Jumat, 11 April 2014

Kantor Pos Medan Peninggalan Belanda

Mengenal Lebih Dekat Kantor Pos Besar Medan
Kota Medan tidak hanya dikenal dengan Istana Maimun, tetapi juga bangunan bersejarah lainnya yang masih berdiri kokoh sebagai warisan budaya di utara Esplanade (bahasa Belanda) yang berarti lapangan terbuka yang dianggap sebagai titik nol Medan, yaitu Lapangan Merdeka dan Merdeka Walk saat ini. Salah satu ikon Kota Medan tersebut menjadi saksi perkembangan kota ini sejak 1911.
Seperti apa bangunan dan fungsinya saat ini? Yuk, mengenal Kantor Pos Besar Medan lebih dekat. Bangunan ini tidak banyak mengalami perubahan dari bentuk aslinya meski adanya renovasi, begitu juga fungsinya sebagai kantor pos dengan berbagai aktivitas pelayanan jasa pengiriman. Jika Anda perhatikan pada dinding bagian samping kiri dan kanan bangunan ada tulisan “ANNO 1911” sebagai bukti kelahiran bangunan peninggalan Belanda tersebut. Menariknya, bangunan bergaya geometris tersebut memiliki dinding yang kuat dan tidak pernah retak meski relatif sering dilanda gempa. Inilah keistimewaan peninggalan sejarah yang tidak lekang oleh waktu.

Arsitektur Geometris dan Ukiran Khas Belanda
Sebagai landmark Kota Medan, Kantor Pos Besar Medan ini tak jarang dikunjungi oleh orang-orang yang sekedar bernostalgia dengan Deli atau Medan tempo dulu dan mengambil spot menarik dari bangunan yang menyimpan banyak sejarah tersebut. Ketika Anda memasuki pintu utama kantor pos ini, bagian paling atas dari bangunan ini masih terdapat ukiran logo merpati pos dan dominasi warna kuning dari logo khas Pos Indonesia, di mana sisi kanan dan kiri terukir terompet khas Belanda pada zaman dahulu. Bagian dalam kantor yang disebut vestibule, terdapat lampu hias antik asli dari zaman Belanda masih tergantung di ruang tengah dengan tinggi kurang lebih sepuluh meter dan berada pada ketinggian sekitar enam meter.
Jika balik lagi ke masa seratus tahun lalu, pembangunan Kantor Pos Besar Medan ini tidak terlepas dari kejayaan tembakau Kesultanan Deli di Medan pada masa perdagangan Belanda dan negara-negara Eropa lain. Bangunan ini didesain oleh Snuyf, Direktur Jawatan Pekerjaan Umum Belanda untuk Kesultanan Deli, yang mulai dibangun pada 1909 hingga 1911. Namun, keberadaan kantor pos ini tetap dilestarikan meski bangunan bersejarah lainnya mulai tenggelam di antara bangunan-bangunan pencakar langit.
Lokasi
Kantor Pos Besar Medan terletak di Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat. Kantor ini dapat diakses oleh bermacam jenis angkutan darat dari berbagai penjuru, mulai dari becak motor (bentor), angkutan kota, taksi atau kendaraan pribadi menuju Lapangan Merdeka.

Kamis, 07 November 2013

Dhien, Sebuah Akhir di Tanah Yang Sepi



HARI itu, tepat 11 Desember 1906, Bupati Sumedang waktu itu, Pangeran Aria Suriaatmaja, kedatangan tiga orang tamu. Ketiganya merupakan tawanan titipan dari pemerintah Hindia Belanda. Seorang perempuan tua, renta, rabun serta menderita encok.

Seorang lagi lelaki tegap berumur kurang lebih berumur 50 tahun dan remaja tanggung berusia 15 tahun. Walau tampak lelah mereka bertiga tetap kelihatan tabah. Pakaian lusuh yang dikenakan perempuan itu merupakan satu-satunya pakaian yang ia punya selain sebuah tasbih dan sebuah periuk nasi dari tanah liat.

Belakangan karena melihat perempuan tua itu sangat taat beragama, Pangeran Aria Suriaatmaja tidak menempatkannya di penjara. Melainkan memilih menempatkannya disalah satu rumah milik tokoh agama setempat.

Kepada Pangeran Suriaatmaja, Belanda tak mengungkap siapa perempuan tua renta dan menderita encok itu. Bahkan sampai kematiannya, 06 November 1908 masyarakat Sumedang tak pernah tahu siapa sebenarnya perempuan tua itu.

Perjalanan sangat panjang telah ditempuh perempuan tua itu sebelum akhirnya beristirahat dengan damai dan dimakamkan di Gunung Puyuh tak jauh dari pusat kota Sumedang. Yang mereka tahu, karena kesehatannya yang sangat buruk, perempuan tua nyaris tak pernah keluar rumah. Kegiatannyapun terbatas hanya berdzikir atau mengajari mengaji ibu-ibu dan anak-anak setempat yang datang berkunjung.

Sesekali mereka membawakannya pakaian atau sekadar makanan pada perempuan tua yang santun itu yang belakangan karena penguasaanya terhadap ilmu-ilmu agama disebut dengan Ibu Perbu.

Waktu itu tak ada yang menyangka bila perempuan tua yang mereka panggil Ibu Perbu itu adalahThe Queen of Aceh Batlle dari Perang Aceh (1873-1904) bernama Tjoet Nyak Dhien. Ya, hari-hari terakhir Tjoet Nyak Dhien memang dihiasi oleh kesenyapan dan sepi. Jauh dari tanah air dan orang-orang yang dicintai.

Gadis kecil cantik dan cerdas bernama Cut Nyak Dhien. Dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama di Lampadang tahun 1848. Ayahnya adalah Uleebalang bernama Teuku Nanta Setia yang merupakan keturunan perantau Minang yang datang dari Sumatera Barat ke Aceh sekitar abad 18 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir.

Tumbuh dalam lingkungan yang memegang tradisi beragama yang ketat membuat gadis kecil Cut Nyak Dhien menjadi gadis yang cerdas. Pada usianya yang ke 12 dia kemudian dinikahkan oleh orangtuanya dengan Teuku Ibrahim Lamnga yang merupakan anak dari Uleebalang Lamnga XIII.

Suasana perang yang bergelanyut diatmosfir Aceh pecah ketika 1 April 1873, F.N. Nieuwenhuyzen memaklumatkan perang terhadap kesultanan Aceh. Sejak saat itu gelombang demi gelombang penyerbuan Belanda ke Aceh selalu berhasil dipukul kembali oleh laskar Aceh. Dan Tjoet Nyak Dhien tentu ada disana, ditengah tebasan rencong, pekik perang dan dentuman meriam.

Dia juga yang berteriak membakar semangat rakyat Aceh ketika Masjid Raya jatuh dan di bakar tentara Belanda.

“Rakyatku, sekalian mukmin orang-orang Aceh! Lihatlah! Saksikan dengan matamu masjid kita dibakar! tempat Ibadah kita dibinasakannya! Mereka menentang Allah! Camkanlah itu! Jangan pernah lupakan dan jangan pernah memaafkan para kafir Belanda! Perlawanan Aceh tidak hanya dalam kata-kata!” (Szekely Lulofs, 1951:59).

Perang Aceh adalah cerita tentang keberanian, pengorbanan dan kecintaan terhadap tanah lahir, begitu juga Tjoet Nyak Dhien. Bersama ayah dan suaminya, setiap harinya waktu dihabiskan untuk berperang, berperang dan berperang melawan Kaphe Beulanda. Tetapi perang juga lah yang mengambil satu-persatu orang yang dicintainya, ayahnya lalu suaminya menyusul gugur dalam pertempuran di Glee Tarom 29 Juni 1070.

Dua tahun kemudian, Tjoet Nyak Dhien menerima pinangan Teuku Umar dengan pertimbangan strategi perang. Belakangan Teuku Umar juga gugur dalam serbuan mendadak yang dilakukan Belanda di Meulaboh, 11 Februari 1899.

Tetapi bagi Tjoet, perang melawan Belanda bukan hanya milik Teuku Umar, Teungku Ibrahim Lamnga suaminya bukan juga monopoli Teuku Nanta Setia ayahnya atau para lelaki Aceh saja. Perang Aceh adalah milik semesta rakyat. Setidaknya itulah yang ditunjukan Tjoet Nyak Dhien, dia tetap mengorganisir serangan-serangan terhadap Belanda.

Bertahun-tahun kemudian, segala energi dan pemikiaran putri bangsawan itu hanya dicurahkan pada perang. Berpindah dari satu persembunyian ke persembunyian yang lain, kurang makan dan kurangnya rawatan kesehatan membuat kebugarannya merosot.

Kondisi pasukannya pun tak jauh berbeda. Pasukan itu bertambah lemah hingga ketika pada pada 16 November 1905 sepasukan Belanda menyerbu ke tempat persembunyiannya, Tjoet Nyak Dhien dan pasukan kecilnya kalah telak.

Dengan usia yang telah menua, rabun dan sakit-sakitan Tjoet memang tak bisa berbuat banyak. Rencong pun nyaris tak berguna untuk membela diri. Ya, Tjoet tertangkap dan dibawa ke Koetaradja (Banda Aceh) lalu dibuang Sumedang, Jawa Barat.

Perjuangan Tjoet Njak Dien menimbulkan rasa takjub para pakar sejarah asing, sehingga banyak buku yang melukiskan kehebatan pejuang wanita ini. Zentgraaff mengatakan, para wanita lah yang merupakan de leidster van het verzet (pemimpin perlawanan) terhadap Belanda dalam perang besar itu.

Aceh mengenal Grandes Dames (wanita-wanita besar) yang memegang peranan penting dalam berbagai sektor, Jauh sebelum dunia barat berkoar menyamaratakan persamaan hak yang bernama, Emansipasi.

Kamis, 21 Februari 2013

RENDANG




Bahan :
a. Daging Sapi 2 kg.
b. Kentang kecil2, 500 gram (kalau mau)
Bumbu :
1. Santan pati (kental) 2 kg, (atau 6 buah kelapa tua)
2. Cabe merah 500 gram
3. Jahe sebesar tiga ibu jari tangan
4. Bawang putih 12 siung
5. Bawang merah 16 butir
6. Lada 2 sendok the
7. Cengkeh 12 biji
8. Kayu manis 4 cm.
9. Langkuas, 200 gram
10. Daun sere, 3 batang
11. Daun jeruk purut 6 lembar
12. Daun kunyit 3 lembar
13. Garam secukupnya
Cara Memasak
Daging dipotong2/ dibagi 23 potong dalam satu kilogram
Semua bumbu dihaluskan kecuali kayu manis, daun sere, kunyit, salam dan jeruk
Santan dimasak berasama bumbu2, sampai keluar minyak.
Kemudian dimasukan daging, diaduk sampai kering.
Bagi yang mau dicampur kentang kecil2, masukan setelah daging setengah matang.

