Kamis, 03 Februari 2011

Tarrif Gemlind Trans Valid 01 January 2014 up to 01 November 2014

RE
:
Contract Transportation Rate `2014
Tour Fare
:
if there is a change of government policy concerning the increase BBM,TDL, and more. then the  price will be adjusted





Tarrif Gemlind Trans Valid  01 January 2014  up to 01 November 2014
Dalam IDR


N
O
GEMLIND OVERLAND SERVICE
APV/XENIA/
AVANZA
ELF/PREGIO
/TRAVELO/INOVA
MICRO BUS
25 – 27 SEATER
BUS
40 – 44 SEATER

REMAKS
DESCRIPTION
DURATION
A
Paket

Minangkabau tour 3d/2n
Full day
750.000
950.000
1.200.000
2.250.000

Minangkabau tour 4d/3n & 5d/4n
Full day
700.000
900.000
1.150.000
2.200.000

B
Overland

BKT – PKU
Full day
800.000
1.200.000
1.800.000
3.000.000
Min 2 day
BKT – PKU – SIAK
Full day
900.000
1.300.000
1.800.000
3.000.000
Min 3 day
BKT – Prapat
Full day
1.000.000
1.500.000
2.000.000
3.500.000
Min 3 day
BKT – Medan
Full day
1.000.000
1.500.000
2.000.000
3.500.000
Min 4 day
BKT – Medan
Full day
1.000.000
1.500.000
2.000.000
3.500.000
Min 5 day
Jakarta
Full day
1.200.000
1.750.000
2.250.000
3.750.000
Min 7 day
Jakarta - Bandung
Full day
1.200.000
1.750.000
2.250.000
3.750.000
Min 8 day
Jakarta – Bandung – Jogja
Full day
1.200.000
1.750.000
2.250.000
3.750.000
        Min 10 day
Jakarta – Bandung – Jogja – Bali
Full day
1.200.000
1.750.000
2.250.000
3.750.000
Min 14 day
C
Full day
Max 12 hours
800.000
1.200.000
1.500.000
2.500.000
appropriate route
D
Transfer BIM  - BKT (hotel) / BKT - BIM
Max 4 hours
650.000
1.000.000
1.200.000
2.000.000


Rates include :
ü  Van / Tourist Bus AC with reacleaning seat
ü  Entertainment service : LCD `24,Music,DVD,Video,Karaoke
ü  BBM
ü  Driver & co
ü  Service cum from crew
Ecluding rates :
ü  Meals & optinal tour
ü  Parking, Ferry, Tol
ü  Travel levy
KETENTUAN UMUM
1. Tarif termasuk sewa jasa transportasi, BBM dan jasa crew.
3. Tarif tidak termasuk tiket objek wisata, tol, parkir, retribusi daerah, penyebrangan dan tips Crew.
4. Batas waktu pemakaian dalam kota jam 20.00 WIB sedangkan pemakaian luar kota jam 23.00 WIB.
5. Kelebihan waktu dibawah 2 jam tidak di kenakan biaya Overtime.
6. Kelebihan waktu 3-4 jam akan dikenakan biaya sebesar Rp 200.000,- per jam.
7. Kelebihan waktu diatas 4 jam akan dikenakan biaya setengah hari.
8. DP minimal 30% dari total sewa, apabila ada pembatalan DP tidak dapat dikembalikan.
9. Pembatalan kurang dari 7 hari dikenakan biaya sebesar 50% dari total sewa.
10. Pembatalan kurang dari 3 hari dikenakan biaya sebesar 80% dari total sewa.
11. Pemesanan kendaraan dikatakan DEAL apabila telah membayar uang muka.
12. Diluar perjanjian rute yang akan ditempuh pengemudi berhak menolak.
13. Tarif diatas untuk penjemputan dari Bukittinggi, untuk kota lain tarif akan disesuaikan
       atau dikenakan 'empty run' untuk biaya penjemputan.

Traveling should be an enjoyable experience. Whether it is a journey for pleasure or business. Travel with us will ensure that experience. with exelent bus drivers and co drivers, will provide you with excellent services that make each of your trip enjoyable and memorable. Buses have many safety features to ensure the safety of passenger such as : safety glass which shatters into small crystals without jagged edges if broken, emergency lights, bars and fire extinguishers.

With our “Total Customer Satisfaction” philosophy, we present you our luxurious coach with facilities.

note : 
untuk harga PM (private message) langsung ke : rofarawisata@gmail.com / rofarawisata@yahoo.com
Hp : +62852 74 213 969 / +62812 66 582 015
YM : rofarawisata


Best Regards
Rofarawisataindonesia
                      

Fauzal Muhammad,SE

Selasa, 01 Februari 2011

SEJARAH MINANGKABAU

`SEJARAH MINANGKABAU`

Mencari Nilai Falsafah Yang Terkandung Dalam Adat Minangkabau I 
Written by Amir Husein       
Senin, 16 Agustus2004

Usaha mencari dan menemukan nilai-nilai falsafah yang terkandung dalam adat Minangkabau sebagai salah satu corak kebudayaan Indonesia adalah penting, karena dalam pembangunan kita perlu mempergunakan bahan-bahan dasar Indonesia asli dan tidak meniru nilai luar yang tidak cocok atau dengan kata lain kita sebutkan, jangan sampai Indonesia bernafas keluar badan.

