadas sekitar pukul 13.00. Untuk masuk ke daerah cadas, dari rute perjalanan sebelumnya kita akan bertemu simpang jalan ( kedua jalan tersebut sama - sama mengarah ke Telaga Dewi, jadi anda bisa memilih rute yang kita suka ). Untuk rute yang mengarah ke kanan, maka dalam jarak sekitar 10 m kita akan sampai di daerah cadas, dan 100 m dari sana kembali masuk hutan yang menuju ke daerah Telaga Dewi.






Jalur Pendakian Gunung Singgalang by Mapala Universitas Andalas
· Tinggi : 2877 mdpl.
· Letak : Kab. Agam
· Karakteristik : Gunung api tidak aktif, ditutupi hutan hujan tropis, trek pendakian terjal dan terdapat 2 buah telaga di daerah puncak.
Perizinan : Lapor di Pos polisi terdekat atau kepala desa Rambatan.
Potensi : 2 buah telaga (telaga Dewi dan telaga Kumbang), panorama Gunung Marapi.

· Jalur Pendakian :
Jalur Koto Baru (Pandai Sikek)
MAPALA UNAND-Terminal Bingkuang (Rp. 2.000,-), Terminal Bingkuang-Koto Baru (Rp. 8.000,-) bus jurusan Padang-Bukittinggi (turun di Koto Baru) PO. ANS, NPM dan sebagainya. Koto Baru-Stasiun RCTI (Angkot hanya sampai desa terakhir dengan ongkos Rp. 1.500,- setelah itu trekking selama + 1,5 jam, atau angkot carteran Rp. 50.000,-).
Titik Start : Stasiun Pemancar RCTI Pandai Sikek. Lama pendakian normal 6 jam
Kondisi Medan
-Pasar Koto Baru-Stasiun RCTI : jalan aspal curah, peladangan tebu, tanjakan ringan, sumber air.
-Stasiun RCTI (5176,5645)-Cadas : Tanjakan terjal, semak-semak, hutan sekunder-hutan primer, sumber air I (5057,5654) sumber air di sepanjang jalur (5 jam).
-Cadas-Telaga Dewi : tanjakan terjal, berbatu, perdu dan hutan lumut, (30 menit).
-Telaga Dewi-Puncak Singgalang (4813,5689): landai, hutan lumut, (30 menit).

Jalur Balingka
MAPALA UNAND-Terminal Bingkuang (Rp. 2.000,-), Terminal Bingkuang-Padang Luar (Rp. 8.000,-) bus jurusan Bukittinggi (turun di Padang Luar). Padang Luar-Batu Tagak (Rp. 2.500,-) angkutan pedesaan Batu Tagak-Panambatan (alternatif trekking melalui Desa Rambatan).
Titik Start : desa Panambatan, Balingka. Lama pendakian normal 8 jam.

Jalur Toboh (Kenagarian Malalak)
MAPALA UNAND–Terminal Bingkuang (Rp. 2000,-) Terminal Bingkuang–Padang Luar (Rp. 8.000,-). Padang Luar–Toboh (Rp. 3000,-).
Titik Start : Jorong Toboh Kenagarian Malalak. Lama pendakian 12 jam.
Kondisi Medan
Toboh–Pintu Rimba : perladangan penduduk yang dipenuhi semak belukar. Sumber air