Selasa, 23 Oktober 2012

Sekilas "Tambo Minangkabau"



Alam Minangkabau
Ditulis oleh Ibrahim Dt. Sangguno Dirajo

Dewasa ini sangat minim sekali informasi mengenai adat yang kita dapati, seringkali kita mendengar Tambo alam Minangkabau, tapi kita tidak seperti apa isi tambo itu sebenaAmrnya. Begitu juga dengan adat Minangkabau seperti apa adat tersebut. Mulai dari tulisan ini kami dari admin akan memuat tulisan dari Ibrahim Dt. Sangguno Dirajo dalam bukunya Curaian Adat Minangkabau. Serta ucapan terimakasih kepada penerbit Kristal Multimedia Bukittinggi yang telah berkenan memberi ijin untuk menyadur isi buku tersebut.
Sedikit tentang penulis Ibrahim dilahirkan di sungayang Sumatera Barat pada tahun 1858. Pendidikan dimulai di Sekolah Government di Batusangkar, tamat tahun 1868. Pada tahun 1870 beliau menjadi juru tulis Tuanku Titah di Sungai Tarab. Tuangku ini ahli dibidang adat Minangkabau. Maka saat itu beliau tertarik dan memperdalam pengetahuan dibidang Adat Minangkabau sehingga beliau diangkat menjadi Penghulu Andiko pada tahun 1913 dengan gelar datuak Sangguno Dirajo.

I. Pulau Andalas
Menurut bunyi Tambo Alam Minangkabau, adapun orang yang pertama datang mendiami pulau andalas adalah ninik kita Sri Maharaja Diraja namanya. Beliau datang datang kemari dari tanah besar Voor Indie, tanah Rum kata orang tua tua, dan beliau kesini bersama dengan ke enambelas orang laki laki perempuan dari kasta Cateri. Selain itu dibawanya juga Kucing Hitam, Harimau Campo, Kambing Hutan dan Anjing Muk Alam.
Dikatakan Kucing Hitam, Harimau Campo dan lain lainnya itu, sekali kali bukanlah bangsa binatang, tetapi manusia biasa juga. Mereka dijuluki dengan nama nama seperti itu sesuai dengan tingkah laku dan perangai mereka. Semuanya perempuan dan dipelihara oleh ninik Maharaja diraja seperti memelihara anaknya sendiri.
Ninik Sri Maharaja Diraja berlayar dari tanah besar itu dengan sebuah perahu kayu jati. Mula mula mereka berlayar melalui pulau Jawa yang saat itu belum terlihat tanah pulau Jawa itu. Yang tampak hanya puncak gunung Serang dan dipulau itu perahu beliau tertumpuk batu karang sehingga mengalami kerusakan dan tidak bisamelanjutkan perjalanan. Pada saat itu menitahlah ninik Sri Maharaja Diraja kepada mereka yang berada diatas kapal itu “Barangsiapa yang dapat memperbaiki kapal ini seperti sediakala, akan hamba ambil sebagai menantu”
Mendengar titah itu beb erapa cerdik pandai segera berunding, mencari akal agar dapat memperbaiki perahu itu. Maka dengan karunia Allah, maka lima orang tukang segera bekerja dan kapal itu dapat diperbaiki kembali. Sri Maharaja merasa senang dan suka hati serta memuji kepandaian para tukang tersebut.
Kemudian perjalanan dilanjutkan sampai pada suatu kektika mereka melihat sebuah gosong tersembunyi di dalam laut. Tergilang gilang kelihatan dari jauh kira kira sebesar telur ayam, hilang timbuldilamun ombak.
Setelah sampai disitu kiranya ada tanah lebar dengan datarannya, berlabuhlah ninik Sri Maharaja Diraja diatas gosong itu. Gosong itu adalah puncak gunung merapi yang sekarang ini. Disanalah berdiam ninik Sri Maharaja Diraja bersama dengan para pengikutnya. Itulah ninik kita yang mula mula mendiami pulau Andalas ini, hingga menjadi juga oleh yang tua tua dengan memakai pantun ibarat :


Dimana mulanya terbit pelita
Dibalik tanglun nan berapi
Dimana mulanya ninik kita
Ialah di puncak gunung Merapi


Kata orang yang menceritakan, takkala ninik Sri Maharaja Diraja berada di puncak gunung Merapi itu beliau berdo’ a supaya disusutkan air laut.
Dengan karunia Tuhan air laut semakin hari semakin susut juga dan bertambah lebar tanah daratan sehingga nyatalah tempat tempat itu adanya diatas gunung yang sangat besar.
Kata sahibulhikayat, takkala beliau masih berdiam dipuncak gunung itu, dengan takdir Tuhan orang orang yang bernama Kucing hitam, Harimau campo, Kambing hutan dan Anjing Muk Alam masing masing melahirkan seorang anak perempuan. Begitu pula istri Ninik Sri Maharaja Diraja melahirkan seorang anak perempuan pula. Sekalian semua anak itu dipelihara oleh ninik Sri Maharaja Diraja dengan kasih sayang yang tiada dibedakan. Kemudian kelak setelah anak anak itu besar, mereka dinikahkan dengan 5 tukang yang memperbaiki kapal tadi.

II. Galundi Nan Bersela dan Guguk Ampang
Setelah beberapa lama mereka berdiam dipuncak gunung itu, air laut sudah berangsur susut juga dan bertambah besar juga tanah daratan, maka sekalian orang itu berpindah kesebuah lekung dipinggang gunung Merapi itu.
Oleh Sri Maharaja Diraja tempat itu diberi nama Labuhan Sitembaga. Disitulah pada masa dahulu ada Sirengkak nan Berdengkang. Disitu pulauntuk pertama kalinya orang menggali sumur untuk tempat mandi dan tempat mengambil air minum, karena disekitar tidak ada air tawar, yang ada hanya air laut.
Selanjutnya mereka membuat sepiring sawah bernama sawah setampang benih. Disebut setampang benih karena dengan padi yang setampang itu sudah mencukupiuntuk makan orang disaat itu, karena mereka belumbanyak. Padi itu pula menjadi asal padi yang ada sekarang. Sepanjang cerita orang tua tua.
Lama kelamaan tumbuh pula Galundi nan Bersela, air laut bertambah susut juga dan daratan bertambah luas, maka Cateri Bilang Pandai mencari tanah yang lebih baik untuk mereka huni.
Ditemukan sebuah guguk disebelah kanan dari Galundi nan Bersela tadi, dan sekalian orang yang berada di Galundi berpindah ke ketempat baru itu. Tempat itu diberi nama oleh ninik Sri Maharaja Diraja serta Cateri Bilang Pandai dengan nama Guguk Ampang.

III. Nagari Pariangan dan Padang Panjang
Tidak berapa lama antaranya, orang orang yang menetap di Guguk Ampang berpindah pula dengan membuat setumpak tanah yang datar di baruh Guguk Ampang itu.
Tanah disini lebih baik daripada tanah di Ampang Gadang. Mereka pun berbondong bondong membuat tempat tinggal ditempat yang baru ini dan oleh ninik Sri Maharaja Diraja beserta Cateri Bilang Pandai tempat ini diberi nama Perhurungan. Guguk Ampang tadi pada saat ini bernama kampung Guguk Atas. Lama kelamaan orangpun bertambah kembang juga, dan kampung Perhurungan bertambah maju. Orang semakin hari semakin riang pula.
Atas prakasa ninik Sri Maharaja Diraja beserta cerdik pandai masa itu, dibuat semacam permainan anak negeri seperti Pencak Silat, Tari Payung dan bermacam peralatan untuk gung dan talempong, gendang, serunai rabab, kecapi dan lain lain sehingga menjadikan orang bertambah riang juga disetiap waktu.
Suasana masyarakat yang selalu dalam keadaan riang itu, menimbulkan keinginan dari ninik Sri Maharaja Diraja dan Cateri Bilang Pandai untuk menganti nama kampung menjadi Pariangan.
Kemudian karena bertambah kembang juga, seorang hulubalang ninik Sri Maharaja Diraja pergi membuat tempat tinggal dekat sebuah batu besar disuatu tanah disebelah kanan pariangan. Karena tempat itu baik pula, berdatangan orang pariangan membuat tempat tinggal disitu.
Lama kelamaan tempat itu menjadi sebuah kampung yang ramai pula. Oleh Cateri Bilang Pandai kampung itu diberi nama Padang Panjang. Sebab yang pertama sekali menemukan daerah itu adalah hulubalang yang menyandang gelar Pedang nan Panjang. Kampung Pariangan dan Padang Panjang semakin hari semakin ramai, dan kedua kampung ini dibawah hukum ninik Sri Maharaja Diraja.
Pada suatu hari bermusyawarahlah segala isi kampung Pariangan dan Padang Panjang untuk mendirikan sebuah Balairung tempat raja duduk menghukum (memerintah) beserta orang besar lainnya Datuk Suri Diraja, Cateri Bilang Pandai yang bernama Indra Jati. Balairung itu didirikan didalam kampung Pariangan, dihiasi dengan lapik lalang.
Ruangan hanya sebuah saja sehingga sampai saat ini disebut orang Balai Saruang. Disitulah tempat ninik Sri Maharaja Diraja dan orang orang besarnya menghukumwaktu itu.

IV. Penghulu Pertama
Lama pula antaranya orangpun bertambah ramai pula. Pada suatu hari bermusyawarah pula ninik Sri Maharaja Diraja dengan Datuk Suri Diraja dan Cateri Bilang Pandai, serta segala orang banyak dari kampung Pariangan dan Padang Panjang di Balai Saruang tadi.
Musyawarah itu adalah untuk memilih orang yang akan menjadi yang memerintah dan menghukum dibawah raja.
Adapun orang yang akan ditanam jadi ketua adalah orang yang akan menjadi penghulu orang banyak itu, dengan fungsi antara lain :


Kusuk yang akan menyelesaikan
Keruh yang akan menjernihkan
Sesat yang akan menghimbau
Terluncur yang akan menghelakan