Hendaknya dengan kebudayaan jangan sampai kita menggunakan kebudayaan yang tidak cocok dengan nilai-nilai yang dimiliki bangsa kita yang pada akhirnya sulit dicerna dalam kehidupan.
Dasar falsafah kebudayaan Indonesia yang telah tumbuh dan ada di Indonesia ini harus ditemukan dan dipertinggi mutunya dan disesuaikan dengan kehendak dan tuntutan zaman.
Kebudayaan adalah jelmaan dari falsafah hidup suatu bangsa. Kebudayaan India berdasarkan falsafah India, kebudayaan Cina berdasarkan falsafah Cina dan demikian juga dengan hal kebudayaan yang lain yang ada di dunia ini.
Sehubungan dengan itu nyatalah pentingnya mencari dan menemukan falsafah apa yang menjadi dasar dari kebudayaan Indonesia dan jelas pula keberhasilan pembangunan dilaksanakan sesuai dan sejalan dengan kepribadian Indonesia dengan bangsa Indonesia hanya akan sanggup mengemukakan kepribadiannya dengan menggunakan falsafah kebudayaan.

Keterkaitan dengan sejarah Minangkabau
Kini kita mencoba mengungkap secara singkat sejarah Minangkabau. Dalam "Encyclopaedie Van Nederlandsch Oost-Indie" tahun 1918 mengenai sejarah Minangkabau hal 738 dst, terdapat ungkapan sebagai berikut :
Pada suatu massa diperkirakan dalam abad ke 14 dan 15 terdapat suatu kerajaan bernama Minangkabau yang daerah kekuasaannya meliputi Sumatera Tengah yang letaknya antara kerajaan Manjunto dan Sungai Singkel sebelah barat dan kerajaan Palembang dan Sungai Siak sebelah timur. Teras dari kerajaan yang besar ini terdiri dari kerajaan Minangkabau asli yang kira-kira meliputi daerah Padang darat sekarang ini dan raja-raja kerajaan inilah yang memperbesar daerah pengaruhnya dari barat sampai ketimur yaitu kerajaan Indrapura, Indragiri dan Jambi. Namum menurut dugaan pengaruh dari raja-raja Minangkabau terhadap daerah perbatasan tidaklah besar dan kesatuan kerajaan Minangkabau itu tidak lama bertahan.

Meskipun kerajaan Indrapura, Indragiri dan Jambi akhirnya berdiri sendiri mulai abad16 , tapi raja-rajanya memandang dengan khidmat dan keramat saudaranya raja di kerajaan Minangkabau sebagai yang utama diantara sesamanya.
Kerajaan Minangkabau semakin mengecil setelah seorang rajanya kawin dengan putri sulung raja Aceh yang menyerahkan sebagian daerahnya sebelah pantai sebagai hak turun temurun.
Pada abad ke 17 Belanda masuk kesini maka kerajaan Minangkabau tinggal hanya daerah aslinya saja lagi yaitu Padang Darat.
Menurut cerita turun temurun raja Minangkabau berasal dari Iskandar Zulkarnain (Alexander de Groote) yang mempunyai 3 orang putra masing masing Maharaja Alif menjadi raja di Turki (Rum atau Ruhum), Maharaja Depang menjadi raja di Cina dan Maharaja Diraja menjadi raja di Minangkabau. Bila benar hal demikian maka antara Turki, Cina dan Minangkabau mempunyai kaitan budaya yang perlu ditelusuri.Beberapa kaitan sejarah Minangkabau yang dapat kita ungkapkan disini, kita bagi dalam 2 fase :

A. Sebelum Kerajaan Minangkabau
Meskipun asal usul Raja Minangkabau sebelumnya tidak diketahui, akan tetapi puncak kejayaannya diketahui setelah abad 13 seperti kita ungkapkan diatas. Zaman ini disebut zaman Jawa-Hindu ketika mendaratnya suatu laskar Jawa yang dikirim raja Kertanegara dari Singosari dalam tahun Caka1197 ( 1275M).Ekspedisi ini berhasil sebab 11 tahun itu ditepi Batang Hari di pusat Sumatera atas perintah raja Jawa tersebut didirikan sebuah arca dari Amoghapaca dalam perkabaran yang berhubungan dengan itu disebut sebagai raja dari rakyat Sumatera. Mulawarmadewa yang dapat dianggap raja muda.Demikianpun Adityawarman (kira kira 1346 -1375 ) yang paling terkenal dari raja-raja sumatera ini dibawah pengaruh kekuasaan Jawa, setidak tidaknya pada pemerintahan permulaan pemerintahnya dalam negara Kertagama  "Menangkabawa" disebut sebagai daerah taklukkan dari kerajaan Majapahit.
Salah satu bukti dari pengaruh Jawa Hindu pada zaman Adityawarman terdapat banyak peninggalan Hindu yang sekarang masih terdapat di Minangkabau. Tapi setelah zaman kejayaan itu tidak terdapat sedikitpun peninggalan sejarah raja Minangkabau. Apa sebabnya dan kapan berakhirnya kekuasaan raja Jawa Hindu itu meninggalkan Minangkabau tidak diketahui.

B. Sesudah Kerajaan Minangkabau
Setelah orang Belanda menetap di Sumatera dalam abad ke 17 terdengarlah kembali sesuatu terhadap kerajaan Minangkabau, berdasarkan keterangan Van Bezel sekitar tahun 1680 saat meninggalnya kaisar Alif raja dari Turki, akibatnya ada perselisisihan  raja-raja Minangkabau, maka kerajaan Minangkabau terbagi tiga yakni: Sungai Tarab, Saruaso dan Pagaruyuang. Pada saat itu terjadi perpecahan dalam negeri dalam penetapan raja, hak untuk menduduki tahta tidak diakui oleh beberapa pembesar kerajaan (dagregister 1680 hal123 ,716 ,721 ). Kemungkinan pembagian kerajaan pada waktu itu tidak terjadi.

Asal Usul Nama Minangkabau
Salah seorang ahli sejarah Belanda M. Youstra dalam bukunya "Minangkabau Overzicht Van Land Geschiedenis en Volk" menulis halaman41 - 44sebagai berikut : Asal mula nama daerah ini yaitu Minangkabau berada dalam kegelapan. Diantara keterangan yang paling banyak mengandung kemungkinan kebenaran adalah dari Van Der Tuuk bahwa asal kata Minangkabau dari kata pinang Khabu yang berarti tanah asal.
Keterangan lain yang menghubungkan kata ini dengan "menang" (minang) dan "Kerbau" (kabau). Dari C.D. Blagden (Journal of straits branch of the royal asiatic society no.73 ) menyimpulkan bahwa nama Minangkabau pada kira kira pertengahan abad 13 pada saat jayanya kerajaan Minangkabau. Sedangkan jauh sebelumnya nama Minangkabau telah lama dikenal dalam cerita kuno. Bila ada masa kejayaan kebudayaan dan kekuasaan Hindu di Minangkabau, tapi sebaliknya pernah pula ada masa sebelumnya Sumatera berpengaruh terhadap Jawa. Masa itu pasti sebelum tahun 914 M, terbukti terdapatnya barang kuno. Hindu yang pada umumnya berasal dari kebudayaan budha. Peninggalan kuno di Muara Takus barangkali termasuk pada zaman ini, tetapi mungkin juga dari zaman setelah itu.

Falsafah Hidup Orang Minangkabau
Meski sejarah Minangkabau kurang jelas, namun dengan ungkapan petatah dan petitih, kita akan dapat mengetahui nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Melalui cara ini kita akan mengetahui tata cara hidup orang Minangkabau dari dahulu sampai sekarang. Menurut kita falsafah hidup ini penting dipelajari agar kita tahu bagaimana masyarakat Minangkabau mencapai kebahagian dari masa ke masa dan bagaimana pula sikapnya terhadap orang diluar lingkungannya. Bahkan lebih dari itu terdapat banyak falsafah hidup orang Minangkabau dengan wawasan nasional, regional dan International. Sebelum merinci satu persatu falsafah hidup didalam lingkungan orang Minangkabau, perlu diungkapkan yang bersifat umum seperti "alam takambang jadi guru" yang artinya semua orang bisa belajar dari alam sekitarnya. Falsafah seperti ini bisa dikatakan :
               Tidak lekang karena panas
               Tidak lapuk karena hujan
Beberapa falsafah hidup orang Minangkabau yang tertuang dalam berbagai pepatah berupa pelajaran dunia akhirat, sehingga dengan mengamalkan falsafah hidupnya orang Minangkabau akan mencapai hidup aman dan sentosa. Kedatangan agama Islam tidak sulit karena agama Islam bertujuan mengantarkan manusia dengan tujuan kebahagian dunia akhirat. Pelajaran Islam tinggal memantapkan syari'atnya saja, karenanya perkembangan Islam di Minangkabau selalu cocok dan juga lebih cepat dibanding daerah lain. Demikian kalau diperhatikan dengan seksama, maka seluruh dan fatwa adat Minangkabau yang merupakan dasar falsafah dari adat Minangkabau berdasarkan ayat-ayat Tuhan yang maha esa sama dengan ketentuan yang terdapat didalam alam.
Umpamanya :
               Sekali air besar
               Sekali tepian berubah
               Sekali tahun beredar
               Sekali musim bertukar

               Jikalau usang di perbaharui
               Jikalau lapuk ditupangi
               Adat dipakai baru
               Kain dipakai usang