Itulah orang yang akan memimpin orang banyak, dibawah ninik Sri Maharaja Diraja.
Didalam permusyawaratan itu dicapai kata sepakat yakni akan menanam dua orang ketua, seorang di Pariangan dan seorang di Padang Panjang. Hasil kesepakatan itu dikembalikanke kepada ninik Sri Maharaja diraja dan beliau menyetujui.
Pada kesempatan itu Datuk Suri Diraja bertitah “Berbahagialah kamu sekalian, telah sama sama sepakat untuk menanam dua orang ketua yang akan menjadi penghulu oleh kamu sekalian. Apa nama pangilan dan apa nama pangkatnya bagi keduanya ?”
Mendengar titah Datuk Suri Diraja itu, tidak ada yang dapat menjawab sebab belum ada kata mupakat tentang itu. Sekalian orang banyak itu memohon kepada ninik Sri Maharaja Diraja untuk kembali bermusyawarah untuk menetapkan apa nama panggilan dan pangkat bagi keduanya tadi.
Tetapi setelah beberapa saat lamanya mereka duduk timbang menimbang, hasilnya nihil sama sekali. Akhirnya sekalian orang banyak itu memulangkan kata kepada ninik Sri Maharaja Diraja.
“Telah puas kami bersama sama mencari nama pangkat dan nama pangilan bagi ketua kami, namun tidak dapat oleh kami, melainkan sebuah kata ketua saja. Oleh sebab itu kami serahkan saja kepada Tuanku semua, apa yang baik bagi Tuanku, kami akan menurut saja.”
Setelah itu bertitahlah ninik Sri Maharaja Diraja kepada sekalian orang banyak itu : “Adapun orang akan kita jadikan ketua itu tentulah akan dipilih dari kita yang hadir disini, yaitu orang yang lebih pandai dan baik tingkah lakunya. Sebab orang itu, pergi tempat kita bertanya, pulang tempat kita beberita. Orang itulah yang akan memelihara buruk baiknya kita sekalian, tempat kita mengadukan segala hal yang baik dan buruk.
Orang itu yang akan menimbang mudharat danmanfaat diatas kita sekalian serta menghukum barang sesuatunya buruk dan baik.
Oleh sebab itu sepanjang pendapat hamba, patutlah kita muliakan benar orang itu dengan semulia mulianya daripada kita yang banyak ini. Kita tuakan orang itu dengan kata mupakat bersama dan tuanya kita samakan dengan orangtua ninik mamak kita yaitu ‘datuk’ namanya. Dengan demikian kepadanya kita panggil Datuk meskipun umurnya lebih muda daripada kita.
Kita wajib menghormatinya, apa titahnya kita junjung, apa perintahnya kita turut, agar sentosa kita dari marabahaya selama hidup didunia ini. Jikalau kita tidak bertindak dan tiada turut menurut, niscaya tiadalah kita mendapat keselamatan”
Mendengar penitahan ninik Sri Maharaja Diraja itu, senanglah hati sekalian orang banyak itu. Panggilan Datuk sampai sekarang tidak berubah. Itulah asal mulanya maka segala penghulu itu dipanggil Datuk dan disebut orang juga ninik mamak, ninik daripada mamaknya orang banyak. Setelah putus kata mupakat, diadakan helat jamu di kampung Pariangan dan Padang Panjang.
Pada masa itu ditetapkan kedua penghulu tadi seorang di Pariangan bergelar Datuk Bandaharo Kayo dan seorang lagi di Padang Panjang bergelar Datuk Maharaja Besar. Itulah penghulu pertama yang ada dipulau andalas ini, yang disebut juga pulau Perca.
Adapun Datuk Suri Diraja bukanlah penghulu yang diangkat orang, beliau diberi nama seperti itu hanya karena beliau berkarib dengan raja. Beliau dipanggil datuk karena tuanya saja, dan lagi beliau adalah orang cerdik pandai, lubuk akal lautan budi, tempat orang berguru dan bertanya pada waktu itu di Pariangan Padang Panjang, serta menjadi guru oleh ninik Sri Maharaja Diraja.
Dengan bertambah ramainya orang di Pariangan dan Padang Panjang, oleh ninik Sri Maharaja Diraja dengan mupakat segala isi kampung diberi nama Nagari Parangan Padang Panjang. Sampai saat ini nama itu tidak pernah dirubah orang dan itulah nagari tertua di pulau Andalas ini.
Dari pernikahan ninik Sri Maharaja Diraja dengan adik datuk Suri Diraja yang bernama Tuan Putri Indah Jalia, lahirlah seorang yang bernama Sutan Paduka Besar.

V. Sungai Tarab Nagari Tua
Seiring dengan perkembangan waktu, masyarakat di Nagari Pariangan bertambah ramai juga, sedang nagari itu tidak begitu luas sehingga sudah penuh sesak oleh orang banyak. Maka bermusyawarahlah ninik Sri Maharaja Diraja dengan segala orang besarnya untuk memindahkan sebagian orang kedaerah baru.
Setelah bulat mupakat, mendakilah ninik Sri Maharaja Diraja ke puncak gunung merapi hendak melihat dimana tanah yang baik dan subur akan tempat memindahkan orang orang itu. Setibanya beliau dipuncak gunung merapi, memandanglah beliau kesegala arah. Pandang jauh dilayangkan pandangan dekat di tukikkan.
Kelihatan oleh beliau setumpuk tanah tanah gosong yang ditumbuhi rimba di baruh gunung kearah selatan yang kelihatannya tanahnya berpasir. Gosong gosong itu adalah puncak puncak bukit yang tersembur dari permukaan laut waktu itu.
Setelah itu beliau kembali turun, dan bersama sama dengan Cateri Bilang Pandai beliau pergi melihat tanah itudengan berlayar. Pelayaran beliau itu hanya menepi gunung merapi saja dan akhirnya beliau sampai ditepi pantai, lalu berlabuh dan langsung memeriksa tanah tadi.
Didapati oleh beliau tanah itu lebih luas dari Pariangan Padang Panjang dan nampaknya lebih baik dan lebuh subur.
Disebelah mudik tanah itu ada pula sebidang padang pasi yang amat luas yang sangat baik untuk tempat orang bermain dan bergembira.
Setelah ada keyakinan bagi ninik Sri Maharaja Diraja dan Cateri Bilang Pandai, lalu keduanya kembali ke Pariangan Padang Panjang untuk menjeput orang orang yang akan mendiami tempat tersebut.
Beliau membawa tujuh karib bai’id beliau laki laki dan perempuan, begitupun Cateri bilang pandai membawa pula enam belas orang, yaitu delapan pasang suami istri.
Setelah mereka tiba ditanah tadi, mereka mulai membuka ladang, berladang mencencang melateh, membuat teratak ditempat itu. Lama kelamaan teratak menjadi sebuah dusun bernama dusun Gantang Tolan dan dusun Binuang Sati.
Kemudian dusun itu bertambah lama bertambah ramai pula. Maka dibuat orang pula dipinggir dusun itu sebuah koto tempat berkampung, berumah tangga. Dari koto itulah orang orang berulang ulang keladangnya yang didusun tadi.
Semakin lama didalam koto tadi orang semakin bertambah ramai juga, lalu koto itupun dijadikan nagari, diberi nama nagari Bunga Setangkai. Kenapa bunga setangkai, sebab sewaktu ninik Sri Maharaja Diraja sampai disitu beliau mendapatkan setangkai bunga yang sangat harum baunya, dan dibawah bunga itu ada pula sebuah batu luas dan datar. Panjangnya tujuh tapak ninik Sri Maharaja Diraja, batu itu diberi nama oleh beliau “Batu Tujuh Tapak” Sampai sekarang batu itu masih ada didalam nagari Bunga Setangkai.
Adapun padang pasir yang di mudik nagari Bunga Setangkai, lama-kelamaan ditumbuhi oleh kayu-kayuan, sehingga kemudian menjadi rimba yang berkampung kampung. Pada akhirnya daerah itu menjadi koto, lalu menjadi nangari yang diberi nama Pasia Laweh, takluk kepada nagari Bunga Setangkai.
Didalam nagari Bunga Setangkai dibuat orang sebuah balairung tempat ninik Sri Maharaja Diraja dan Cateri Bilang Pandai menghukum. Dekat balairung itulah ninik Sri Maharaja Diraja membuat istana tempatdiam.
Kemudian keluarlah sebuah mata air dibawah sebuah pohon yang bernama tarab dihalaman istana ninik Sri Maharaja Diraja. Air yang keluar sangat jernih dansejuk serta besar sehingga menjadi suatu anak sungai, oleh sebab itu Cateri Bilang Pandai memberi nama Sungai Tarab.
Karena Sungai itu sangat termasyhur nama Bunga Setangkai dilupakan orang sehingga nagari itu berubah nama jadi nagari Sungai Tarab.
Didalam nagari Sungai Tarab ditanam orang delapan orang penghulu yang diambil dari dalam kaum orang yang delapan pasang, yang mula mula mencencang melateh nagari tersebut. Penghulu yang delapan itu memerintah orang dalam nagari Sungai Tarab dan menguasai masing masing kaumnya. Penhulu itu bernama “Datuk nan Delapan Batur” Yakni delapan batu kedudukan dahulu.
Kemudian setiap penghulu itu membuat pula sebuah balairung sehingga disebut orang pula delapan balai kedudukan Datuk Nan Delapan Batu.
Delapan balai kemudian menajdi delapan suku yang terbagi atas 2 kampung. Satu kampung di mudik (Sungai Tarab) dengan lima balai dan satu lagi di hilir dengan 3 balai sehingga kampung ini disebut TigaBatur.
Setelah berkoto, bernagari dan berpenghulu yang akan memelihara orang didalam Sungai Tarab, ninik Sri Maharaja diraja merasa senang sekali dan beliau beserta Cateri Bilang Pandai kembali lagi ke Pariangan Padang Panjang.
Meninggalnya Ninik Sri Maharaja Diraja
Ninik Sri Maharaja Diraja meninggal di Pariangan Padang Panjang, yaitu beberapa lalu kemudian setelah beliau kembali dari Sungai Tarab. Sepeninggal beliau jabatan raja di pariangan Padang Panjang tidak ada karena beliau tidak mempunyai waris. Posisi beliau dijabat oleh karib beliau yang ada di Sungai Tarab. Adapun yang memerintah di Pariangan Padang Panjang sepeninggal ninik Sri Maharaja Diraja adalah Datuk Bandaharo Kayo, Datuk Maharaja Besar, Datuk Suri Diraja, Cateri Bilang Pandai dan Cateri Rino Sudah. Sedangkan yang memerintah di Sungai Tarab dipegang oleh Datuk Delapan Batur, dibantu oleh Cateri Bilang Pandai mewakili karib ninik Sri Maharaja yang belom dewasa.
Tuan Putri Jamilan
Setelah beberapa lama ninik Sri Maharaja Diraja meninggal dunia, Tuan Putri Indah Jalia janda beliau kawin dengan Indra Jati yang bergelar Cateri Bilang Pandai.
Dari perkawinan itu beliau berputra enam orang, dua orang laki laki, pertama bernama Sutan Balun dan yang kedua bernama Sikalab Dunia dan empat orang perempuan bernama: Putri Reno Sudi, Putri Reno Mandi, Putri Reno Judah dan si bungsu Puteri Jamilan. Tuan Putri Jamilan ini kawin dengan karib ninik Sri Maharaja Diraja yang menjadi raja di Sungai Tarab itu.

VI. Datuk Katumanggungan, Datuk Perpatih nan Sabatang, dan Datuk Sri Maharaja Nan Banaga Naga.
Menurut bunyi Tambo Alam Minangkabau dan curaian orang tua tua, setelah dewasa anak ninik Sri Maharaja Diraja yang bernama Sutan Paduka Besar dan anak anak Cateri Bilang Pandai bernama Sutan Balun dan Sikalab Dunia, atas kesepakatan anak nagari Pariangan Padang Panjang dan anak nagari Sungai Tarab, diangkat menjadi penghulu.
Sutan Paduka Besar bergelar datuak Katumanggungan, Sutan Balun bergelar Datuak Parapatiah Nan Sabatang, dan Sikalab Dunia bergelar Datuak Sri Maharaja nan Banaga naga.
Beliau beliau itulah penghulu ninik kita, yang sangat cerdik pandai, lubuk akal lautan budi, lagi keramat ketiganya. Meliau bertiga menata adat lembaga untuk kita orang Alam Minangkabau.
Kata ahli adat, setelah Sutan Balun diangkat jadi penghulu, beliau pergi berlayar keluar Pariangan Padang Panjang, hendak pergi tamasya ke pulau Langgapuri(Serindip Cylon).
Dalam perjalanan kembali pulang, ditengah lautan beliau mendapat sebatang kayu yang berisi lengkap didalamnya segala perkakas untuk pertukangan seperti kapak, lading, pahat dan perpatih. Oleh sebab itu dia digelari Datuk Perpatih Nan sabatang Kayu, kemudian ditetapkan dengan Datuk Perpatih Nan Sabatang saja.
Adapun kayu yang berisi alat perkakas ditemukannya itu berasal dari peninggalan nabi Nuh. Perkakas itu diletakkan orang dalam lobang sebuah pohon kayu dan hanyut ke laut.
Dengan karunia Allah kayu itulah yang didapatkan oleh Datuk Parapatiah Nan Sabatang. Benar atau tidaknya cerita ini wallahu ‘alam.
Diceritakan kembali, sesudah ninik yang bertigaitu diangkat orang jadi penghulu, semenjak itulah beliau berusaha mencari ikhtiar memperbaiki nagari dan memperluas jajahan di tanah Alam Minangkabau serta berusaha membuat bermacam macam aturan adat lembaga yang akan dipakai orang didalam Nagari yang telah beliau dirikan itu, untuk penjaga kesentosaan dan keselamatan orang yang berada didalam nangari.
Adat lembaga yang beliau tinggalkan menjadi pegangan bagi masyarakat Minangkabau sampai sekarang, adat lembaga itu amat baik dan sempurna aturannya, tidak dapat disanggah oleh jauhari pun, mempunyai akal budi yang sempurna. Bila ada orang yang merubah atau merusak warisan beliau itu, tak dapat tidak pastilah mendatangkan kesusahan dan kerugian besar bagi dirinya serta bagi segala orang di dalam nagari sampai kepada anak cucunya.