               Mendung dihulu tanda akan hujan
               Terang dilangit tanda akan panas

Bila kita teliti secara seksama, maka dapat disimpulkan begitu jelinya para nenek moyang kita memperhatikan keadaan alam dan begitu juga melakukan antisipasi serta mencontohkan hidup manusia dengan alam sekelilingnya mencari yang baru yang sesuai dengan tuntutan zaman. Salah satu yang penting kita garis bawahi setiap orang Minangkabau menerima perubahan pengaruh agama dari pengaruh hindu ke agama pilihannya Islam yang sesuai falsafah "Alam Takambang Jadi Guru" tersebut diatas dengan penyesuaian ayat-ayat dalam Al-Qur'an. Dalam kitab suci Al-Qur'an banyak terdapat ayat ayat mengemukakan alam bagi siapa yang dapat membacanya. Sebagaimana juga dengan ayat yang pertama turun ke Nabi Muhammad yakni Iqra…bacalah, disini jelas ada perintah membaca yang tersirat maupun yang tersurat dari alam ini. Jadi jelaslah falsafah itu merupakan ilmu dan begitu banyaknya fatwa yang diwartakan nenek moyang orang Minangkabau mengkaji falsafah adatnya.

Karakter Orang Minangkabau
Karakter orang Minangkabau dikaitkan dari pepatah petitih Minangkabau. Adat Minangkabau yang matrilineal, dari melembanganya keturunan menurut ibu di Minangkabau maka berpantang setiap kaum pria tidur dirumah orang tua bila telah mulai dewasa. Bila keadaan masih memaksa harus tidur dirumah orang tua, maka tidak perlu merepotkan cukup tidur di beranda. Akibat dari keadaan tersebut pria Minangkabau terdorong untuk lebih cepat mencari nafkah hidup termasuk mencari punggung yang tidak tertutup. Sikap perantau orang Minangkabau ini tertuang dalam pepatah yakni :
              Karantau madang dihulu
              Berbuah berbunga belum
              Merantau bujang dahulu
              Dirumah berguna belum
Adat dan kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran Islam secara berangsur angsur hilang dengan semakin mantapnya ajaran Islam masuk dalam dirinya. Peninggalan sejarah tinggal peninngalan yang tidak perlu dipuji dan dipuja karena diketahui menyesatkan.
Falsafah hidup orang Minangkabau yang tertuang dalam pepatah dan petitih cukup banyak itu, perlu dikaji dan diteliti memperbaiki arahnya guna lebih bersih untuk diterapkan dan diwariskan pada generasi penerus. (bersambung)

ASAL USUL DANAU MANINJAU

Asal Usul Danau Maninjau



Danau Maninjau adalah sebuah danau vulkanik yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Danau dengan luas sekitar 99,5 km2 dengan kedalaman mencapai 495 meter ini merupakan danau terluas kesebelas di Indonesia, dan terluas kedua di Sumatra Barat. Menurut cerita, Danau Maninjau pada awalnya merupakan gunung berapi yang di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas. Oleh karena ulah manusia, gunung berapi itu meletus dan membentuk sebuah danau yang luas. Apa gerangan yang menyebabkan gunung berapi itu meletus dan berubah menjadi danau? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Asal Usul Danau Maninjau  berikut ini!

Alkisah, di sebuah daerah di Sumatra Barat  ada sebuah gunung berapi yang amat tinggi bernama Gunung Tinjau. Di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas, dan di kakinya terdapat beberapa perkampungan. Penduduknya hidup makmur dan sejahtera, karena mereka sangat rajin bertani. Di samping itu, tanah yang ada di sekitar Gunung Tinjau amat subur, karena sering mendapat pupuk alami berupa abu gunung.

Di salah satu perkampungan di kaki Gunung Tinjau itu tinggal sepuluh orang bersaudara yang terdiri dari sembilan lelaki dan seorang perempuan. Penduduk sekitar biasa memanggil mereka Bujang Sembilan. Kesepuluh orang bersaudara tersebut adalah Kukuban, Kudun, Bayua, Malintang, Galapuang, Balok, Batang, Bayang, dan lelaki termuda bernama Kaciak. Sementara adik mereka yang paling bungsu adalah seorang perempuan bernama Siti Rasani, akrab dipanggil Sani. Kedua orangtua mereka sudah lama meninggal, sehingga Kukuban sebagai anak sulung menjadi kepala rumah tangga. Semua keputusan ada di tangannya.

Kesepuluh bersaudara tersebut tinggal di sebuah rumah peninggalan kedua orangtua mereka. Untuk memenuhi kebutuhannya, mereka menggarap lahan pertanian yang cukup luas warisan kedua orangtua mereka. Mereka sangat terampil bertani, karena mereka rajin membantu ayah dan ibunya ketika keduanya masih hidup. Di samping itu, mereka juga dibimbing oleh paman mereka yang bernama Datuk Limbatang, yang akrab mereka panggil Engku.

Datuk Limbatang adalah seorang mamak di kampung itu dan mempunyai seorang putra yang bernama Giran. Sebagai mamak, Datuk Limbatang memiliki tanggungjawab besar untuk mendidik dan memerhatikan kehidupan warganya, termasuk kesepuluh orang kemenakannya tersebut. Untuk itu, setiap dua hari sekali, ia berkunjung ke rumah Kukuban bersaudara untuk mengajari mereka keterampilan bertani dan berbagai tata cara adat daerah itu. Tak jarang pula Datuk Limbatang mengajak istri dan putranya ikut serta bersamanya.

Pada suatu hari, ketika Datuk Limbatang bersama istri dan Giran berkunjung ke rumah Bujang Sembilan, secara tidak sengaja Sani saling berpandangan dengan Giran. Rupanya, kedua pemuda dan gadis itu sama-sama menaruh hati. Giran pun mengajak Sani untuk bertemu di sebuah ladang di pinggir sungai. Dengan hati berdebar, Giran pun mengungkapkan perasaannya kepada Sani.

“Sudah lama merendam selasih
Barulah kini mau mengembang
Sudah lama kupendam kasih
Barulah kini bertemu pandang”

“Telah lama orang menekat
Membuat baju kebaya lebar
Sudah lama abang terpikat
Hendak bertemu dada berdebar”

“Rupa elok perangaipun cantik
Hidupnya suka berbuat baik
Orang memuji hilir dan mudik
Siapa melihat hati tertarik”

“Dik, Sani! Wajahmu cantik nan elok, perangai baik nan berhati lembut. Maukah engkau menjadi kekasih Abang?” tanya Giran.

Pertanyaan itu membuat jantung Sani berdetak kencang. Dalam hatinya, ia juga suka kepada Giran. Maka ia pun membalasnya dengan untaian pantun.

“Buah nangka dari seberang
Sedap sekali dibuat sayur
Sudah lama ku nanti abang
Barulah kini dapat menegur”

“Jika roboh kota Melaka
Papan di Jawa saya tegakkan
Jika sungguh Kanda berkata
Badan dan nyawa saya serahkan”

Alangkah senang hati Giran mendengar jawaban dari Sani. Ia benar-benar merasa bahagia karena cintahnya bersambut.

Maka sejak itu, Giran dan Sani menjalin hubungan kasih. Pada mulanya, keduanya berniat untuk menyembunyikan hubungan mereka. Namun karena khawatir akan menimbulkan fitnah, akhirnya keduanya pun berterus terang kepada keluarga mereka masing-masing. Mengetahui hal itu, keluarga Giran dan Sani pun merasa senang dan bahagia, karenahal tersebut dapat mempererat hubungan kekeluargaan mereka. Sejak menjalin hubungan dengan Sani, Giran seringkali berkunjung ke rumah Bujang Sembilan. Bahkan, ia sering membantu Bujang Sembilan bekerja di sawah.

Ketika musim panen tiba, semua penduduk kampung memperoleh hasil yang melimpah. Untuk merayakan keberhasilan tersebut, para pemuka adat dan seluruh penduduk bersepakat untuk mengadakan gelanggang perhelatan, yaitu adu ketangkasan bermain silat. Para pemuda kampung menyambut gembira acara tersebut. Dengan semangat berapi-api, mereka segera mendaftarkan diri kepada panitia acara. Tidak ketinggalan pula Kukuban dan Giran turut ambil bagian dalam acara tersebut.

Pada hari yang telah ditentukan, seluruh peserta berkumpul di sebuah tanah lapang. Sorak sorai penonton pun terdengar mendukung jagoannya masing-masing. Beberapa saat kemudian, panitia segera memukul gong pertanda acara dimulai. Rupanya, Kukuban mendapat giliran pertama tampil bersama seorang lawannya dari dusun tetangga. Tampak keduanya saling berhadap-hadapan di tengah arena untuk saling adu ketangkasan. Siapa pun yang menang dalam pertarungan itu, maka dia akan melawan peserta berikutnya. Ternyata, Kukuban berhasil mengalahkan lawannya. Setelah itu, peserta berikutnya satu per satu masuk ke arena gelanggang perhelatan untuk melawan Kukuban, namun belum seorang pun yang mampu mengalahkannya. Masih tersisa satu peserta lagi yang belum maju, yakni si Giran. Kini, Kukuban menghadapi lawan yang seimbang.

“Hai, Giran! Majulah kalau berani!” tantang Kukuban.

“Baiklah, Bang! Bersiap-siaplah menerima seranganku!” jawab Giran dan langsung menyerang Kukuban.

Maka terjadilah pertarungan sengit antara Giran dan Kukuban. Mulanya, Giran melakukan serangan secara bertubi-tubi ke arah Kububan, namun semua serangannya mampu dielakkan oleh Kukubun. Beberapa saat kemudian, keadaan jadi terbalik. Kukuban yang balik menyerang. Ia terus menyerang Giran dengan jurus-jurus andalannya secara bertubi-tubi. Giran pun terdesak dan kesulitan menghindari serangannya. Pada saat yang tepat, Kukuban melayangkan sebuah tendangan keras kaki kirinya ke arah Giran. Giran yang tidak mampu lagi menghindar, terpaksa menangkisnya dengan kedua tangannya.

“Aduh, sakit…! Kakiku patah!” pekik Kukuban dan langsung berguling di tanah sambil menjerit kesakitan.