VII. Nagari Limo Kaum
Kata ahli adat, pada suatu ketika ninik Parapatiah nan Sabatang bersama lima pasang suami istri berlayar keluar dari nagari Pariangan Padang Panjang menuju tanah lapang yang ditumbuhi rimba berkampung kampung. Di situ kelima pasang tadi mencencang melateh membuat ladang dan dusun tua. Disitu ninik Parapatiah Nan Sabatang membuat rumah dibawah kayu bodi nago taram, kemudian dibuatnya pula sebuah balai di dusun tua itu yang berparit dan berpagar batu.
Sebab itu balai tadi dinamakan balai batu, lalu dibuat pula sebuah kubu dibaruh dusun tua tadi, yang dinamai kubu raja.
Lama kelamaan berkembang pula orang yang lima pasang tadi. Karena orang sudah ramai dibuat pula lima buah kampung seedaran dusun tadi, yang bernama kampung Balai Batu, Kampung Kubu Rajo, Kampung Belah Labuh, Kampung Dusun Tua(Kota Gadis) dan Kampung Kampai (Piliang). Kelima kampung ini akhirnya dinamakan Kampung Lima Kaum.
Kemudian menyusul pula dua belas pasang suami istri dari Pariangan Padang Panjang yang dipimpin oleh seorang Penghulu yang bergelar Datuk Tan Tejo Maharaja Nan Gadang. Penghulung badanya besar dan panjang kira kira sepuluh hasta panjangnya.
Sampai sekarang masih ada kubur beliau di kampung Pariangan, yang dikenal juga dengan kubur Datuk Tan Tejo Gurahana.
Mereka sampai di nagari yang bernama Jambu sekarang ini dan tidak dapat melanjutkan perjalanannya ke nagari Limo Kaum karena tidak ada jalan kesana. Lalu berkata Datuk Tan Tejo kepada orang yang dibawanya itu, katanya : “Kaniaklah (Kemarilah) kita berbalik” lalu surutlah mereka kembali sampai kesebuah dusun yang mereka beri nama Keniak.
Rupanya yang dimaksud dengan “ka niak” oleh datuk Tan Tejo tadi adalah kampung tabek sekarang ini. Disitu mereka berladang dan membuat taratak. Datuk Tan Tejo membuat sebuat tebat besar, lalu dibuat orang pula setumpak sawah dekat tebatnya itu dan di mudik sawah itu dibuat pula sebuah taratak, lama kelamaan taratak menjadi dusun dan dusun menjadi kampung pula, yang bernama kampung sawah tanah. Akhirnya kedua belas pasang itu terbagi dua. Sebagian tinggal bersama beliau dikampung Tebat dan sebagian lagi menetao dikampung Sawah Tangah.
Lama kelamaan berkembang pula orang dikampung Tabek dan kampungSawah Tangah itu. Datuk Tan Tejo mendirikan sebuah balai dikampung Tabek yang tonggaknya dari teras jilatang dan parannya dari akar lundang, sedang tabudnya dibuat dari batang pulut pulut, yang digetang dengan jangat tuma dan gendangnya dari padang seliguri.
Itulah keganjilan yang dibuat oleh Datuk Tan Tejo Maharaja Nan Gadang. Sampai kini tonggak jilatang dan gendang saliguri masih ada dikampung Tabek dan kampung Sawah Tangah. Selanjutnya karena telah berkembang kampung Tabek dan kampung Sawah Tangah dijadikan orang menjadi sebuah nagari yang bernama Nagari Tabek Sawah Tangah.
Oleh karena Nagari Tabek Sawah Tangah itu menjadi ramai dan sesak pula, mamak pecahan orang orang yang dua belas tadi pergi berladang merambah rimba kecil di kepala dusun tua tempat ninik Parapatiah Nan Sabatang tadi, tempat itu dinamai orang Parambahan.
Dari parambahan itu dibuat sebuah labuh arah ke kubu raja, tetapi mereka tidak berhasil karena karena terlalu susah, jalan mendaki dan menurun serta berbelok belok. Dan labuh itu diberi nama Taratak labuh.
Karena telah menjadi ramai pulang orang di taratak labuh, Parambahan dan Tabek Sawah Tangah merekapun semakin berkembang dantelah menbuat 12 koto disekitar nagari limo kaum. Kedua belas koto itu menurut penitahan ninik Parapatiah Nan Sabatang, yaitu :


1. Labuah
2. Parambahan
3. Silebuk
4. Ampalu
5. cubadak
6. Sianyang
7. Rambatan
8. Padang Magek
9. Ngungun
10. Panti
11. Pabaluran
12. Sawah jauh

Lama kelamaan koto nan duabelas ini ramai pula. Oleh ninik Parapatiah nan Sabatang ke dua belas koto ini sampai ke Tabek Tangah sawah dijadikan satu dengan orang yang berada di Limo Kaum dengan nama Limo Kaum dua Belas Koto. Kemudian dipecah lagi menjadi Limo Kaum Dua Belas Koto dan Sembilam Koto Didalam.
Adapun koto yang sembilan itu ialah dua-dua satu bilang : Tabek Bata dan Sela Goanda; Beringin dan Koto baranjak; Lantai Batu dan Bukit Gombak; Sungai Tanjung dan Barulak serta Raja Dani.
Oleh Ninik Parapatiah Nan Sabatang masyarakat nagari Lima Kaum yang Dua Belas Koto itu sampai ke Tabek Sawah Tangah diberi pula satu pucuk pimpinan yaitu Penghulu dengan gelar Datuk Bendahara Kuning, berkedudukan di kubu raja Lima Kaum.
Setelah teratur nagari Limo Kaum Dua Belas Koto itu, maka senanglah Hati Ninik Parapatiah nan Sabatang dan beliau kembali ke Pariangan Padang Panjang.

VIII. NAGARI SUNGAYANG
Kata orang yang menceritakan, tidak berapa lama kemudian ninik Parapatiah nan Sabatang berlayar pula membawa tujuh pasang suami istri. Mereka sampai pada suatu tanah menanjung kedalam sungai. Karena tanah itu baik dan subur, mereka menetap disana dan berladang membuat taratak. Tempat itu beliau beri nama Pangkal Bumi.
Kemudian menyusul pula duapuluh tiga pasang suami istri dari Pariangan Padang Panjang yang ingin mencari penghidupan disana karena di Pariangan sudah penuh sesak.
Mereka menetap di daerah antara Pangkalan Bumi dan Sungai Tarap. Mereka bersama sama dengan yang tujuh pasang suami istri berladang dan membuat taratak.
Tempat mereka menambatkan perahu atau (jung) nya, dinamakan “Tembatan Ajung”, lalu disingkat menjadi tabek Ajung. Sedangkan Pangkal bumi berubah nama jadi Ujung Tanah.
Lama kelamanaan berkembang pula orang orang yang di Taratak dan di lading padi tadi, taratak itu menjadi dusun yang ramai, lalu dibuat orang dua buah koto dipinggir taratak itu, yang bernama Tanjung dan Sungai Mangiang, sebab mata air yang mengalir disana kerapkali jadi mangiang (pelangi) dan dari kedua koto itulah orang pulang pergi ke taratak dan ladangnya masing masing. Hingga kini disitu masih adatempat yang bernama taratak dan lading.
Kemudian sesuai dengan perkembangan manusia, koto itu dijadikan orang nagari, oleh ninik Parapatiah Nan Sabatang nagari itu diberi namaTanjung Sungayang Nan Batujuah., karena yang menetap di Nagari itu adalah orang yang dua puluh tiga pasang ditambah tujuh pasang tadi.
Keturunan mereka sampai kini masih ada di nagari itu. Itulah orang yang berhutan tinggi dan berhutan rendah dan mereka ada berpangkat sepanjang adat di dalam Nagari itu.
Kata ahli adat, sesudah sumur digali nagari nagaridicecak dalam nagari Sungai Tarab, Lima Kaum dan Tanjung Sungayang, dan di setiap nagari itu orang sudah begitu ramai, maka bermupakatlah Datuk Katumanggugan, Datuk Parapatiah Nan Sabatang, Datuk Ssri Maharaja nan banaga naga hendak mencari tanah yang baik untuk memindahkan orang nagari tersebut. Setelah putus mupakat, beliau bertiga berlayar bertiga menjalani teluk dan rantau.
Setelah tampak tanah tanah yang dianggap baik ketiganya kembali lagi. Lalu dengan tiga buah perahu, setiap perahu memuat lima puluh orang laki laki dan perempuan, mereka menuju ketempat tempat yang sudah dilihat tadi. Disetiap tempat itu beliau tempatkan sepasang, lima pasang, ada yang enam dan delapan pasang tergantung dengan besar kecilnya tanah yang akan didiami itu.
Lama kelamaan orang orang itupun berkembang pula dan tempat orang orang itu dari taratak menjadi dusun, dusun menjadi koto, dan kemudian menjadi nagari. Demikianlah caranya ninik moyang kita dalam memperluas daerahnya di pulau perca ini.
Oleh karena asal orang orang itu dari nagari Sungai Tarab, Lima Kaum, Tanjung Sungayang dalam Tambo Alam Minangkabau nagari yang tiga ini disebut nagari tertua di alam Minangkabau ini.
Setelah selesai menempatkan orang orang didaerah yang baru itu, maka kembalilah ketiga ninik tadi ke Pariangan Padang Panjang. Mereka mulai bekerja membuat ketetapan hukum yang akan dipakai disetiap nagari yang baru tadi.
Setelah itu mereka memohon kepada bapak beliau yang bernama Indra Jati bergelar Cateri Bilang Pandai untuk pergi memeriksa keadaan orang orang di nagari yang baru itu dan sekaligus menetapkan penghulunya masing masing.
Permintaan anak anaknya dipenuhi oleh Cateri Bilang Pandai. Berangkatlah beliau ke nagari nagari yang baru itu dan disetiap nagari diangkat seorang penghulu untuk setiap kaumnya.
Penghulu inilah “kusut yang akan menyelesaikan, keruh yang akan menjernihkan” serta memelihara orang orang itu dari hal hal yang buruk dan baik dengan mendirikan pusaka Alam Minangkabau.
Barangsiapa yang diangkat menjadi penghulu diwajibkan terlebih dahulu mengisi adat menuai lembaga kepada segala orang yang ada didalam nagari itulah yang mengendangkan jadi penghulu.
Begitu juga barang siapa yang akan menjadi raja, wajib pula mengisi adat menuang lembaga kepada isi alam takluk jajahannya, memberi makan-minuman orang orang yang datang diwaktu raja dinobatkan serta memotong kerbau dan sapi seberapa cukupnya. Selain itu raja itu wajib mengeluarkan emas nan sesukat seulang aling, nan sekundi kundi, sepating setali bajak namanya sebagai pengisi adat kepada penghulu dan orang orang yang patut. Sebab orang orang itulah yang merajakannya.
Karena banyaknya penghulu yang diangkat, banyak pula gelar penghulu ditiap tiap suku atau nagari, namun gelar itu tidak boleh sama. Kalau ada yang sama itu namanya sudah dibelah (dipecah)