Rupanya, tangkisan Giran itu membuat kaki kirinya patah. Ia pun tidak mampu lagi melanjutkan pertandingan dan dinyatakan kalah dalam gelanggang tersebut. Sejak itu, Kukuban merasa kesal dan dendam terhadap Giran karena merasa telah dipermalukan di depan umum. Namun, dendam tersebut dipendamnya dalam hati.

Beberapa bulan kemudian, dendam Kukuban yang dipendam dalam hati itu akhirnya terungkap juga. Hal itu bermula ketika suatu malam, yakni ketika cahaya purnama menerangi perkampungan sekitar Gunung Tinjau, Datuk Limbatang bersama istrinya berkunjung ke rumah Bujang Sembilan. Kedatangan orangtua Giran tersebut bukan untuk mengajari mereka cara bercocok tanam atau tata cara adat, melainkan ingin menyampaikan pinangan Giran kepada Sani.

“Maaf, Bujang Sembilan! Maksud kedatangan kami kemari ingin lebih mempererat hubungan kekeluargaan kita,” ungkap Datuk Limbatang.

“Apa maksud, Engku?” tanya si Kudun bingung.

“Iya, Engku! Bukankah hubungan kekeluargaan kita selama ini baik-baik saja?” sambung Kaciak.

“Memang benar yang kamu katakan itu, Anakku,” jawab Datuk Limbatang yang sudah menganggap Bujang Sembilan seperti anaknya sendiri.

“Begini, Anak-anakku! Untuk semakin mengeratkan hubungan keluarga kita, kami bermaksud menikahkan Giran dengan adik bungsu kalian, Siti Rasani,” ungkap Datuk Limbatang.

“Pada dasarnya, kami juga merasakan hal yang sama, Engku! Kami merasa senang jika Giran menikah dengan adik kami. Giran adalah pemuda yang baik dan rajin,” sambut si Kudun.

Namun, baru saja kalimat itu lepas dari mulut si Kudun, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang sangat keras dari Kukuban.

“Tidak! Aku tidak setuju dengan pernikahan mereka! Aku tahu siapa Giran,” seru Kukuban dengan wajah memerah.

“Dia pemuda sombong, tidak tahu sopan santun dan kurang ajar. Dia tidak pantas menjadi suami Sani,” tambahnya.

“Mengapa kamu berkata begitu, Anakku? Adakah perkataan atau perilakunya yang pernah menyinggung perasaanmu?” tanya Datuk Limbatang dengan tenang.

“Ada, Engku! Masih ingatkah tindakan Giran terhadapku di gelanggang perhelatan beberapa bulan yang lalu? Dia telah mematahkan kaki kiriku dan sampai sekarang masih ada bekasnya,” jawab Kukuban sambil menyingsingkan celana panjangnya untuk memperlihatkan bekas kakinya yang patah.

“Oooh, itu!” jawab Datuk Limbatang singkat sambil tersenyum.

“Soal kaki terkilir dan kaki patah, kalah ataupun menang dalam gelanggan itu hal biasa. Memang begitu kalau bertarung,” ujar Datuk Limbatang.

“Tapi, Engku! Anak Engku telah mempermalukanku di depan orang banyak,” sambut Kukuban.

“Aku kira Giran tidak bermaksud mempermalukan saudaranya sendiri,” kata Datuk Limbatang.

“Ah, itu kata Engku, karena ingin membela anak sendiri! Di mana keadilan Engku sebagai pemimpin adat?” bantah Kukuban sambil menghempaskan tangannya ke lantai.

Semua yang ada dalam pertemuan itu terdiam. Kedelapan saudaranya tak satu pun yang berani angkat bicara. Suasana pun menjadi hening dan tegang. Kecuali Datuk Limbatang, yang terlihat tenang.

“Maaf, Anakku! Aku tidak membela siapa pun. Aku hanya mengatakan kebenaran. Keadilan harus didasarkan pada kebenaran,” ujar Datuk Limbatang.

“Kebenaran apalagi yang Engku maksud. Bukankah Giran telah nyata-nyata mencoreng mukaku di tengah keramaian?”

“Ketahuilah, Anakku! Menurut kesaksian banyak orang yang melihat peristiwa itu, kamu sendiri yang menyerang Giran yang terdesak dengan sebuah tendangan keras, lalu ditangkis oleh Giran. Tangkisan itulah yang membuat kakimu patah. Apakah menurutmu menangkis serangan itu perbuatan curang dan salah?” tanya Datuk Limbatang.

Kukuban hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Walaupun dalam hatinya mengakui bahwa apa yang dikatakan Datuk Limbatang adalah benar, tetapi karena hatinya sudah diselimuti perasaan dendam, ia tetap tidak mau menerimanya.

“Terserah Engku kalau tetap mau membela anak sendiri. Tapi, Sani adalah adik kami. Aku tidak akan menikahkan Sani dengan anak Engku,” kata Kukuban dengan ketus.