IX. Luhak nan Tigo, Laras Nan Duo
Pada suatu ketika ninik yang bertiga ini naik pula ke puncak gunung merapi. Disana beliau menemukan tiga buah akar yang berjurai jurai. Sejurai menghadap kearah timur, Sejurai jatuh kebarat dan sejurai lagi jatuh ke utara. Maka memandanglah beliau kearah timur nampak rimba berkampung kampung.
Ditepi rimba itu sudah diisi oleh orang, begitu juga ketika beliau memandang kearah barat dan utara, banyak pula tanah yang sudah dihuni orang. Sedangkan disebelah selatan kelihatan puncak puncak gunung yang tersembur dari dalam laut.
Maka mupakatlah ketiga ninik itu untuk turun melihat tanah dan keadaan orang yang sudah didiami itu. Ninik Katumangguangan berjalan ke arah barat, Ninik Parapatiah Nan Sabatang berjalan kearah timur, dan Ninik Sri Maharaja berjalan kearah utara.
Sekembalinya dari nagari nagari itu beliau kembali lagi dan bertemu di Pariangan Padang Panjang lalu ninik bertiga menceritakan pengamatan yang sudah dilakukan di daerah itu.
Diceritakan oleh Ninik Parapatiah Nan Sabatang tanah berbukit bukit dan berlurah lurah, airnya jernih ikannya jinak dan buminya dingin.
Diceritakan pula oleh ninik Katumanggungan tanah yang disebelah barat gunung merapi airnya keruh ikannya liar, buminya hangat dan orangnya keras hati, suka bermusuh musuhan dan selalu berkelahi pada masing masing kaum.
Oleh ninik Sri Maharaja Nan Banaga Naga diceritakan bahwa bahwa tanah sebelah utara gunung airnya manis ikannya jinak, buminya tawar dan dulu orang yang ditempatkan sebanyak lima puluh orang telah berkurang lima pasang, hilang dipadang ribu ribu tampa tahu kemana perginyaorang itu.
Kemudian bermupakatlah ninik yang bertiga menceritakan itu kepada mamaknya datuk Suri diraja. Oleh datuk Suri diraja diberi nama :
-Luhak Tanah Datar untuk tanah yang sebelah timur gunung merapi yaitu tanah yang dijalani ninik Parapatiah nan Sabatang.
-Luhak Agam untuk daerah yang dijalani oleh ninik Katamanggungan.
-Luhak Limapuluh untuk daerah yang dijalani oleh ninik Sri Maharaja nan Banaga Naga.
Itulah asalnya maka alam Minangkabau ini terbagi atas tiga luhak. Masing masing luhak ini diperintah oleh ninik yang bertiga tadi. Selanjutnya oleh datuk Datuk Katamanggungan dan Datuk Parapatiah Nan Sabatang ketiga luhak dibagi jadi dua kelarasan, yaitu:
-Laras Koto Piliang, Pemerintahan Datuk Katumanggungan
-Laras Bodi Caniago, Pemerintahan Datuk Parapatiah nan Sabatang.
Nagari nagari yang masuk kedalam laras koto Piliang adalah : Tanjung Gadang Mudik sampai Laut nan Sedidih, gunung merapi hilir, keliling gunung semuanya, sedangkan yang masuk bodi caniago adalah daerah Mudik hingga Padang Tarab Hilir.
Meskipun sudah dibagi, disetiap nagari itu selalu menyela orang yang dua kelarasan itu tetapi yang paling banyak adalah kelarasan koto piliang.
Perbedaan jumlah pengikut ini mengakibatkan terjadinya perselisihan antara datu Katumanggungan dan datuk Parapatiah nan Sabatang. Perselisihan kedua orang besar itu tidak dapat didamaikan oleh isi Alam Minangkabau karena keduanya sama sama keras.
Selanjutnya terjadilah peperangan yang akhirnya dimenangkan oleh laras koto piliang karena jumlah mereka lebih banyak dibandingkan pengikut kelarasan bodi caniago.
Pada masa itu berdirilah pusaka perang, siapa yang kalah harus mengisi penampun abu, bila tidak ada yang menang atau seri hanya berjabat tangan.
Dengan kalahnya laras Bodi Chaniago, maka ia mengisi penampun abu kepada laras Koto Piliang dibayar dengan enam ekor kuda oleh datuk datuk lima kaum dua belas koto dan tiga ekor kuda putih dari datuk nagari nan tiga, yaitu oleh datuk Nagari Tanjung Sungayang dan Tanjung Gadang, semua kuda diberi bertali cindai, dibawa kedelapan batur yakni nagari Sungai Tarab.
Menurut cerita orang tua, kekalahan laras Bodi Chaniago membuat datuk Parapatiah Nan Sabatang merasa sakit hati. Beliau berniat hendak membunuh datuk Katumangguangan.
Pada suatu malam beliau menjarah ke dalam nagari Sungai Tarab mencari Datuk Katumangguangan namum tidak bertemu. Dengan perasaan marah dan kecewa itu maka ditikamnya lah satu batu besar dikampung Kurimbang Batu Halang dengan kerisnya yang bernama Ganja Erak sehingga batu itu tembus.
Lalu dihentakkan lagi dengan tongkat besinya sehingga tembus pula. Batu yang ditikam itu sampai kini masih terdapat di tepi sawah di Ulak Kampung Budi yang tidak seberapa jauh dari Kampung Kurimbang Batu Halang. Begitu juga dengan batu yang ditikam di Lima Kaum sampai sekarang masih ada dikampung Balai Batu. Kedua batu dinamakan orang Batu Batikam.
Nagari Pariangan Padang Panjang tidak termasuk kepada nagari yang dibagi menjadi dua kelarasan. Sebab nagari itu adalah nagari tertua dalam Alam Minangkabau. Sehingga masyarakat disana mempunyai satu kelarasan yang diberi nama oleh ninik yang berdua Laras Nan Panjang.
Nagari yang termasuk kedalam laras Nan Panjang adalah sehiliran batang Bengkawas sampai ke Guguk sikaladi Hilir, terus ke bukit tembesi bertupang mudik. Oleh orang orang tua laras Nan Panjang itu disebutkan :


Pisang sikelat-kelat hutan
Pisang tembatu bergetah
Koto piliang dia bukan
Bodi Chaniago dia entah


Setelah Datuk Katumangguangan memenangkan peperangan itu, beliau memberi nama nagari Lima Kaum dua belas koto itu dengan nama Gadjah Gadang Patah Gadingnya, dan nagari Tanjuang Sungayang beliau namakan Tanjung Sungayang nan bertujuh.
Nagari tempat beliau menetap diberi nama Sungai Tarab Darussalam. Pemberian nama nama baru itu sangat menyakitkan hati Datuk Parapatiah Nan Sabatang. Begitulah yang dicceritakan oleh orang orang tua, benar tidaknya wallahu’alam.
Permupakatan antara Datuk Katumangguangan, datuak Parapatiah nan Sabatang dan Datuk Sri Maharaja nan Banaga naga tentang menetapkan hukum setta cupak gantang yang akan dipakai dalam luhak nan tiga laras nan dua adalah sebagai berikut :
Cupak yang dipakai gantang yang dipicahan kepada setiap luhak di dalam laras nan dua adalah cupak yang dua belas tail isisnya, dan gantang yang kurang dua puluh lima tail genap isinya, serta emas yang enam belas emas berat timbangannya, yang se emas empat kupang, sekupang enam kundi merah, hitam bagian tampuknya. Setali tiga uang, yang seuang satu kundi, yang seteang setenganh kundi, itulah yang dipalut kata mupakat ninik yang bertiga tadi.
Meskipun sudah ada kesepakatan selalu ada perbedaan pendapat diantara ninik yang bertiga itu. Misalanya menurut pendapat datuak Katumangguangan setias orang yang terpidana wajib bersumpah baginya.
Namum oleh datuk Parapatiah nan sabatang sumpah itu tidaklah perlu, karena semua itu adalah anak cucu kita juga. Oleh datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga perbedaan itu tidak satupun disetujui maka pada waktu itu tidak tercapai kata sepakat.
Dengan takdir Allah, maka keluarlah seekor ular dari laut. Ular itu menangkap salah seorang anak datuk Katumangguangan dan dibawanya ke banir kayu jati. Maka gemparlah orang pada masa itu, ninik yang bertiga kehilangan akal karena anak telah di lilit ular.
Bertanya Datuk Katumangguangan kepada ninik yang berdua “apa akal kita untuk mengambil anak itu ?”
Menyahut Datuk Parapatiah Nan Sabatang”Habis budi hamba melihat anak kita itu, jika dibunuh ular itu maka niscaya matilah anak kita. Berkatalah datu Sri Maharaja nan Banaga Naga: “Menurut pendapat hamba, kita ambil ranting jawi-jawi, kita lontarkan kepada banir kayu itu, supaya ular itu lari.”
Maka dibuat orang lah sebagaimana yang dikatakan Datuk Sri Maharaja nan Banaga naga itu, lalu ranting jawi jawi itu dilontarkan orang sekuat kuatnya kepada banir kayu tempat ular tadi. Ular itu terkejut lalu lari meninggalkan anak Datuk Katumangguangan dengan tiada kurang satu apapun.
Dengan kejadian itu Datuk Katumangguangan dan Datuk Parapatiah nan Sabatang bertambah segan kepada datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga karena ketajaman akalnya.
Ular yang dipalut tidak mati
Pamalu tiada patah
Tanah yang dipalu tiada lembang.
Datuk yang berdua menyadari akibat yang timbul apabila mereka terus berbantah bantahan, karena selalu berbeda pendapat dalam menetapkan suatu hukum yang akan dipakai dalam masyarakat.
Mereka sepakat bahwa hukum itu harus di uji dan dibanding, setiap tandingannya dipakai pada tempatnya masing masing.
Adapun hukum yang akan dipakai di luhak nan tiga, laras nan dua terus ke Batang Rantau, ada tiga perkara :
1. Hukum kitabullah
2. Hukum ijtihat
3. hukum serta saksi
Setelah putus mupakat itu, maka menghadaplah ninik yang bertiga itu kepada Daulat yang dipertuan Agung ninik Sri Maharaja diraja untuk menyatakan hukum itu. Sebelum hukum itu diberlakukan ketiga ninik diminta untuk bersumpah bahwa hukum itu akan dipakai terus turun temurun dan tidak boleh diubah ubah selamanya.
Setelah itu berjalanlah Daulat yang dipertuan Agung keluhak dan laras, kesetiap nagari untuk memasyarakatkan hukum yang sudah ditetapkan itu. Ditanam kayu nan sabatang disetiap nagari untuk tempat mempertaruhkan hukum yang adil, syarak yang dilazimkan dan adat yang kawi.
Yang dimaksud kayu nan sabatang itu adalah orang orang sebagai penghulu atau kadhi atau orang orang besar yang akan menghukum didalam tiap tiap nagari, sebagai wakil raja bila raja berhalangan, atau sebagai raja apabila dinagari itu tidak ada raja.
Dengan demikian penghulu yang dijadikan pucuk atau kepala suku, kepala payung dan kadhi didalam suatu nangari, bukan saja sebagai kepala kaumnya masing masing, tetapi berfungsi juga sebagai raja yang akan memegang kata, memegang hukum yang sudah ditetapkan oleh kerapatan penghulu penghulu

X. Pulau Perca disebut Alam Minangkabau.
Kata ahli adat setelah Datuk Katumangguangan dan datuak Parapatiah nan Sabatang mendirikan luhak nan tiga dan membagi laras nan dua yaitu koto Piliang dan Bodi Chaniago.
Kira kira 5 tahun kemudian, datanglah seorang nakhoda dari laut membawa seekor kerbau panjang tanduk serta runcing. Ia menetap di bukit Gombak dan memandikan kerbaunya disungai emas. Perahu nakhoda itu ditambatkan di kaki bukit Patah.
Sewaktu bertemu dengan kedua ninik Datuk Katumangguangan dan Datuk Parapatiah nan Sabatang, ia menantang beliau untuk bertaruh mengadu kerbau, jikalau kalah kerbau kami, miliki oleh datuk segala isi perahu kami.
Tantangan nakhoda itu diterima oleh ninik yang berdua orang besar besar: “Baiklah, tetapi beri janji kami selama tujuh hari.”
Dalam tujuh hari bemupakatlah isi luhak nan tiga laras nan dua, lalu dicari se ekor anak kerbau yang sedang kuat menyusu. Dibuat orang topang besi bercabang sembilan dan runcing ujungnya. Besi serampang itu bernama minang.
Setelah sampai tujuh hari, maka semalam-malam hari yang ketujuh anak kerbau tidak dicampur dengan induknya. Setelah hari pagi, tupang besi tadi dipasang di mulut anak kerbau tadi, lalu dibawa ketengah medan yang sudah dihiasi sebagai tempat pertarungan kedua kedua kerbau itu yakni di balai Sidusun. Semua orang laki perempuan tumpah ruah ke medan itu, begitu juga segala isi perahu dan nakhoda tadi keluar membawa kerbau besarnya itu.
Setelah tiba ditengah medan itu, kedua kerbau itu dilepas orang. Sebentar itu juga anak kerbau yang sudah kelaparan berlari kekerbau besaryang dikiranya sebagai induknya untuk menyusu.
Sekali saja anak kerbau itu menyusu, maka larilah kerbau besar itu, keluar perutnya berjurai jurai, lalu matilah kerbau itu.
Melihat kerbaunya sudah mati, nakhoda tadi pergi ke laut dan pulang ke negerinya. Mungkin karena sangat malunya, sangkar ayam tertinggal ditepi sungai, dekat medan mengadu kerbau tadi. Ditempat itu sekarang ada sebuah kampung bernama kampung “Sangkayan”, yang asalnya dari sangkar ayam nakhoda itu.
Sesudah mengadu kerbau itu bermupakatlah segala orang luhak nan tiga laras nan dua memberi nama pulau perca ini dengan nama alam Minangkabau, sampai sekarang tidak berubah rubah.

Cateri Reno sudah, menerka kayu tataran naga pihak.
Menurut bunyi Tambo alam minangkabau, tidak berapa lama setelah mengadu kerbau tadi nakhoda itu kembali lagi dengan membawa kayu tataran naga pihak, dimana ujung dan pangkalnya sama besar, sulit ditebak mana ujung mana pangkalnya.
Dia pun menetapkan bukit gombak, lalu ia masuk kedalam nagari Lima Kaum dan bertemu dengan datu Suri Diraja.
Ia mengajak datuk Suri di Raja berteka teki dengan taruhan limapuluh kati emas. Oleh datuk Suri diraja teka teki itu diterima dengan syarat harus dilaksanakan ditengah medan.
Lalu datuk Suri Diraja menghimpun segala orang yang patut patut, ia pun berkata ” Timbang olehmu akan kayu itu ditengahnya. Mana yang berat itulah pangkalnya dan yang ringan itulah ujungnya”.
Setelah sampai waktunya, maka berdatanganlah segala orang besar besar dan patut patut ke medan yang baik itu, yaitu Dusun Tua namanya. Begitu juga segala isi nagari laki laki perempuan datang bersama sama ke medan itu. Setelah cukup semuanya, bertanya Cateri Reno kepada nakhoda itu :
“Apa maksud tuan datang kemari ?”
Sahut nakhoda itu :
“Kami sengaja datang kemari karena kami dengar disini banyak orang cerdik pandai. Segala orang itulah yang hendak kami jelang. Jika Datuk suka, cobalah datuk terka akan kayu kami ini, mana ujung dan mana pangkalnya.” Sambil mengeluarkan kayu yangia bawa.
“Apabila terterka oleh kami, apa yang akan menjadi hukumnya?” tanya Cateri Reno.
Dijawab oleh nakhoda “Miliki oleh Datuk segala isi perahu kami.”
Setelah taruhan ditampin, maka kayu tataran naga pihak itu diambil oleh Cateri Reno sudah. Tepat ditengah tengah kayu itu di ikatnya dengan tali yang halus dan kuat. Setelah itu ujung tali pengikat itu diangkatnya keatas, kelihatan oleh orang banyak kayu itu berat sebelah. Lalu diterkalah oleh Cateri Reno menunjukkan kepada nakhoda itu, katanya “yang berat itu adalah pangkalnya dan yang ringan adalh ujung kayu itu.”
Nakhoda itu sangat malu atas kekalahannya ini ditinggalkan segala taruhan tadi dan iapun kembali kelaut pulang ke negerinya. Sungai Mas tempat ia menambatkan perahunya diberi nama Kepala Padang Ganting.
Sepeninggal nakhoda tadi, taruhan tadi dibagi oleh orang luhak nan tiga laras nan dua, sebagian kepariangan Padang Panjang, dan sebagian lagi dibagi tiga, sebagian tinggal di lima kaum, sebagian di Sungai Tarab dan sebagian lagi untuk Tanjung Sungayang.

Cateri Reno Sudah Menerka Dua Ekor Burung Yang Serupa
Tidak puas dengan kekalahannya itu, nakhoda kapal balik lagi ke pulau perca dengan membawa dua ekor burung, satu jantan dan lainnya betina. Kedua ekor itu sama rupa bulunya, sama besarnya dan bunyinya pun serupa.
Nakhoda menetap di nagari Tanjung Sungayang dan perahunya ditanbatkannya di Pangkal Bumi disitu pula bertemu kembali dengan Cateri Reno Sudah. Pada kesempatan itu ia kembali mengajak berteka teki.
Cateri Reno Sudah menanyakan apa lagi yang akan diterkanya, dan dijawab oleh nakhoda itu yaitu menerka kedua ekor burung yang dibawanya.
Ada dua ekor burung yang sama rupa dan bangunnya. Terkalah oleh Datuk mana yang jantan dan mana yang betina.”
Menyahut Cateri Reno Sudah : “Kalau begitu kata tuan , teka teki ini kami terima, tetapi harus dilakukan ditengah medan agar dapat disaksikan oleh orang banyak.
Syarat itu diterima oleh nakhoda tadi dan merekapun menetapkan perjanjian kapan teka teki itu dilaksanakan. Sementara itu pergilah orang besar besar dan patut patut menghadap kepada Datuk Suri Diraja dan menceritakan hal itu. Datuk Suri Diraja berkata :
” Beri makan kedua burung itu pada satu tempat, mana yang cepat makannya dan kuat, tandanya burung jantan, sedangkan yang lemah adalah burung betina.”
Setelah tiba waktunya, maka berhinpunlah segala orang di medan yang sudah dihiasi yaitu balai gadang namanya terletak diantara Tanjung dan Sungayang. Setelah itu bertanya lagi Cateri Reno Sudah kepada Nakhoda tadi: Apakah kehendak tuan datang ke negeri kami ini?”
Sahut nakhoda itu: Saya membawa dua ekor burung, cobalah terka oleh datuk mana yang burung jantan mana yang betina”
Setelah itu Cateri Reno Sudah mengambil kedua burung itu, lalu diberinya makan pada suatu tempat yang sempit.
Kedua burung itupun berebut makan sampai berdesak desakan, edar mengedar dan tendang menendang. Tidak lama setelah itu terlihat salah satu keletihan, dan oleh Cateri Reno Sudah ditunjuknya sebagai burung betina dan yang masih kuat ditunjuk sebagai burung Jantan.
Maka kalahlah nakhoda itu sehingga tiada termakan nasi olehnya, setelah itudiambilnya kedua burung tadi, lalu dikurungnya dan dibawanya kembali ke dalam perahunya. Dari sana ia bertolak dan perahu itu ditinggalkan ditepi bukit, dan dia dengan segala anak buahnya pergi menuju ke kampung Minangkabau yaitu kekaki bukit batu patah.
Disana mereka bersumpah untuk tidak kembali lagi ke pulau perca ini, karena orang disini banyak yang pintar cerdik pandai. Setelah itu ia pulang kenegerinya dan tidak pernah muncul lagi ke alam Minangkabau.