“Baiklah, Anakku! Aku juga tidak akan memaksamu. Tapi, kami berharap semoga suatu hari nanti keputusan ini dapat berubah,” kata Datuk Limbatang seraya berpamitan pulang ke rumah bersama istrinya.

Rupanya, Siti Rasani yang berada di dalam kamar mendengar semua pembicaraan mereka. Ia sangat bersedih mendengar putusan kakak sulungnya itu. Baginya, Giran adalah calon suami yang ia idam-idamkan selama ini. Sejak kejadian itu, Sani selalu terlihat murung. Hampir setiap hari ia duduk termenung memikirkan jalah keluar bagi masalah yang dihadapinya. Begitupula si Giran, memikirkan hal yang sama. Berhari-hari kedua pasangan kekasih itu berpikir, namun belum juga menemukan jalan keluar. Akhirnya, keduanya pun sepakat bertemu di tempat biasanya, yakni di sebuah ladang di tepi sungai, untuk merundingkan masalah yang sedang mereka hadapi.

“Apa yang harus kita lakukan, Dik?” tanya Giran.

“Entahlah, Bang! Adik juga tidak tahu harus berbuat apa. Semua keputusan dalam keluarga Adik ada di tangan Bang Kukuban. Sementara dia sangat benci dan dendam kepada Abang,” jawab Sani sambil menghela nafas panjang.

Beberapa lama mereka berunding di tepi sungai itu, namun belum juga menemukan jalan keluar. Dengan perasaan kalut, Sani beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba sepotong ranting berduri tersangkut pada sarungnya.

“Aduh, sarungku sobek!” teriak Sani kaget.

“Wah, sepertinya pahamu tergores duri. Duduklah Adik, Abang akan mengobati lukamu itu!” ujar Giran.

Giran pun segera mencari daun obat-obatan di sekitarnya dan meramunya. Setelah itu, ia membersihkan darah yang keluar dari paha Sani, lalu mengobati lukanya. Pada saat itulah, tiba-tiba puluhan orang keluar dari balik pepohonan dan segera mengurung keduanya. Mereka adalah Bujang Sembilan bersama beberapa warga lainnya.

“Hei, rupanya kalian di sini!” seru Kukuban.

Giran dan Sani pun tidak tahu harus berbuat apa. Keduanya benar-benar tidak menyangka jika ada puluhan orang sedang mengintai gerak-gerik mereka.

“Tangkap mereka! Kita bawa mereka ke sidang adat!” perintah Kukuban.

“Ampun, Bang! Kami tidak melakukan apa-apa. Saya hanya mengobati luka Sani yang terkena duri,” kata Giran.

“Dasar pembohong! Aku melihat sendiri kamu mengusap-usap paha adikku!” bentak Kukuban.

“Iya benar! Kalian telah melakukan perbuatan terlarang. Kalian harus dibawa ke sidang adat untuk dihukum,” sambung seorang warga.

Akhirnya, Giran dan Sani digiring ke kampung menuju ke ruang persidangan. Kukuban bersama kedelapan saudaranya dan beberapa warga lainnya memberi kesaksian bahwa mereka melihat sendiri perbuatan terlarang yang dilakukan oleh Giran dan Sani. Meskipun Giran dan Sani telah melakukan pembelaan dan dibantu oleh Datuk Limbatang, namun persidangan memutuskan bahwa keduanya bersalah telah melanggar adat yang berlaku di kampung itu. Perbuatan mereka sangat memalukan dan dapat membawa sial. Maka sebagai hukumannya, keduanya harus dibuang ke kawah Gunung Tinjau agar kampung tersebut terhindar dari malapetaka.

Keputusan itu pun diumumkan ke seluruh penjuru kampung di sekitar Gunung Tinjau. Setelah itu, Giran dan Sani diarak menuju ke puncak Gunung Tinjau dengan tangan terikat di belakang. Sesampainya di pinggir kawah, mata mereka ditutup dengan kain hitam. Sebelum hukuman dilaksanakan, mereka diberi kesempatan untuk berbicara.

“Wahai kalian semua, ketahuilah! Kami tidak melakukan perbuatan terlarang apa pun. Karena itu, kami yakin tidak bersalah,” ucap Giran.

Setelah itu, Giran menengadahkan kedua tanganya ke langit sambil berdoa.

“Ya Tuhan! Mohon dengar dan kabulkan doa kami. Jika kami memang benar-benar bersalah, hancurkanlah tubuh kami di dalam air kawah gunung yang panas ini. Akan tetapi, jika kami tidak bersalah, letuskanlah gunung ini dan kutuk Bujang Sembilan menjadi ikan!”

Usai memanjatkan doa, Giran dan Sani segera melompat ke dalam kawah. Keduanya pun tenggelam di dalam air kawah. Sebagian orang yang menyaksikan peristiwa itu diliputi oleh rasa tegang dan cemas. Jika Giran benar-benar tidak bersalah dan doanya dikabulkan, maka mereka semua akan binasa. Ternyata benar. Permohonan Giran dikabulkan oleh Tuhan. Beberapa saat berselang, gunung itu tiba-tiba bergetar dan diikuti letusan yang sangat keras. Lahar panas pun menyembur keluar dari dalam kawah, mengalir menuju ke perkampungan dan menghancurkan semua yang dilewatinya. Semua orang berusaha untuk menyelamatkan diri. Namun, naas nasib mereka. Letusan Gunung Tinjau semakin dahsyat hingga gunung itu luluh lantak. Tak seorang pun yang selamat. Bujang Sembilan pun menjelma menjadi ikan.