XI. Adityawarman Datang ke Pulau Perca
Menurut kata ahli adat, pada masa itu datang orang berlayar dari laut menepat ke nagari Pariangan Padang Panjang, lalu ke galundi nan bersela sela dan bertemu dengan datuk yang bertiga yakni Datuk Katumangguangan, datuak Parapatiah nan Sabatang dan Datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga. Orang yang datang itu dimuliakan oleh datuk yang bertiga itu dengan patutnya.
Mereka datang beramai ramai dalam satu kapal lengkap dengan hamba sahayanya (bangsa sekawak), yang menjadi orangsuruhan oleh kepala kapal itu, bernama Adityawarman bergelar Sri Paduka Berhala.
Disaat itu timbul perbantahan diantara ninik yang bertiga mengenai Adityawarman. Datuak Katumangguangan mengatakan bahwa dia adalah Raja, sedangkan menurut Datuk Parapatiah nan Sabatang orang itu bukan raja melainkan manti saja, dan menurut Datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga orang itu hanya seorang utusan raja.
Akhirnya datuk yang berdua menurut kepada apa yang dikatakan Datuk Katumangguangan karena beliau berniat akan mengambil orang itu sebagai semendanya, akan suami dari adiknya yang bernama Tuan Putri Reno Mandi.
Rencana Datuk Katumangguangan itu diterima oleh Adityawarman, hingga bulatlah perundingan masa itu dikawinkanlah Adityawarman dengan Tuan Putri Reno Mandi menurut sepanjang adat yang patut.
Semenjak itu Adityawarman yang bergelar Sri PadukaBerhala itu dianggap oleh orang Pariangan Padang Panjang seperti rajanya. Sungguhpun ia datang dari tanah jawa, tetapi asal usulnya ia datang dari hindustan, keturunan raja juga. Dia dan teman temannya itu berdiam di Pariangan Padang Panjang menurut adat lembaga orang dalam nagari itu, menetap selamanya sebagai bumi putera disana.
Kelak anak cucu Adityawarman yang menjawat waris Datuk Katumangguangan, Datuk Parapatiah nan Sabatang, Datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga dan Datuk Suri Diraja.
Menurut Tambo adat alam Minangkabau, asal orang Minangkabau yang telah berkembang biak diseluruh pulau andalas (tanah Alam Minangkabau) itu ialah :
Pertama sekali yang datang adalah Ninik Sri Maharaja Diraja, dengan menbawa orang Kasta Cateri menepat diatas puncak gunung merapi, semasa alun baralun bumi akan bersentak turun. Langit akan bersentak naik. Pada masa baru laut semata mata tanah pulau andalas ini, yang ada baru puncak gunung merapi yang ada tanah daratannya. Keturunan bangsa Cateri ini yang terbilang cerdik pandai. Mereka suka berkelompok sesama kasta Cateri.
Selanjutnya datang bangsa Hindustan yang datang bersama Adityawarman. Kesukaannya berkumpul sehindu hindu atau sesama bangsa hindustan saja. Termasuk juga bangsa sekawak yang ikut dengan rombongan Adityawarman, yang menjadi orang hamba sahaya. Bangsa sekawak ini semenjak datang jadi hamba sahaya orang turun temurun yang disebut juga budak, atau istilah adatnya kemenakan bawah lutut dari tuannya.
Mereka dapat diperjual belikan, dijadikan hadiah dan persembahan kepada orang besar besar, untuk pembayar hutang.
Dikatakan bangsa kasta Cateri tadi adalah asal raja raja dan orang cerdik pandai, dan orang orang bangsa hindustan itu bangsa penghulu besar batuah di dalam tiap tiap nagari. Pada saat itu kedua keturunan itu tidak dapat lagi dibedakan karena sudah lama bercampur baur menjadi satu.
Kedua keturunan ini sudah tarik menarik, semenda menyemenda dan sama sama berpenghulu kedua belah pihak, yang adatnya tiada berkurang sedikit juga.
Kedua bangsa itulah yang dikatakan orang baik turun temurun diseluruh minagkabau ini, yang teratur adat lembaganya oleh ninik yang bertiga.

XII. Amanat Ninik Yang Bertiga
Amanat Datuk Suri Diraja
Berkata Datuk Suri Diraja kepada segenap pwnghulu dan orang orang patut di Pariangan Padang Panjang
Dengarlah ibarat kata hamba oleh segala penghulu dan orang yang mempunyai bicara:


Sutan Kayo di Koto alam
Kayu mati diperumahannya
Jika engkau kaya didalam alam
Akan mati juga kesudahannya
Berbuak kayu di Koto Alam
Buahnya tindih bertindih
Jika engkau bertuah didalam alam
Hanya tuah itu silih berganti
Kayu Pantai di Koto Alam
Pantainya sandi basandi
Jika engkau pandai didalam alam
Patah tumbuh hilang berganti.


Pikirkanlah sungguh sungguh oleh segala yang mempunyai bicara akan ibarat kata hamba itu.
Selanjutnya disaat Datuk Suri Diraja akan meninggal beliau berkata kepada segala raja raja dan segala penghulu dari laras koto piliang dan laras bodi chaniago :
“Adapun kita segala yang disungkup langit, yang ditanahi bumi lalu ke mekah dan medinah sekalian, sedikitpun tiada yang lebih dan kurangnya. Jika dikatakan lebih ada kekurangannya, dikatakan kurang ada kelebihannya, dikatakan tinggi ada rendahnya dikatakan rendah ada tingginya.
Jika dikatakan raja lebih tinggi dan orang besar besar itu ada kelebihannya, terlalu rendah pada bathinnya karena barang siapa yang hendak menjadi raja atau orang besar besar itu, hanya mengisi adat menuang lembaga kepada alam, kepada setiap luhak atau laras atau nagari, itulah rendahnya. Oleh sebab itu janganlah engkau berdengki dengkian, karena malu belum dibagi oleh ninik Datuk Katumangguangan dan Datuk Parapatiah nan Sabatang.
Meskipunsawah ladang, emas perak, segala ternak dan pakaian juga dibagi, demikian pula didalam laras Koto Piliang dan Bodi chaniago, jika tanah sudah berkabung, padi sudah bergantang, jarum sudah terbentuk seorang, hanya malu yang belum dibagi.
Oleh sebab itu janganlah engkau bercerai berai sepeninggal kami. Payung yang mempunyai kerajaan adalah Datuk Katumangguangan. Jika berang laras Bodi Caniago kepada larasnya, mengadunya ke laras Koto Piliang, begitu pula sebaliknya, itulah sumpah ninik moyang berdua, yang tiada lapuk oleh hujan tiada lekang oleh panas, digali dalam digantung tinggi, itulah mulanya jadi persemandanan laras Koto Piliang dan laras Bodi chaniago.
Bagi laras Bodi Chaniago, penghulunya oleh yang sekata, tuahnya karena mupakat, celakanya oleh bersilang, apabiladapat kerja semupakat, jadilah barang kerjanya, barang ke mana mana, maksudnyapun sampai.
Adapun laras Koto Piliang orang beraja: apabila hendak menyusun larasnya berkirim surat kepada Datuk Pamuncak Alam di Sungai Tarab, Datuk Indomo di Saruaso dan tuan Khadi di Padang Ganting diatas daulat yang dipertuan. Maka barang apa apa kerjanya pun jadi berkat pekerjaannya.


Pamuncak alam di Sungai Tarab
Payung panji di Saruaso
Suluah bendang di Padang Ganting
Cermin cina di Singkarak Saningbakar
Harimau Campo di Batipuah
Tangkai alam di Pariangan Padang Panjang
Pasak kungkung di Sungai Jambu
Raja besar di Bukit Batu Patah


Jika berkata dengan orang yang tahu, lebih bak santan dengan tanguli, dan berkata dengan orang yang tidak tahu, lebih bak antan pencungkil duri. Oleh sebab itu baik baiklah engkau mencari salak silik, baik baiklah engkau mencari kata pusaka, supaya selamat kamu dialam ini.

Amanat datuak Katumangguangan
Disampaikan saat beliau akan meninggal dunia didepan segala penghulu dan orang orang besar dalam laras Koto Piliang:
Sekali kali hindarkan perceraian dengan orang laras bodi Chaniago, karena merekalah yang mengisi cukai adat lembaga kepada kita. Merekalah yang mendirikan kerajaan kita, dan kalau dihiasinya akan tempat kita duduk. Payung ubur ubur itu milik orang laras Bodi chaniago, maka dari itu janganlah kamu bercerai sepeninggal kami berdua.
baik baiklah engkau memelihara isi alam, isi nagari, segala anak kemenakan, pikir benar sungguh sungguh supaya kalian jangan kena sumpah ninik moyang.
berbuatlah seperti lauttiada penuh oleh air, seperti bumi tiada penuh oleh tumbuh tumbuhan. Apabila kalian jadi penghulu dalam laras Koto Piliang janganlah memakan menghabiskan, jangan menebang merebahkan, jangan mencencang memutuskan, karena bicara tiada sekali dapat.
Jadikan nabi Allah jadi suri teladan. Kasih kalian kepada isi alam sebagai kasih nabi kepada umatnya. Hati adalah palinggam Allah, teraju palinggam mata, sebab itu peliharalah lidahmu dengan baik, begitu pula kaki dan mulutmu. Jika tertarung panyambahan badan tanggungannya, mulut emas padahannya, tertarung kaki inai padahannya.
Memutih padi orangdi Kamang, melekang panas sehari, berbelok belok alang samat, ranting berbelok kepangkalnya.
berdentung gegar dilaut, merentang rupanya kilat, kalang kambut rupanya langit, berputar rupanya angin timur.
pikir jualah sungguh sungguh, lemak liuk kayu akar kelimpang, itulah patut bicara.”
Datuk Katumangguangan meninggal di koto Ranah yakni di Kampung Minangkabau sampai sekarang kuburan beliau masih ada disana dikenal dengan kubur yang dipertuan yang bersusu empat.

anat Datuak Parapatiah Nan Sabatang
Pesan ini disampaikan kepada penghulu yang berempat dan yang berlima sekota, serta orang orang cerdik pandai dan orang orang bertuah dalam laras Bodi Caniago, beliau berkata:
“Rasanya umurnya hamba tidak akan lama lagi, hamba hendak pergi ke Solok Selayo, entah kembali entah tidak, oleh sebab itu hendaklah pegang pitaruh hamba oleh segala penghulu dan orang cerdik pandai :
Pertama hendaklah kalian kasih kepada nagari, kepada isi nagari, kepada orang orang kaya, kepada orang orang bertuan, kepada tukang, kepadan segala penghulu, kepada orang yang mempunyai bicara meskipun ia kanak kanak sekalipun.
Apabila dia mempunyai bicara, ikuti olehmu karena ia itulah tangkai nagari dan tangkai alam janganlah kalian ubahi sepeninggal hamba supaya selamat apa apa yang kalian kerjakan.
Malu orang kepada kalian yang mempunyai bicara ada enam perkara :


1. Kuat melawan kepada yang benar.
2. Kuat membelanjakan kepada segala yang baik.
3. Memperbaiki parit pagar keliling nagari
4. Kuat mengusahakan pekerjaan
5. Tahu kepada yang benar
6. Kuat menyelesaikan yang kusut dalam nagari dantahu dengan basa basi.

Apabila terpakai niscaya jadilah kalian panglimabesar dalam nagari, menjadi ikutan segala isi alam dan luhak, dan kalian lah penghulu pilihan dalam alam ini.
Kata empat yang dipakai :


1. Janganlah berdengki dengkian
2. Jangan hina menghinakan
3. Jangan bertolong tolongan kepada maksiat
4. Jangan menghasut orang dalam nagari untuk berkelahi.

Jagalah dua belas perkara yang akan dipakai :


1. Kuat memberi makan isi nagari
2. Benci kepada segala kejahatan
3. Banyak harta
4. Banyak ilmu pengetahuan yang baik
5. Berhati baik kepada orang banyak
6. Giat berusaha
7. menerima umpat puji dengan lapang dada
8. Kasih sayang kepada orang teraniaya
9. Pandai berbicara
10. Pasihat lidah
11. Tahu kepada yang benar
12. Ingat ingat pada kata kias

Setelah beramanat itu Datruak Parapatiah Nan Sabatang berjalan ke negeri Malaka, berdiam dinegeri Sembilan dan beliau meninggal di Negeri Sembilan itu. Sepanjang cerita orang kuburan beliau masih ada disana yang oleh orang Negeri Sembilan dinamakan Kuburan Patih.
Masyarakat di negeri sembilan itu beradat seperti kita orang alam Minangkabau juga, berpusaka kepada kemenangan menurut aturan Ninik Parapatiah nan Sabatang.

Disadur oleh : Dewis Natra
Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi

Sumber : www.cimbuak.net

“Ayam Gadang” Minangkabau




“Tiok Lasuang ba Ayam Gadang”, begitu bunyi satu ungkapan Minangkabau lama. Dalam konteks ini, maksudnya adalah bahwa setiap etnis melahirkan beberapa orang yang kesohor di tingkat nasional maupun internasional. Dan Minangkabau jangan ditanya lagi tentang itu. Mengenai hal itu Jeffrey Hadler dalam bukunya Muslim and Matriarchs : Cultural Resilience in Indonesia through Jihad and Colonialism (2008) menulis : “Peta jalan kota mana pun di Indonesia pastilah berisi jalan-jalan raya dengan nama Haji Agus Salim (lahir 1884), negarawan dan menteri luar negeri ; Mohammad Hatta (lahir 1902), wakil presiden pertama; Muhammad Yamin (lahir 1903), filsuf nasionalis; Muhammad Natsir (lahir 1908), politikus Islam; Hamka (lahir 1908), ulama ; Sutan Sjahrir (lahir 1909), sosialis dan perdana menteri pertama; Rasuna Said (lahir 1910), pemimpin revolusioner dan politikus; dan, bila sensor Soeharto lalai, Tan Malaka (lahir 1896), filsuf revolusioner komunis. 
Rakyat Minangkabau sangat bangga akan pemimpin-pemimpin generasi pertama ini beserta sejumlah besar politikus, ulama, dan cerdik cendekia Minangkabau yang kurang terkenal tapi yang juga punya peran penting dalam sejarah Indonesia.” Orang Minangkabau, yang pada tahun 1930-an hanya berjumlah 3.36 persen (sekitar satu juta jiwa) dari total penduduk Hindia Belanda, begitu mendominasi sejarah nasional. Mereka memainkan peran utama dalam pergerakan nasionalis dan pergerakan Islam, dan merekalah pemberi warna dunia sastra dan budaya Indonesia.

Kami suguhi foto tiga orang ‘ayam gadang’ Minangkabau, benih-benih terbaik dari ranah matrilineal terbesar di dunia ini, yang telah berjasa besar terhadap Republik Indonesia. Mereka adalah (dari kanan ke kiri): Haji Agus Salim, Sutan Sjahrir, dan Muhammad Hatta. Sedangkan Amir Sjarifuddin (pakai dasi), yang berdiri paling kiri, berdarah Batak (lihat: Jacques Leclerc, Amir Sjarifuddin; Antara Negara dan Revolusi, 1996). Cukup unik bahwa ketiga ‘ayam gadang’ Minangkabau itu sama-sama memakai jas panjang ala Eropa. Mungkin Bukittinggi pada waktu itu cukup sejuk seperti suhu pada musim gugur di Eropa. Konteks historis foto ini adalah tahun 1948, waktu Belanda melakukan aksi polisionil terhadap Republik Indonesia yang masih bayi. Pada tanggal 9 Januari 1948 Sutan Sjahrir (penasihat Presiden Soekarno) tiba kembali di Jakarta setelah mengunjungi sejumlah negara selama enam bulan. Bersama Haji Agus Salim (Menteri Luar Negeri) dan Amir Sjarifuddin (Perdana Menteri) ia berangkat ke Bukittinggi (ibukota Republik Indonesia di Sumatra). Di sana mereka bertiga berjumpa dengan Muhammad Hatta yang telah berkeliling Sumatra dan berkunjung ke India. Amir Sjarifuddin berkunjung ke Sumatra Barat untuk menjemput Wakil Presiden Muhammad Hatta karena ia memerlukan dukungan Hatta untuk merampungkan persetujuan Renville yang sedang dalam perundingan.
H. Agus Salim, Hatta dan Sjahrir, tiga putra Minangkabau terbaik, dikenang karena kesederhanaan mereka. Sejarah telah mencatat bahwa mereka tak ragu-ragu meninggalkan kekuasaan bila gerak gerik kekuasaan itu sendiri sudah tidak sesuai lagi dengan hati nurani mereka. Mereka tak lena oleh uang berkebat, apalagi yang berbentuk ‘komisi’ ini dan itu yang diserahkan dalam bentuk amplop yang disuruk-surukkan. Mereka adalah teladan dan ‘cermin terus’ yang dilupakan oleh kebanyakan politikus negeri ini sekarang. Duhai, di manakah orang-orang seperti mereka dapat dicari dalam ranah politik Indonesia kini, yang sudah ‘kelam’ oleh celaga korupsi dan makin carut-marut tak berkeruncingan.


(Sumber foto: H Rosihan Anwar, Sutan Sjahrir; Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan,1909-1966. Jakarta & Leiden: Kompas & KITLV Press, 2010: 110).

Selasa, 31 Mei 2011

Bahasa Minangkabau

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Bahasa Minangkabau atau Baso Minang adalah salah satu anak cabang bahasa Austronesia yang dituturkan khususnya di wilayah Sumatera Barat, bagian barat propinsi Riau serta tersebar di berbagai kota di seluruh Indonesia.

Terdapat pertentangan mengenai hubungan bahasa Minangkabau dengan bahasa Melayu. Sebagian pakar bahasa menganggap bahasa ini sebagai dialek Melayu, karena banyaknya kesamaan kosakata dan bentuk tuturan di dalamnya, sementara yang lain justru beranggapan bahasa ini merupakan bahasa mandiri yang berbeda dengan Melayu.

Daerah sebar tutur

Secara historis, daerah sebar tutur Bahasa Minangkabau meliputi bekas wilayah kekuasaan Kerajaan Pagaruyung yang berpusat di Batusangkar, Sumatera Barat. Batas-batasnya biasa dinyatakan dalam ungkapan Minang berikut ini:

Dari Sikilang Aia Bangih
hingga Taratak Aia Hitam.
Dari Durian Ditakuak Rajo
hingga Sialang Balantak Basi.

Sikilang Aia Bangih adalah batas utara, sekarang di daerah Pasaman Barat, berbatasan dengan Natal, Sumatera Utara. Taratak Aia Hitam adalah daerah Bengkulu. Durian Ditakuak Rajo adalah wilayah di Kabupaten Bungo, Jambi. Yang terakhir, Sialang Balantak Basi adalah wilayah di Rantau Barangin, Kabupaten Kampar, Riau sekarang.

Bahasa Minangkabau juga menjadi bahasa lingua franca di kawasan pantai barat Sumatra Utara, bahkan menjangkau jauh hingga pesisir barat Aceh. Di Aceh, penutur bahasa ini disebut sebagai Aneuk Jamee. Selain itu, bahasa Minangkabau juga dituturkan oleh masyarakat Negeri Sembilan, Malaysia yang nenek moyangnya merupakan pendatang asal ranah Minang sejak berabad-abad silam.

Dialek

Dialek bahasa Minangkabau sangat bervariasi, bahkan antarkampung yang dipisahkan oleh sungai sekali pun dapat mempunyai dialek yang berbeda. Perbedaan terbesar adalah dialek yang dituturkan di kawasan Pesisir Selatan dan dialek di wilayah Mukomuko, Bengkulu.
Selain itu dialek bahasa Minangkabau juga dituturkan di Negeri Sembilan, Malaysia dan yang disebut sebagai Aneuk Jamee di Aceh, terutama di wilayah Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan. Berikut ini adalah perbandingan perbedaan antara beberapa dialek:

Bahasa Indonesia/ Bahasa Melayu : Apa katanya kepadamu?
Bahasa Minangkabau "baku" : A keceknyo jo kau?
Mandahiling Kuti Anyie : Apo kecek o kö gau?
Padang Panjang : Apo keceknyo ka kau?
Pariaman : A kato e bakeh kau?
Luda i : A kecek o ka rau?
Sungai Batang : Ea janyo ke kau?
Kurai : A jano kale gau?
Kuranji : Apo kecek e ka kau?
Salimpaung Batusangkar : Poh ceknyoh kah khau duh?
Rao-Rao Batusangkar : Aa keceknyo ka awu tu?


Untuk komunikasi antar penutur bahasa Minangkabau yang sedemikian beragam ini, akhirnya dipergunakanlah dialek Padang sebagai bahasa baku Minangkabau atau disebut Baso Padang atau Baso Urang Awak. Bahasa Minangkabau dialek Padang inilah yang menjadi acuan baku (standar) dalam menguasai bahasa Minangkabau.[rujukan?]

Contoh

Bahasa Minangkabau: Sadang kayu di rimbo tak samo tinggi, kok kunun manusia (peribahasa)
Bahasa Indonesia: Sedangkan pohon di hutan tidak sama tinggi, apa lagi manusia

Bahasa Minangkabau: Co a koncek baranang co itu inyo (peribahasa)
Bahasa Indonesia: Bagaimana katak berenang, seperti itulah dia.

Bahasa Minangkabau: Indak buliah mambuang sarok di siko!
Bahasa Indonesia: Tidak boleh membuang sampah di sini!

Bahasa Minangkabau: Bungo indak satangkai, kumbang indak sa ikua (peribahasa)
Bahasa Indonesia: Bunga tidak setangkai, kumbang tidak seekor

Bahasa Minangkabau: A tu nan ka karajo ang* ?
Bahasa Indonesia: Apa yang akan kamu kerjakan?
* perhatian: kata ang (kamu) adalah kata kasar

Karya sastra

Karya sastra tradisional berbahasa Minang memiliki persamaan bentuk dengan karya sastra tradisional berbahasa Melayu pada umumnya, yaitu berbentuk pantun, cerita rakyat, hikayat nenek moyang (tambo) dan adat-istiadat Minangkabau. Penyampaiannya biasanya dilakukan dalam bentuk cerita (kaba) atau dinyanyikan (dendang).

Perbandingan dengan Bahasa Melayu/Indonesia

Orang Minangkabau umumnya berpendapat banyak persamaan antara Bahasa Minangkabau dengan Bahasa Melayu/Indonesia. M. Rusli dalam Peladjaran Bahasa Minangkabau menyebutkan pada pokoknya perbedaan antara Bahasa Minangkabau dan Bahasa Indonesia adalah pada perbedaan lafal, selain perbedaan beberapa kata.
Contoh-contoh perbedaan lafal Bahasa Melayu/Indonesia dan Bahasa Minangkabau adalah sebagai berikut:
• ut-uik, contoh: rumput-rumpuik
• us-uih, contoh: putus -putuih
• at-ek, contoh: rapat-rapek. Untuk kata-kata berasal dari bahasa asing at-aik, contoh: adat-adaik
• al/ar-a, contoh: jual-jua, kabar-kaba
• e(pepet)-a, contoh: beban-baban
• a-o, contoh: kuda-kudo
• awalan ter-, ber-, per- menjadi ta-, ba-, pa-. Contoh: berlari, termakan, perdalam (Bahasa Melayu/Indonesia) menjadi balari, tamakan, padalam (Bahasa Minangkabau) [1]

Catatan
1. Edwar Djamaris, Beberapa masalah dalam penerjemahan naskah Sastra Minangkabau

Referensi
• Tata Bahasa Minangkabau, Gerard Moussay
(Judul asli: La Langue Minangkabau, diterjemahkan dari bahasa Perancis oleh Rahayu S. Hidayat), ISBN 979-9023-16-5.