Demikian cerita Asal Usul Danau Maninjau dari Agam, Sumatra Barat , Indonesia. Konon, letusan Gunung Tinjau itu menyisakan kawah yang luas dan lama-kelamaan berubah menjadi danau. Oleh masyarakat sekitar, nama gunung itu kemudian diabadikan menjadi nama danau, yakni Danau Maninjau. Sementara nama-nama tokoh yang terlibat dalam peristiwa itu diabadikan menjadi nama nagari di sekitar

Danau Maninjau, seperti Tanjung Sani, Sikudun, Bayua, Koto Malintang, Koto Kaciak, Sigalapuang, Balok, Kukuban, dan Sungai Batang.

Cerita di atas termasuk kategori legenda  yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik, yaitu akibat buruk yang ditimbulkan oleh sifat dendam. Dendam telah menjadikan Kukuban tega menfitnah Giran dan Sani telah melakukan perbuatan terlarang. Dari hal ini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa sifat dendam dapat mendorong seseorang berbuat aniaya terhadap orang lain, demi membalaskan dendamnya. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat dendam ini sangat dipantangkan. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:

siapa tak tahu kesalahan sendiri,
lambat laun hidupnya keji
kalau suka berdendam kesumat,
alamat hidup akan melarat

LEGENDA LEMBAH HARAU

LEGENDA LEMBAH HARAU



Legenda ini menceritakan, dahulunya Lembah Harau adalah lautan. Apalagi berdasarkan hasil survey team geologi dari Jerman (Barat) pada tahun 1980, dikatakan bahwa batuan perbukitan yang terdapat di Lembah Harau adalah batuan Breksi dan Konglomerat. Batuan jenis ini umumnya terdapat di dasar laut.

Salah satu air terjun di Lembah HarauMenurut legenda, Raja Hindustan berlayar bersama istri dan anaknya, Putri Sari Banilai. Perjalanan ini dalam rangka selamatan atas pertunangan putrinya dengan seorang pemuda Hindustan bernama Bujang Juaro. Sebelum berangkat, Sari Banilai bersumpah dengan tunangannya, apabila ia ingkar janji maka ia akan berubah menjadi batu dan apabila Bujang Juaro yang ingkar janji, maka ia akan berubah menjadi Ular.

Namun sayangnya, dalam perjalanan kapal tersebut terbawa oleh gelombang dan terdampar pada sebuah selat (tempat tersebut sekarang dinamakan Lembah Harau). Kapal tersebut tersekat oleh akar yang membelintang pada dua buah bukit hingga akhirnya rusak.

Agar tidak karam, kapal itu ditambatkan pada sebuah batu besar yang terdapat di pinggiran bukit (bukit tersebut sekarang dinamakan Bukit Jambu). Batu tempat tambatan kapal itu sekarang dinamakan Batu Tambatan Perahu.

Setelah terdampar, Raja Hindustan bersama dengan keluarganya disambut oleh Raja yang memerintah Harau pada waktu itu. Lama kelamaan, karena hubungan baik yang terjalin, Raja Hindustan ingin menikahkan putrinya dengan pemuda setempat bernama Rambun Paneh. Satu hal lagi, untuk kembali ke negeri Hindustan juga tidak memungkinkan. Ia tidak tahu sumpah yang telah diucapkan Sari Banilai dengan tunangannya, Bujang Juaro.
Tidak berapa lama kemudian, Rambun Paneh menikah dengan Sari Banilai.

Waktu terus berjalan, dan dari perkawinan itu lahirlah seorang putra. Suatu hari, sang kakek, si Raja Hindustan, membuatkan mainan untuk cucunya. Sewaktu asyik bermain, mainan tersebut jatuh ke dalam laut. Anak tersebut menangis sejadi-jadinya. Ibunya, Putri Sari Banilai tanpa pikir panjang langsung terjun ke laut untuk mengambilkan mainan tersebut. Sungguh malang, ombak datang menghempaskan dan menjempit tubuhnya pada dua batu besar. Sari Banilai sadar, bahwa ia telah ingkar janji pada tunangannya dahulu, Bujang Juaro. Dalam keadaan pasrah, ia berdoa pada Yang Maha Kuasa, supaya air laut jadi surut. Doanya dikabulkan, tidak berapa lama kemudian air laut menjadi surut. Ia juga berdoa agar peralatan rumah tangganya didekatkan padanya. Dan ia berdoa, seandainya ia membuat kesalahan ia rela dimakan sumpah menjadi batu. Tidak lama berselang, perlahan-lahan tubuh Putri Sari Banilai berubah menjadi batu.